Home »

Opini

Opini

Kita, Rokok, dan Kemiskinan

BADAN Pusat Statistik (BPS) Aceh pada awal tahun ini, tepatnya pada 2 Januari 2018 merilis bahwa persentase penduduk

Kita, Rokok, dan Kemiskinan
IST

Oleh Mustafa Ibrahim Delima

BADAN Pusat Statistik (BPS) Aceh pada awal tahun ini, tepatnya pada 2 Januari 2018 merilis bahwa persentase penduduk miskin Aceh mengalami penurunan sebesar 0,97% pada September 2017 lalu, dibandingkan kondisi Maret pada tahun yang sama. Tercatat angka kemiskinan Aceh pada Maret 2017 sebesar 16.89%, turun menjadi 15.92% pada September 2017. Dengan posisi ini, Aceh masih menempati peringkat ke-6 sebagai provinsi termiskin di Indonesia (setelah Papua, Papua Barat, NTT, Gorontalo, dan Maluku), serta peringkat pertama di Sumatera.

Bagi sebagian orang, stagnansi angka kemiskinan seperti ini justru sangat menguntungkan dan digunakan sebagai amunisi andalan untuk melakukan serangan kepada lawan politik. Bagi sebagian lagi, angka kemiskinan yang tidak kunjung turun ini justru menjadi ancaman, sebab satu penilaian kinerja mereka bisa jadi bermula dari sini. Ini yang oleh Sairi Hasbullah, Deputi Statistik Sosial BPS RI disebut dengan istilah mutant statistic, yaitu menggunakan data yang benar, tetapi membelokkan makna atau interpretasi sesuai dengan kepentingannya.

Memang diskursus kemiskinan adalah suatu hal yang tidak akan pernah selesai sebagaimana kemiskinan itu sendiri yang tidak akan pernah berakhir, bahkan sampai kiamat pun kemiskinan akan tetap ada. Solusi-solusi pengentasan kemiskinan pun sangat beragam sebagaimana faktor penyebabnya yang juga beraneka ragam. Semua itu ditentukan oleh sudut pandang, pengalaman, dan juga pemahaman sang penginterpretasi. Oleh kerena itu, agar terjadi keseragaman pemahaman mengenai kemiskinan, perlu adanya kesepakatan tentang konsep dan definisi yang akan digunakan.

Definisi kemiskinan
Guna mengatasi permasalahan itu, BPS melakukan sejumlah kajian sehingga lahirlah sebuah konsep dan definisi mengenai kemiskinan. Konsep dan definisi inilah yang digunakan oleh BPS untuk merumuskan metodologi dalam mengukur kemiskinan. Hal ini penting agar kemiskinan dapat dibandingkan antara satu daerah dengan daerah lain, antara tahun dengan tahun lainnya (year on year). Jadi ketika menggunakan data BPS, maka mau tidak mau kita juga harus sepakat dengan konsep, definisi dan metologi yang digunakan BPS dalam mengukur kemiskinan itu sendiri.

Sebenarnya masalah kemiskinan tidak hanya berhenti di angka persentase (head count Index/P0) saja. Misalnya, berapa persen penduduk Aceh yang masih berada di bawah garis kemiskinan? Berapa persen penurunan angka kemiskinan penduduk kota Banda Aceh? Ini hanya akan memberi gambaran permukaan (surface) saja mengenai kemiskinan. Jika kita ingin melihat kemiskinan itu secara lebih mendalam dalam berbagai dimensi, kita membutuhkan indikator-indikator lain agar potret kemiskinan dapat terlihat lebih utuh dan bermakna.

Jadi, meskipun dua kabupaten memiliki persentase angka kemiskinan yang sama tapi tidak tertutup kemungkinan kualitas kemiskinan tidaklah sama. Ada indikator lain yang perlu kita lihat dan kita kaji, sehingga kita mendapatkan potret kemiskinan secara utuh. Yaitu, Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index/P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index/P2).

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) adalah suatu indeks yang menerangkan bagaimana kesenjangan rata-rata pengeluaran masing-masing penduduk terhadap garis kemiskinan. Penurunan nilai P1 mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Indeks P1 Aceh pada September 2016 sebesar 3,06 dan sebesar 2,91 pada September 2017.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pada 2017 rata-rata pengeluaran penduduk miskin di Aceh cenderung mendekati garis kemiskinan. Semakin dekat dengan garis kemiskinan, berarti harapan penduduk miskin untuk melewati garis kemiskinan dan keluar dari status penduduk miskin akan semakin besar.

Sementara, Indeks Keparahan Kemiskinanan (P2) memberi pengertian bahwasemakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Pada September 2016 Indeks P2 sebesar 0,86 turun menjadi 0,78 pada September 2017. Hal ini berarti kondisi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin cenderung semakin kecil.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help