Citizen Reporter

Couscous, Kuliner Wajib di Maroko

JIKA kita berbicara tentang kuliner atau makanan penduduk Timur Tengah secara umum, yang pertama terpikirkan

Couscous, Kuliner Wajib di Maroko
ASYRAF MUNTAZHAR

OLEH ASYRAF MUNTAZHAR, alumnus Dayah Insan Qurani, Mahasiswa Universite Sidi Mohamed ben Abdellah Fez, melaporkan dari Maroko

JIKA kita berbicara tentang kuliner atau makanan penduduk Timur Tengah secara umum, yang pertama terpikirkan pastilah daging dengan porsi besar, roti, dan sebagainya. Sangat jarang kita dengar mereka mengonsumsi olahan tumbuhan seperti beras di Indonesia dan negara Asia pada umumnya, atau olahan gandum seperti roti di negara-negara benua Eropa dan Amerika.

Begitu pula anggapan saya sebelum sempat menginjakkan kaki di Negara Matahari Terbenam, Maroko. Sempat terpikir oleh saya, pasti akan susah menemukan makanan olahan tumbuhan yang digemari banyak warga asli Maroko. Namun, setelah sampai di Maroko, ternyata ada satu dari sekian makanan khas Timur Tengah dari bahan olahan tumbuhan yang berhasil membuat lidah masyarakatnya kepincut, couscous (baca: kuskus).

“Belum ke Maroko kalau belum makan couscous.” Begitu ungkapan yang biasa dilontarkan warga Maroko kepada ajnabiy atau ‘bule’ yang datang ke Negeri Seribu Benteng ini, baik sekadar melancong, maupun menetap agak lama.

Tradisi makan couscous ini memang sudah tak terpisahkan lagi dari penduduk Maroko. Khususnya untuk dimakan setiap hari Jumat dan pada hari-hari penting. Mungkin seperti halnya kuah beulangong (kari daging) di kalangan masyarakat Aceh.

Couscous merupakan salah satu makanan populer bagi penduduk Maroko di samping roti dan sejenisnya. Makanan ini biasanya terbuat dari bahan dasar gandum mentah yang dihancurkan hingga menjadi seperti bubuk dengan diameter kira-kira hanya 1 mm saja. Tapi ada juga couscous yang terbuat dari olahan tumbuhan lainnya seperti ashmida, beras, dan lain-lain. Rasanya manis, namun dengan sedikit campuran rasa asam khas buah. Warnanya pun beragam, dari kuning pekat, kuning pucat, hingga putih beras. Tergantung dari bahan olahannya.

Mayoritas penduduk Maroko biasanya menyajikan dan mengonsumsi hidangan couscous ini dengan berbagai macam lauk. Biasanya terdiri atas sayuran seperti wortel, kol, kentang, dan sebagainya yang lebih dulu direbus dan dibumbui, berbagai macam daging, mulai dari daging ayam, daging sapi, atau kambing, dengan taburan kismis dan kacang-kacangan, sehingga selain rasanya yang menggugah, hidangan ini juga kaya akan gizi.

Jika Anda berkunjung ke Maroko, dipastikan tidak akan sulit untuk dapat mencicipi kuliner kaya rasa ini. Restoran-restoran atau warung makan yang menyediakan menu couscous jumlahnya sangat banyak. Seporsi kecil couscous dengan potongan ayam atau daging dan berbagai macam sayuran dapat dinikmati hanya dengan biaya 20 dirham saja.

Masyarakat Maroko sendiri biasanya hampir pasti menyajikan hidangan ini setiap hari Jumat dan hari-hari penting seperti pernikahan, akikah, Lebaran, hingga hari wafat sanak keluarga. Penyajiannya pun cukup unik, couscous biasa disajikan dalam nampan tanah liat besar berukuran kurang-lebih sekitar 50 cm. Untuk satu nampan biasanya untuk 5-8 orang, bisa lebih, namun bisa juga kurang dari itu.

Bagi pelancong backpacker yang notabenenya lebih menekankan ke penghematan biaya, namun tetap penasaran dengan rasa couscous, tenang saja. Setiap Jumat siang, tepat shalat Jumat, biasanya para dermawan menyediakan hidangan ini dengan cuma-cuma di berbagai pojok halaman masjid. Namun, kita terpaksa menunda zikir selepas shalat jika tak mau ketinggalan. Soalnya, hidangan ini sudah pasti akan dikerumuni banyak jamaah tepat setelah shalat berakhir. Hanya dalam waktu lima menit atau kurang, hidangan ini hanya tinggal sisa tulang dan sebutir dua butir couscous. Mau gratis? Gerak cepatlah!. Hehehe.

Para pelajar asing yang menetap di Maroko, khususnya mahasiswa asal Indonesia yang menyewa tempat tinggal sendiri sering kali disuguhkan hidangan ini oleh para tetangga yang asli Maroko. Biasanya sepulang dari masjid untuk shalat Jumat, akan ada tetangga yang mengetuk pintu rumah dengan menenteng senampan besar hidangan ini. Tinggal buka pintu, terima dengan senyuman, bissihhah warraahah (selamat menikmati).

Banyak manfaat yang didapatkan ketika memakan couscous ini. Terutama bagi pengidap diabetes, kolesterol, dan penyakit jantung. Hidangan ini kaya akan protein nabati dan zat besi. Hidangan ini juga sangat direkomendasikan bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih dan sedang menjalani program diet.

Untuk sekarang ini sudah tersebar luas couscous kemasan yang tinggal diseduh sedikit untuk kemudian dikonsumsi. Couscous instan ini dikemas menyerupai kemasan pasta, tentu saja dengan kandungan nutrisi tidak sebanyak dan sebaik couscous tradisional, namun tetap memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dibandingkan makanan instan lainnya.

Di Indonesia hidangan ini dijual dengan harga tinggi dan sangat jarang ditemukan. Kita hanya bisa menemukan couscous hanya di beberapa restoran khas Timur Tengah. Untuk seporsi kecil couscous dengan topping sayuran saja kita harus merogoh kocek hingga Rp40.000 hingga Rp60.000. Namun, mengingat khasiatnya yang tinggi dan bahan yang harus diimpor, maka tidak heran kuliner khas timur tengah ini dihargai dengan harga yang tidak murah.

Namun tetap saja, akan jauh lebih sreg jika Anda merasakan cita rasa tinggi dari couscous langsung di daratan Timur Tengah, khususnya di Maroko, karena seni rasa kuliner ini akan jauh lebih kental karena didukung oleh pemandangan khas Timur Tengah. Tunggu apalagi? Ayo kunjungi Maroko!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved