Home »

Opini

Opini

Menuju Media Berkualitas

KAISAR Napoleon Bonaparte (1769-1821), pemimpin militer dan politik Prancis yang menjadi terkenal saat Perang Revolusioner

Menuju Media Berkualitas
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Silaturahmi Kapolres Aceh Barat dengan wartawan di Meulaboh 

Oleh Sara Masroni

KAISAR Napoleon Bonaparte (1769-1821), pemimpin militer dan politik Prancis yang menjadi terkenal saat Perang Revolusioner pernah berkata, “Aku lebih takut pada pena seorang wartawan, dari pada seribu bedil serdadu musuh”. Sebegitu berbahayanya wartawan bagi lagenda ekspansor Prancis tersebut? Ya, berbahaya memang. Namun ada yang lebih berbahaya lagi hari ini, wartawan banyak tetapi yang memiliki kapasitas sebagai wartawan sedikit sekali.

Kemajuan teknologi dan dunia digital membuat masyarakat beralih dari dunia nyata (koran) menuju dunia maya (internet) dalam hal pemenuhan kebutuhan informasi. Peralihan ini diikuti dengan bermunculannya media-media (media massa) baru, yang tidak diketahui status dan kelayakan sebagai media oleh masyarakat yang masih awam terhadap hal ini.

Tak heran memang bila hari ini semakin banyak bermunculan “news-news” baru. Sebut saja Turbonews, Mimpinews, Koreknews, Seuumnews, dan akan masih banyak “news-news” lain yang bakal bermunculan ke depan. Sebab, untuk membuat sebuah media, pada zaman ini tidak harus menyiapkan mesin cetak dengan harganya selangit dan kertas koran yang menghabis dana puluhan bahkan ratusan juta perharinya. Cukup dengan membeli domain dan hosting yang beberapa ratus ribu, maka sudah lahir sebuah media.

Wartawan dadakan
Seiring dengan munculnya “media haw haw” (baca: abal-abal) seperti ini, maka lahir pula wartawan-wartawan dadakan yang tidak diketahui kapasitas dan legalitasnya sebagai wartawan. Baru menulis sehari dua hari sudah langsung punya ID Card (tanda mengenal) lengkap dengan dress code sebuah media. Lalu yang jadi pertanyaan, jika orang-orang yang ditakuti Kaisar Napoleon Bonaparte adalah orang-orang seperti ini, sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi. Jauh-jauh sangat membahayakan bukan?

Sejatinya untuk bisa mengatakan, I’m journalist harus lulus dan melewati berbagai kualifikasi. Wartawan mesti mendapat pembinaan dan dibekali pengetahuan dasar terlebih dulu, seperti Kode Etik Jurnalistik, etika mengutip berita dari media, teknik klarifikasi, hak tanya, hak jawab, dan masih banyak lagi hal-hal dasar yang harus diketahui oleh seorang wartawan. Bayangkan bila hal-hal dasar seperti ini pun tidak pernah didengar oleh si wartawan, apa jadinya kualitas media kita saat ini?

Tak heran bila informasi hoax semakin hari semakin meningkat. Tak heran bila ada wartawan yang selesai acara, minta uang transportasi ke panitia. Tak heran bila ada media yang memasang iklan sebuah lembaga tanpa diminta oleh lembaga tersebut, kemudian si pemilik media meminta uang bayaran iklan kepada lembaga yang diiklankan (pemerasan). Tak heran ada banyak deal-deal antara penguasa dengan wartawan. Hingga disimpulkan bahwa kualitas media hari ini adalah kualitas media “tak heran” dengan kapasitas wartawan yang “tak heran” pula.

Penulis yang notabane-nya masih dalam pendidikan dunia tersebut (mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam), melihat ada banyak tahap demi tahap, pengetahuan dan kualifikasi yang harus dilewati seorang wartawan dari semester ke semester jika sesuai tuntutan akademik. Ada mata kuliah Jurnalistik Dasar, Etika Jurnalistik, Writing Reporting Editing, praktikum media online dan beberapa mata kuliah lainnya yang harus dilewati ke depan.

Tidak instan memang. Dengan demikian, memang akan sangat berbahaya jika wartawan tidak dibekali setidaknya hal-hal dasar yang wajib dilaksanakan dalam kerja-kerja jurnalistik. Bahkan di dunia akademisi, ada yang sampai menjadi guru besar atau profesor jurnalisme, padahal ia sendiri tak pernah menyentuh kerja-kerja jurnalistik. Ilmu jurnalistik itu tidak sedikit. Ketika ada yang mati-matian puluhan tahun belajar jurnalistik hingga meraih gelar profesor, lalu apa jadinya mereka yang baru dua hari belajar menulis ini langsung disebut wartawan?

Kita tidak dituntut memang untuk menempuh semua itu layaknya akademisi. Karena memang wartawan kerjanya di lapangan. Namun setidaknya pembekalan yang baik perlu dilakukan agar melahirkan wartawan-wartawan yang berkapasitas dan berkualitas. Sehingga tidak simsalabim aba kadabra langsung dengan mudah dan bangga mengatakan I’m journalist, padahal tak paham dengan etika dan kerja-kerja jurnalistik.

Mendidik calon jurnalis
Guna membekali wartawan yang berkapasitas dan berkualitas, kini banyak lembaga pendidikan baik formal maupun informal yang membuka jurusan jurnalistik. Bahkan, ada pula lembaga atau kursus-kursus singkat yang mendidik calon jurnalis, yang tidak hanya paham teknik menulis dan wawancara, tetapi dibekali pula dengan pemahaman etika dalam menjalankan tugasnya di dunia jurnalistik kelak.

Mungkin ada banyak lagi lembaga lain di Aceh yang mendidik dan membekali para jurnalis agar mampu menjalankan kerjanya dengan baik dan sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Silakan bekali diri. Intinya adalah apapun lembaganya, di mana pun tempatnya, bekali diri terlebih dulu tentang pengetahuan dasar dalam kerja-kerja jurnalistik, baru terjun ke lapangan.

Kita berharap, ke depan ada resolusi terhadap perbaikan kapasitas wartawan dan media di Aceh. Semoga kredibilitas media di Aceh semakin baik, mampu mencerdaskan masyarakat, berita hoax semakin berkurang dan media berpartisipasi terhadap pembangunan menuju “Aceh Hebat” dan bermartabat ke depan. Selamat Hari Pers Nasional!

* Sara Masroni, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: saramasroni @gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help