Opini

Tipologi Umat Terbaik

PERJALANAN peradaban manusia di muka bumi tak terlepaskan dari peran Islam dalam memanusiakan manusia

Tipologi Umat Terbaik
Para ilmuwan mengatakan peredupan aneh bintang KIC 8462852, yang juga dikenal sebagai Bintang Boyajian atau Bintang Tabbys, tidak sesuai dengan megastruktur asing yang membuat perubahan pada panjang gelombang cahaya 

Oleh Adnan

PERJALANAN peradaban manusia di muka bumi tak terlepaskan dari peran Islam dalam memanusiakan manusia. Islam telah memberikan konstruksi peradaban secara nyata, bukan hanya sekadar retorika. Sejak awal kehadirannya, Islam telah melepaskan sejumlah jeratan dan penyakit sosial di tanah Arab. Jeratan jahiliyah misalnya, bertransformasi menjadi islamiyah, sikap biadab menjadi beradab, penyembah berhala berubah menjadi penyembah Allah Swt. Sebab itu, kehadiran Islam memang didesain oleh Allah Swt sebagai wadah mengangkat harkat dan martabat manusia.

Pada masa-masa selanjutnya, pun kehadiran Islam semakin mencerahkan dan menggembirakan peradaban manusia. Dalam konteks keilmuan, lahir sejumlah tokoh-tokoh peradaban Islam, semisal Ibnu Khaldun (sosiologi), Ibnu Batutah (sejarawan), Al-Khawarizmi (aljabar), Al-Ghazali (psikologi Islam), Al-Idrisi (astronomi), dan Ibnu Sina (kedokteran). Mereka merupakan para tokoh peradaban yang telah membuka cakrawala berpikir manusia. Hal itu menunjukkan bahwa umat Islam pernah menjadi penentu dalam setiap kebijakan, baik di bidang politik, sosial budaya, pendidikan, dan agama.

Akan tetapi, sebagai makhluk yang telah diberikan Allah Swt berbagai komponen yang melekat pada diri manusia, semisal akal pikiran (‘aql, mind), panca indera (hawas), dan kepemimpinan (khalifah, leadership), maka umat Islam harus berpikir ke depan (visioner) sambil berkaca pada sejarah peradaban Islam pada masa lalu. Artinya, kejayaan peradaban Islam tempo dulu tidak mustahil untuk direbut kembali, selama umat Islam saat ini meneguhkan jati dirinya sebagai umat terbaik dan diharapkan menjadi penentu dalam setiap kebijakan, baik di tingkat lokal maupun dunia.

Sebab, realitas sosial umat Islam di Indonesia, termasuk Aceh, masih menjadi pengikut bukan penentu, follower bukan transender. Artinya, dalam setiap kebijakan baik di bidang politik, pendidikan, sosial budaya, dan ekonomi belum didominasi oleh umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini. Tentu di antara penyebabnya adalah ketidakmampuan umat Islam saat ini dalam mengaktualisasikan diri sebagai umat terbaik. Padahal, Allah Swt menghadirkan umat Islam kepermukaan bumi sebagai umat terbaik (khairu ummah). Untuk itu, perlu umat Islam saat ini meneguhkan kembali tipologi umat terbaik dalam membentuk peradaban.

Beberapa tipologi
Jika menilik Alquran secara holistik dan mendalam, maka ditemukan sejumlah tipologi umat terbaik: Pertama, kemampuan mengorganisir potensi. Jika umat Islam hendak menjadi umat terbaik dalam segala bidang, maka harus mengorganisir segala potensi yang dimiliki umat Islam. Sebab, ketika umat Islam tidak terorganisir dengan baik (terpecah), maka akan mudah disusupi oleh kekuatan jahat, berupa kezaliman, kriminalitas, provokasi, dan lainnya, dalam tubuh Islam.

Sebab itu, kemampuan mengorganisir potensi umat akan memudahkan dalam menggapai cita-cita dan kerja umat di masa depan. Maka pesan Allah Swt, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Karena itu, kerja umat terbaik akan sulit diwujudkan apabila umat bergerak individu. Padahal, tidak semua kerja umat terbaik dapat dilakukan secara individual, tapi harus dikerjakan secara kolektif. Sebab, “kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.” (Ali bin Abi Thalib).

Untuk itu, pesan Allah Swt, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103). Pesan Ilahi ini memberikan sugesti kepada umat Islam agar tidak berpecah-belah hanya disebabkan oleh perbedaan, semisal beda paham politik, organisasi dan kelompok, suku dan warnat kulit, dan perbedaan cabang (furu’iyah) dalam bidang fikih. Dalam hal ini, umat Islam (diwakili oleh kelompok/organisasi) perlu aktif duduk bersama, silaturahim, dan melakukan koordinasi dan konsolidasi dalam mewujudkan kebersamaan dan kekompakan untuk kemajuan.

Kedua, menyuruh kepada kebaikan (takmuru bil ma’ruf). Kerja umat terbaik harus bervisi kebaikan dunia dan akhirat. Artinya, setiap pribadi umat Islam merupakan pioner dalam mengembangkan kebaikan. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya bernilai kebaikan bagi sesama. Setiap tindakan dan perilaku bermuatan keteladanan mulia (uswatun hasanah) bagi semua. Pun, dalam setiap kebijakan selalu mempertimbangkan kebaikan dan kemaslahatan. Untuk itu, umat terbaik pola pikir (mindset) harus dibangun atas dasar kebaikan, bukan uang (materi).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help