SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pemenuhan Lapangan Kerja Pascakonflik dan Bencana

MEMBANGUN Pidie, utamanya melakukan “investasi pikiran dan uang” yaitu bagaimana merumuskan beberapa prinsip

Pemenuhan Lapangan Kerja Pascakonflik dan Bencana

Oleh Roni Ahmad (Abusyik)

MEMBANGUN Pidie, utamanya melakukan “investasi pikiran dan uang” yaitu bagaimana merumuskan beberapa prinsip praktis tentang taktik mengelola perbedaan pandangan di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks tata kelola organisasi pemerintahan terletak pada: Pertama, tataran substansi, yaitu bagaimana mengelola masalah yang ada di depan mata terhadap esensi dari sebuah visi dan misi;

Kedua, tataran relasional, yaitu bagaimana mulai belajar menyukai manusia yang tidak disukainya, karena karakter atau sikap terhadap masalah tertentu, dan; Ketiga, tataran perseptual, yaitu bagaimana melihat satu masalah yang sama dari sudut pandang yang berbeda, sehingga dengan memahami akar masalah bisa dipastikan memperoleh cara yang tepat untuk melakukan intervensi.

Aceh pascakonflik memerlukan pembangunan dan pemenuhan lapangan pekerjaan bagi semua mantan kombatan, khususnya kombatan garis bawah, yang mampu memanfaatkan segala kemudahan yang diberikan oleh situasi perekonomian yang semakin membaik. Pemerintah daerah semaksimal mungkin untuk dapat menciptakan formula kebijakan yang berpihak dan berdayaguna dalam meningkatkan keahlian, kompetensi dan produktivitas dalam berwiraswasta guna memenuhi kebutuhan hidup dan mendukung keberlangsungan pendidikan bagi seluruh masyarakat Pidie.

Beberapa alternatif seperti pemanfaatan lahan tidur dapat dimanfaatkan sesuai visi-misi pembangunan Kabupaten Pidie saat ini, yang diikuti dengan update pembaruan data jumlah pengangguran, sehingga arah kerja pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara bertahap memudahkan seluruh masyarakat Kabupaten Pidie untuk mendapatkan akses pekerjaan. Hal ini akan menjawab tantangan perkembangan teknologi yang semakin maju, di mana skill dan keahlian merupakan syarat utama dalam mendapatkan pekerjaan, sehingga mampu bersaing dalam kompetisi ketenagakerjaan.

Sebuah kebijakan ideal akan terimplementasi dengan baik ketika memiliki rencana pembangunan jauh kedepan, dengan menganalisis faktor-faktor dominan yang berpengaruh pada investasi strategis. Kekayaan komoditas dan sumber daya alam (SDA) Pidie, baik pangan, bahan mineral, tambang dan maritim, yang mampu dikelola dengan baik melalui pemanfaatan iptek dan inovasi anak negeri. Sehingga Kabupaten Pidie akan cepat bertransformasi menjadi negeri yang makmur dan sejahtera, karena: Berhasil memberikan nilai tambah pada setiap produk komoditasnya;

Memiliki kemampuan mengekspor pangan dan makanan olahan, bukan hanya sekadar produk mentah pertanian dari hasil hutan, dan pertanian; Mampu mengekspor bermacam-macam barang jadi dari mineral dan tambang, tidak hanya sekadar ekspor hasil mengeruk bahan mentah seperti bijih besi, bijih aluminium, bijih tembaga, dan lainnya; Memiliki kemampuan dalam memberikan nilai tambah terhadap setiap hasil eksplorasi SDA yang kita miliki melalui bantuan lembaga penelitian dan pengembangan iptek, perguruan tinggi, serta litbang industri.

Berani dan fokus
Pembangunan dan pemenuhan lapangan kerja pascakonflik dan bencana di Kabupaten Pidie akan berhasil ketika pemerintah daerah dan segenap masyarakat berani memulai dengan fokus sesuai visi dan misi para pemimpin daerah, yang dimulai dengan: Pertama, dataran tinggi (glee) dengan tingkat kelembaban udaranya yang padat adalah anugerah Allah Swt. Rasa syukur tersebut tidak hanya sebatas perasaan nyaman atas kesejukan udaranya, namun di balik kesejukan tersebut tersembunyi begitu banyak manfaat bagi masyarakat di Kabupaten Pidie.

Daerah pergunungan seperti Tangse, Mane, dan Geumpang penting dimaksimalkan pemanfaatannya. Sebagai contoh kasus, tomat kampung sudah tidak lagi ada di pasaran, masyarakat Pidie saat ini telah sangat bergantung pada pasokan buah tomat dari provinsi lain. Hampir dua dekade para pedagang sayur di Kabupaten Pidie tidak lagi berani menampung tomat asli gampong Pidie, kecepatan pembusukan serta daya beli yang rendah menyebabkan produk lokal kalah bersaing dengan ketahanan tomat dari provinsi lain.

Secara otomatis ketika dua komoditi-sama-fungsi dihadapkan pada pedagang, mereka lebih memilih komoditi yang lebih tahan lama, yang lama-kelamaan komoditi ini dengan sendirinya lebih populer di tengah masyarakat konsumen. Sementara komoditi dengan tingkat laba yang lebih sedikit, akan ditinggalkan. Bahkan lenyap sampai ke akar-akarnya dari percaturan pasar dan pembudidayaan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help