SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Tiga Peringatan Rasulullah

Mengingat banyaknya peringatan dan pesan beliau, maka dalam tulisan ini hanya penulis batasi pada tiga hal

Tiga Peringatan Rasulullah
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Pengunjung mengamati Alquran kuno yang ditulis tangan menggunakan patlot pada daun lontar. 

Oleh Abdul Gani Isa

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

RASULULLAH, Muhammad saw sudah tidak ada. Namun banyak peringatan dan pesan-pesan beliau buat umatnya, baik dalam bentuk contoh teladan lewat sifat dan akhlaknya, ucapan maupun perbuatannya, yang secara konkret terekam di dalam Alquran dan Sunnahnya al-Hadis.

Dikeroyok musuh
Mengingat banyaknya peringatan dan pesan beliau, maka dalam tulisan ini hanya penulis batasi pada tiga hal saja, yaitu: Pertama, dikeroyok oleh musuh. Prediksi ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah saw, “Hampir tiba masanya bahwa kamu akan dikeroyok oleh bangsa-bangsa sebagaimana orang-orang yang hadir dalam pesta jamuan makan mencaplok hidangan yang disediakan bagi mereka. Seorang sahabat bertanya; Apakah disebabkan bilangan kami sedikit di waktu itu ya Rasulullah. Beliau menjawab; Bahkan bilangan kamu di waktu itu banyak (mayoritas), tetapi kamu tak ubahnya seperti air buih di kala banjir. Allah akan mencabut rasa ketakutan dari dada musuhmu, sebaliknya Dia akan masukkan ke dalam hati-hati kamu penyakit al-wahn. Lalu sahabat bertanya, ya Rasulullah, apakah al-wahn itu, cinta dunia (hubbud dunya) dan gentar menghadapi risiko kematian (wakarahiyatul maut), jawab Rasulullah saw.” (HR. Abu Daud dari Tsauban).

Umat Islam sekarang ini berjumlah 1.7 miliar lebih, dari 7 miliar penduduk bumi, selebihnya non muslim, seperti Yahudi, Nasrani maupun agama ardhi lainnya. Tetapi ironisnya umat Islam yang besar itu tidak memiliki kekuatan yang diibaratkan Rasulullah saw, ka ghutsais saili (seperti buih air bah; ke mana angin bertiup ke sanalah ia pergi). Artinya, tidak istiqamah dan pendirian yang kuat, karena mereka sudah dihinggapi penyakit al-wahn (cinta dunia berlebihan dan takut akan mati).

Sehaluan dengan itu, tepat pula apa yang diingatkan oleh Ali bin Abi Talib. Al-haqqu bila nidhamin yaghlibuhul batil binidhamin (Sebuah kebenaran tanpa dimenej dengan aturan [persatuan yang kuat], dipastikan akan dikalahkan oleh kebatilan yang dimenej dengan rapi), sekalipun minoritas.

Kedua, adalah berkenaan dengan persatuan dan perpecahan. Rasulullah saw bersabda, “Apabila khazanah-khazanah perbendaharaan Persia dan Romawi telah dapat kamu kuasai, bagaimana keadaan kamu waktu itu, tanya Rasulullah, Abdurrahman bin Auf menjawab; Kami akan tetap bersatu seperti apa yang diperintahkan Allah kepada kami. Rasulullah menambahkan `Bahkan kamu waktu itu akan saling berebut-rebutan, saling dengki mendengki, kemudian saling bertolak belakang dan benci membenci, kemudian kamu pergi ke rumah-rumah kaum muhajirin, maka kamu tindas satu dengan yang lainnya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar ra).

Islam tidak bisa kuat tanpa persatuan dan ukhuwah islamiyah yang sejati seperti digembleng oleh Rasulullah saw, bukan persatuan yang munafik di bawah Abdullah bin Saba’, bukan pula persatuan di meja judi, persatuan yang semu dan palsu, seperti diingatkan Allah Swt, “Tahsabuhum jami’a wa qulubuhum syatta (Engkau kira mereka bersatu padahal hati mereka berpecah-belah).” (QS. al-Hasyr: 14).

Ya, suatu ironi sejarah, bahwa kaum muslimin mayoritas dalam bilangan, tetapi minoritas dalam kekuasaan. Mayoritas dalam jasa (andil perjuangan), tetapi minoritas dalam laba. Ya, merekalah yang menanam padinya, tetapi orang lain yang mengetam buahnya. Kita yang membangun gedungnya, tetapi orang lain yang pesta ria menghuninya. Kapan kita akan mengubah nasib buruk ini, demi masa depan Islam dan muslimin? Jawabannya bukan pada orang lain, tetapi pada kesadaran masing-masing diri kita sendiri, di mana pun kita tegak berdiri.

Memang Indonesia adalah negeri Islam, tetapi negaranya tidak. Itu adalah fakta nyata dan tak bisa dibantah, seperti dikatakan oleh Bruce B Lawrence berkebangsaan Amerika Serikat saat berkunjung ke Indonesia, “Islam di Indonesia, hanya merupakan instrumen saja. Ia dipraktikkan, dipercaya, dipeluk, tapi tidak dianggap sebagai agama negara.”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help