Bangunan Retak Perlu Uji Kelayakan

Bangunan beton di Kecamatan Geumpang, Mane, dan Tangse Pidie yang retak-retak akibat gempa tektonik

Bangunan Retak Perlu Uji Kelayakan
WARGA di Geumpang, Pidie, berhamburan ke luar dari rumah saat gempa menggoyang, Kamis (8/2). 

* Dampak Gempa Geumpang

BANDA ACEH - Bangunan beton di Kecamatan Geumpang, Mane, dan Tangse Pidie yang retak-retak akibat gempa tektonik Kamis (8/2), kini perlu diuji kekuatan beton itu untuk mengetahui bangunan itu masih layak pakai atau tidak. Pasalnya, ketiga kecamatan di wilayah pegunungan itu rawan gempa tektonik karena berada pada patahan gempa aktif sesar Sumatera segmen Aceh.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ir Akmal Husen menyampaikan hal ini ketika menjawab Serambi, Minggu (11/2). Menurutnya, hal ini disampaikannya bukan untuk menakut-nakuti masyarakat setempat, melainkan agar masyarakat lebih waspada. Ia menjelaskan

salah satu bukti daerah itu berada pada patahan gempa aktif, beberapa hari lalu meski guncangan tak terlalu kuat, namun karena pusat di darat kedalaman 10 Km, maka sangat berpotensi merusak parah bangunan. Guncangan akan terasa lebih kuat, jika batuan dilintasi gelombang gempa terkena kerapatan (densitas) rendah.

“Hal ini terbukti dalam gempa tanggal 8 baru-baru ini, menurut laporan pihak Kecamatan Geumpang, sekitar 23 rumah penduduk yang sudah terdata, dinding betonnya retak-retak. Dinding rumah, toko bertingkat, mushalla, dan masjid yang retak-retak akibat gempa itu, kami usul dites kekuatan betonnya ke Laboratorium Fakultas Tehnik Unsyiah. Bisa juga ke dinas atau lembaga lain yang bergerak di bidang infrastruktur,” kata Akmal didampingi Kasie Geologi, Ir Mukhlis.

Akmal menjelaskan gempa Kamis (8/2) lalu sekitar pukul 16.52 WIB berkekuatan 5,1 SR berpusat di Kecamatan Geumpang. Persisnya di posisi 4,66 Lintang Utara dan 96,21 Bujur. Jenisnya, gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal eathquake) yang miliki mekanisme sesar mendatar (strike-lip fault).

Adapun uji kelayakan bangunan beton, kata Akmal diperlukan untuk mencegah korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi gempa di daerah rawan tersebut. Selain itu, kepada masyarakat juga diingatkan segera keluar rumah jika terjadi gempa karena musibah ini bisa membuat bangunan beton roboh.

Sedangkan jika ingin membangun bangunan beton, Akmal menyarankan masyarakat setempat terlebih dahulu menanyakan ke pihak dinas atau lembaga yang bisa menjelaskan tipe, jenis, desain atau bentuk rangka kontruksi bangunan yang tahan gempa.

Di sisis lain, Kasie Geologi Dinas ESDM Aceh, Mukhlis mengatakan gempa di Geumpang dan sekitarnya empat hari lalu itu belum berdampak signifikan terhadap kenaikan aktivitas gunung berapi Peut Sago, Pidie. Aktivitas gunung api masih normal. Hal ini terlihat dari data sesmograf yang masuk. “Namun begitu kewaspadaan terhadap dampak lanjutan dari gempa bumi dangkal perlu menjadi perhatian bersama,” imbau Mukhlis.

Ia menyebutkan berdasarkan data sudah beberapa kali terjadi gempa di sekitar patahan pulau Sumatera itu. Di antaranya 22 Januari 2013 di wilayah Kecamatan Mane berkekuatan 6 SR dengan kedalaman 11 Km. Gempa Bumi di Ketol, Aceh Tengah, 2 Juli 2013 berkekuatan 6,2 SR.

Mukhlis menyarankan Pemkab rawan gempa itu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai musibah ini yang kapan saja bisa terjadi tanpa bisa diprediksi. “Kalau perlu mata pelajaran penanganan mitigasi bencana alam dimasukkan ke dalam kurikulum SD, SMP dan SMA. Tujuannya untuk menanamkan pengetahuan dan penyelamatan diri ketiga terjadi bencana alam gempa bumi dan liannya,” timpal Akmal Husen. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved