Opini

Kampus Aceh Menuju Kelas Dunia

DISKUSI seputar kualitas perguruan tinggi tidak hanya menarik dibahas setiap tahun ajaran baru

Kampus Aceh Menuju Kelas Dunia
KOLASE/SERAMBINEWS.COM
Kolase foto Samsul Rizal dan hasil pemilihan Rektor Unsyiah Periode 2018-2022. 

Oleh Wahyu Ichsan

DISKUSI seputar kualitas perguruan tinggi tidak hanya menarik dibahas setiap tahun ajaran baru, bahkan menjadi lebih panas jika dibahas di musim pemilihan rektor di dua kampus terbesar di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Menurut informasi yang dirilis halaman utama Serambi Indonesia (Selasa, 6/2/2018), Prof Dr Syamsul Rizal M.Eng akhirnya kembali terpilih memimpin Unsyiah untuk periode 2018-2022 dengan perolehan 81 suara dari 125 suara sah. Sementara itu, UIN Ar-Raniry baru akan memulai pemilihan tersebut pada Maret mendatang.

Dari segi nama, kedua kampus jantung hati rakyat Aceh tersebut diambil dari dua nama ulama besar terkenal berkaliber International, yaitu Syeikh Abdurrauf As-Singkily (1615-1693), seorang Mufty Agung dan Kadhi Malikul Adil pada masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam Sri Ratu Safiatuddin (1612-1675) hingga Sultanah Sri Ratu Keumalat Syiah, yang juga dikenal sebagai pelopor pendidikan di Aceh. Dan, seorang ulama besar dan mufti lainnya adalah Syeikh Nuruddin Ar-Raniry (wafat 1658), yang juga sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani (meninggal 1941).

Meski demikian, baik Unsyiah maupun UIN Ar-Raniry sejauh ini belum mampu memompa semangat para akademisi kampus dalam melahirkan sejumlah paper internasional. Belum lagi penyerapan dan persepsi di dunia kerja, serta kualitas sarana dan prasarana pendidikan, seperti jumlah dan kualitas dosen, perpustakaan, laboratorium serta sarana informasi dan akses internet.

Tidak hanya itu, rasio mahasiswa mancanegara sering dijadikan aspek-aspek yang dinilai dalam pemeringkatan perguruan tinggi, misalnya oleh ARWU (Academic Ranking of World Universities), THE (Times Higher Education) yang dikenal pula sebagai THES (The Times Higher Education Supplement), ataupun Webometrics.

Sementara itu, dua kampus terbesar di Aceh tersebut masuk dalam peringkat ke 2.272 di dunia untuk Unsyiah dan UIN Ar-Raniry meraih peringkat 12.377 di dunia versi Webometrics 2017. Terang saja, mayoritas 100 atau 500 perguruan tinggi top di dunia berada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang atau Australia. Sebagian kecil ada di Singapura, Cina, Korea, India atau Malaysia.

Tidak membandingkan
Tulisan ini tidak sama sekali bermaksud membanding-bandingkan kampus di Aceh dengan kampus lain di luar sana. Tulisan ini malah tidak peduli dengan peringkat yang ditorehkan oleh kampus barat yang meraih peringkat pertama di dunia. Karena kita Aceh, dan Aceh adalah negeri syariat, maka ketika bicara world class university, sudah selayaknya kita tidak perlu ikut-ikutan pada standar yang ditetapkan Barat.

Islam tentu memiliki standar sendiri, seperti apa kualitas manusia yang ingin dicetak oleh sebuah universitas. Mereka tidak cuma harus mumpuni secara intelektual, namun juga memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, kesalehan sosial dan keberanian dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Nah, jika ditanyakan bagaimana seandainya pemeringkatan ini dilakukan seribu tahun yang lalu? Maka universitas paling top di dunia saat itu tak pelak lagi ada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Cairo, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya. Perguruan tinggi di luar dunia Islam paling-paling hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibu kota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibu kota Cina saat itu atau di Nalanda, India.

Selain itu, termasuk di Eropa Barat, seribu tahun yang lalu belum ada perguruan tinggi. Di Amerika Serikat apa lagi. Benua itu baru ditemukan pada 1492. Namun, dari sekian universitas di dunia Islam itu, dua yang tertua dan hingga kini masih ada adalah Universitas al-Karaouiyinne di Fez, Maroko dan Universitas al-Azhar di Kairo, Mesir.

Universitas al-Karaouiyinne, menurut Guiness Book of World Record merupakan universitas pertama di dunia secara mutlak yang masih eksis. Universitas ini telah mencetak banyak intelektual Barat, seperti Silvester II, yang menjadi Paus di Vatikan periode 999-1003 M, dan memperkenalkan “angka” Arab di Eropa.

Universitas kedua tertua di dunia adalah Al-Azhar yang mulai beroperasi sejak 975 M. Fakultas yang ada waktu itu yang paling terkenal adalah Fakultas Hukum Islam, Bahasa Arab, Astronomi, Kedokteran, Filsafat Islam, dan Logika. Dan, kini Al Azhar menjadi satu-satunya pusat pendidikan bagi para ulama dan intelektual muslim dari berbagai negara.

Sekarang di Indonesia, beberapa IAIN telah diubah menjadi Islamic university yang ingin meraih kembali taraf world class university, seperti di masa peradaban Islam. Di Malaysia bahkan sudah lama berdiri IIUM (International Islamic University of Malaysia). Namun melihat struktur kurikulum dan budaya keilmuan yang ada saat ini, sepertinya masih perlu upaya keras dari para civitas akademika agar menghasilkan produk kelas dunia yang khas Islam. Semoga!

* Wahyu Ichsan, Direktur Reusam Institute, berdomisili di Banda Aceh. Email: wahyu21.wi@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help