Home »

Opini

Opini

Jurnalisme Damai, Jawaban atas Kepanikan Moral

DALAM kurun waktu belakangan, masyarakat tak pernah gentar untuk bergerak menyebarkan paham toleransi

Jurnalisme Damai, Jawaban atas Kepanikan Moral
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Ketua PWI Aceh Jaya disaksikan Ketua PWI Aceh menyerahkan piagam kepada Bupati Aceh Jaya sebagai sahabat pers pada pelatihan jurnalistik di Calang 

Oleh Shela Kusumaningtyas

DALAM kurun waktu belakangan, masyarakat tak pernah gentar untuk bergerak menyebarkan paham toleransi. Gerakan ini dianggap sudah cukup baik dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Sayangnya, dorongan dan dukungan dari media massa elektronik ataupun media massa cetak belum terlalu kuat.

Televisi termasuk dalam bagian media massa seperti yang biasa kita konsumsi lainnya (surat kabar, majalah, radio, film dan juga internet saat ini) tergolong cukup besar signifikansinya dalam mengatur dan mencampuri perilaku dan kepercayaan masyarakat penikmatnya, demikian pula dalam pemberitaan konflik. Namun, persoalannya ialah apakah yang terwakili dalam televisi merupakan kenyataan sesungguhnya yang ada di lapangan? Padahal, realitas media hanyalah realitas semu? (second-hand reality) yang telah mengalami penyeleksian melalui proses gatekeeping? di dalam media itu sendiri (Shoemaker & Reese, 1996:41).

Menurut Jean Baudrillard dalam The Gulf War did not Take Place (1995:4, dalam Piliang, 2002), di dalam perang, tidak semua citraan yang ditampilkan oleh media merupakan representasi dari realitas kekejaman perang yang sesungguhnya. Citra kekejaman itu kini dapat diciptakan simulasinya di sebuah studio televisi atau di sebuah tempat palsu (pseudo place) lewat teknologi simulasi yang canggih.

Media abai atau justru sengaja melupakan penayangan berita tentang perdamaian. Realitas yang ditampilkan oleh media sedalu dilihat menggunakan sudut pandang konflik. Hal inilah yang mendasari munculnya istilah bad news is good news. Padahal, sudah seharusnya media mengusung fungsinya untuk menciptakan toleransi dalam kehidupan masyarakat. Apabila fungsi ini telah berjalan, secara otomatis muncul jalinan yang kuat di masyarakat.

Cara yang bisa diterapkan adalah media harus selalu mengupayakan peniadaan pemikiran-pemikiran buruk tentang agama dan etnik tertentu. Sehingga, kegiatan dan kerukunan antar umat beragama terwujud. Media diharapkan mampu menjembatani gagasan masyarakat dalam memantau dan mengkritisi langkah pemerintah. Keberhasilan yang akan diraih jika hal ini bisa berjalan adalah keamanan dan hak-hak yang dimiliki masyarakat akan terjamin. Singkatnya, tanggung jawab moral yang diemban masyarakat harus tetap dikerjakan dalam situasi apapun.

Sisi objektif-subjektif
Dalam tulisannya, The Social Construction of Reality (1966), Peter L Berger dan Thomas Luckman menyebut bahwa gejala sosial tidak hanya menampilkan sisi objektif, namun juga bagian subjektifnya. Sebab, masyarakat adalah produk dari budaya suatu masyakat itu sendiri. Lalu, muncullah opini bahwa realitas yang ditampilkan media bukanlah fakta yang sebenarnya. Kenyataan yang dimunculkan media hanyalah realitas yang telah dibangun oleh media itu.

Kedudukan media saat ini sangatlah berperan dalam kehidupan masyarakat. Sudah saatnya, media mengajarkan toleransi bagaimanapun situasinya. Memang tak bisa disangkal bahwa media kini berada dalam himpitan gempuran kepentingan ekonomi dan politik. Keberagaman bangsa ini seharusnya menjadi loncatan bagi media untuk memulai dan merintis toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Seperti yang kita tahu, kekuasaan mutlak pemilik media kerapkali melemahkan fungsi tanggung jawab moral media. Faktor internal itulah yang menyebabkan media terkadang lupa untuk menumbuhkan toleransi di masyarakat. Faktor lainnya berasal dari luar media, yaitu campur tangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam urusan politik. Pihak-pihak ini menjerumuskan media, sehingga media tidak lagi netral dalam pemberitaan. Gambaran kasat matanya ketika media terus-menerus berupaya mengeruk keuntungan tanpa memperdulikan sisi kemanusiaan.

Dalam pemberitaan media, kaum mayoritas yang akan selalu disorot dan ditempatkan sebagai pihak yang tak bersalah. Keuntungan menjadi dalih media ketika mengabarkan berita dari satu sudut saja. Coba tengok dan ingat kasus-kasus persengketaan yang menyangkut SARA. Siapa yang selalu ditindas? Mereka yang minoritas. Seharusnya, seorang jurnalis memberi ruang kepada makna agar masyarakat dapat mengambil solusi atas konflik yang terjadi. Bukan malah menyulut emosi masyarakat melalui fakta-fakta yang dikaburkan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help