Home »

Opini

Opini

Memaknai Akreditasi Rumah Sakit

RUMAH Sakit adalah tempat yang dituju untuk memenuhi harapan kesembuhan setiap warga masyarakat

Memaknai Akreditasi Rumah Sakit
RSUZA 

Oleh Rita Khathir

RUMAH Sakit adalah tempat yang dituju untuk memenuhi harapan kesembuhan setiap warga masyarakat. Menurut Undang-undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang mencakup rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat. Lebih tegas dalam Bab 2 Pasal 2 disebutkan bahwa asasnya adalah pancasila, nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial.

Perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit yang semakin membaik adalah kebanggaan kita semua, apalagi ketika rumah sakit kita meraih akreditasi terbaik yaitu A, yang seharusnya mencerminkan kualitas pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit kepada warga. Sistem akreditasi ini dilakukan dengan audit per tiga tahun pelaksanaan, sehingga sudah semestinya semangat meningkatkan mutu pelayanan dalam segala aspek harus terus dipertahankan supaya nilai akreditasi tidak turun di periode berikutnya. Terlebih lagi jika kita ingin mengalihkan animo masyarakat untuk berobat ke negeri jiran yang ternyata menyebabkan sekitar 300 milyar dana mengalir kesana per tahunnya (Apa yang Salah dengan RSUZA?, Serambi, 3/3/2014).

Menjadi bahan masukan
Berdasarkan pengamatan di lapangan, berikut saya hanya bermaksud memaparkan beberapa hal yang mudah-mudahan dapat menjadi bahan masukan bagi pengelola rumah sakit kita dalam mempertahankan mutu pelayanannya. Misalnya pada loket pendaftaran (registration desk), petugas pernah didapati melakukan kesalahan dalam meng-input data pasien bayi dengan memberikan data jenis kelamin dan umur si bapaknya. Kesalahan meng-input data tersebut dapat berakibat fatal bagi pasien apabila bermuara pada kesalahan diagnosa dan terapi.

Kondisi di instalasi gawat darurat (IGD) sangat tidak nyaman ketika petugas berbicara dengan suara besar dan bahkan diselingi tawa canda. Hal ini berdampak kepada psikologi pasien yang sedang menanggung rasa sakit. Seharusnya seluruh petugas memperhatikan kondisi ini dan bahkan ketika dokter dan tim melakukan pemeriksaan kepada pasien, mereka harus tetap menjaga etika sesuai dengan amanat UU.

Privasi pasien perlu diperhatikan dengan menanyakan apakah mereka bersedia diperiksa di hadapan para dokter muda (koas). Misalnya seorang pasien yang mengalami keguguran kandungannya sudah tentu sangat terpukul ketika dokter spesialis menjelaskan dengan detail keadaan rahimnya kepada 10 orang koas tanpa izin. Proses pendidikan tenaga dokter bukan berarti tidak dapat dilakukan, hanya metodenya perlu diatur sedemikian rupa. Sehingga memberikan kenyamanan bagi semua pihak misalnya dokter senior dapat memberikan penjelasan di luar ruangan setelah melakukan observasi terhadap pasien.

Tidak boleh ada intervensi pihak petugas terhadap pasien dalam mengambil keputusan untuk pelaksanaan tindakan operasi. Apabila keluarga pasien didatangi beramai-ramai oleh tim bedah untuk menjelaskan tentang rencana tindakan operasi tersebut di depan pasien, pasien lain pun di sekitarnya ikut merasa tertekan. Dalam hal pasien masih anak-anak, sudah tentu menyebabkan timbulnya rasa takut mendalam, sehingga dia akan menangis meminta agar dirinya tidak dioperasi. Semestinya hal ini dapat dilakukan dengan privasi, di mana keluarga penanggung jawab pasien dapat dipanggil ke ruang konsul untuk mendiskusikan tindakan medis lanjutan.

Jumlah toilet yang ada juga sangat minim. Misalnya di IGD dengan 36 kamar tidur hanya disediakan 2 kamar mandi/toilet. Sementara itu terdapat 3 kamar mandi khusus pegawai, di mana dipisahkan antara toilet untuk pegawai pria dan wanita. Apabila semua kamar mandi dibuka untuk umum, maka akan terdapat 5 kamar mandi di IGD, dan untuk meningkatkan kenyamanan semua pihak baik pegawai maupun pasien dan keluarganya. Pengelola dapat menambahkan cleaning service khusus kamar mandi IGD, sehingga kelayakan kamar mandi tidak perlu dikhawatirkan.

Kepada pasien dan keluarga yang merawat juga perlu diberikan pengarahan dengan beretika tentang tata cara menggunakan kamar mandi, sehingga semua sarana dapat dirawat dengan baik. Untuk mempertahankan kebersihan tidak perlu pula ada diskriminasi penggunaan sandal/sepatu antara pegawai/dokter dan pasien.

Metode penetapan tarif
Selanjutnya mengenai metode penetapan tarif kamar VIP per paket. Misalnya paket A untuk perawatan selama 4 hari dihargai sebesar Rp 10 juta. Apabila pasien hanya cukup dirawat 2 hari, pembayaran harus dilakukan penuh per paket tersebut. Hal ini juga jauh sekali dari fungsi sosial yang diamanatkan UU. Sedangkan kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang ingin berlama-lama dirawat inap di rumah sakit. Dan, apa hukumnya dana yang diterima oleh rumah sakit ketika pasien dirawat kurang dari hari dalam paket yang ditetapkan tersebut?

Sering pula terjadi ketika pasien masuk dia harus dirawat selama 1 atau 2 hari di kamar yang lebih rendah kelasnya dari penanggungan asuransi kesehatan (misalnya kelas 2) karena tidak ada kamar kosong, lalu pada hari ketiga baru dapat dipindahkan ke kamar yang sesuai kelasnya (misalnya naik ke kelas 1), dalam hal ini kemudian penagihan yang dilakukan oleh rumah sakit kepada BPJS adalah tidak sesuai dengan realita peroleh layanan kesehatan, di mana penagihan dilakukan untuk tiga hari di kelas 1.

Sekali lagi, lalu apa hukumnya dana yang diterima oleh rumah sakit tersebut? Bagaimana pula kemanusiaan dan keadilannya ketika kamar VIP kosong tanpa pasien, sementara di IGD puluhan pasien menunggu jatah kamar sampai harus menanggung bermalam di IGD selama 3 hari?

Mimpi semua kita semuan adalah lahirnya rumah sakit dengan tingkat pelayanan prima, sehingga masyarakat tidak perlu “dikasta-kastakan” dalam kelompok yang berbeda. Pelayanan yang sama baiknya, sehingga setiap pasien akan cepat sembuhnya. Animo masyarakat untuk berobat pun meningkat, karena kualitas yang tidak berbeda dengan rumah sakit di Penang, Malaysia.

Peningkatan kualitas pelayanan seharusnya menjadi target dari rumah sakit kita saat ini. Salah satunya adalah dengan memberikan rasa kenyamanan dan keamanan kepada pasien. Hal ini dapat dimulai dengan hal murah tanpa biaya, yaitu dengan memperbaiki sikap dan meningkatkan empati kepada pasien. Semoga!

Rita Khathir, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: rkhathir79@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help