Dilarang Tangkap Kepiting Bertelur

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) dan Keamanan

Dilarang Tangkap Kepiting Bertelur
Pekerja memanen kepiting bakau di areal tambak kawasan Syiah Kuala, Banda Aceh. 

BAND ACEH - Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) dan Keamanan Hasil Perikanan Provinsi Aceh kembali melakukan pelarangan penangkapan dan atau melalulintaskan kepiting bertelur terhitung 6 Februari 2018.

Pelarangan ini berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/Permen-KP/2016.

Pada pasal 3 poin b peraturan tersebut disebutkan bahwa pelarangan penangkapan dan atau pengeluaran pada 6 Februari sampai 14 Desember dalam kondisi tidak bertelur dengan ukuran lebar karapas di atas 15 dan atau berat di atas 200 gram per ekor.

Kepala BKIPM Aceh, M. Darwin Syah Putra mengatakan, mulai hari Selasa (6/2/2018), aturan terkait larangan pengiriman/penangkapan kepiting bertelur diberlakukan kembali. Seluruh petugas, baik yang di lapangan maupun di pelayanan sertifikasi siap menjalankan kebijakan ini.

“Jika masih ada pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha atau pengguna jasa, kami akan menindak tegas sesuai dengan aturan yang berlaku, karena sosialisasi sudah dilakukan sejak 2015, “ katanya.

Lebih lanjut Kasie Wasdalin Hudaibiya Al Faruqie menambahkan, bagi pengusaha kepiting agar mengacu kepada No. 67/KEP-BKIPM/2016 tentang Pedoman pemeriksaan/identifikasi jenis ikan dilarang terbatas (Kepiting Bakau/Scylla spp.) untuk penetapan standar kepiting yang akan diperjualbelikan keluar. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi kerancuan saat pemeriksaan karena petugas karantina berpedoman kepada aturan tersebut untuk menentukan bahwa kepiting dinyatakan bertelur atau tidak, yaitu ketika memasuki tingkat kematangan gonad.

Perkembangan gonad juga dapat diamati dari luar, dengan memperhatikan kondisi perkembangan gonad (betina) dan melihat morfologis abdomen bagian belakang. Untuk menentukan tingkat perkembanagan gonad, kata Wasdalin, dapat dilihat dengan cara sedikit menekan bagian belakang abdomen. Jika bagian tersebut terlihat berwarna kuning ataupun oranye, maka kepiting tersebut dipastikan adalah kepiting bertelur . Cara lain untuk mengetahui kepiting telur adalah dengan menggunakan cahaya lampu. “Kepiting pembawa telur tidak tembus cahaya pada bagian anterior karapasnya,” katanya.

Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, selama kurun waktu 2017 terjadi 49 kasus kepiting di bawah ukuran sebanyak 2.591 kg dengan estimasi nilai yang diselamatkan Rp 263.205.000, sedangkan untuk kepiting bertelur sebanyak 85 kasus dengan berat 3.852 kg. Estimasi nilai yang diselamatkan mencapai Rp 1.138.840.000.

Pembatasan penangkapan kepiting dengan jenis dan ukuran tertentu ini merupakan regulasi untuk menjaga keberadaan dan ketersediaan populasi sumber daya lobster, kepiting, dan rajungan sekaligus menjaga kelestarian sumber daya perikanan.

Bagi para pengusaha atau pengguna jasa yang melakukan pelanggaran akan dijerat dengan Pasal 7 Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan serta Pasal 7 UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dengan ancaman hukumannya adalah 6 tahun penjara atau denda Rp 1,5 miliar.(sak)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved