SerambiIndonesia/

BBPOM Banda Aceh Sita Kosmetik Ilegal

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh menyita enam items kosmetik dan 29 kotak air

BBPOM Banda Aceh Sita Kosmetik Ilegal
SERAMBI/MAWADDATUL HUSNA
Pegawai BBPOM Banda Aceh memperlihatkan kosmetik yang disita dari 12 kabupaten/kota karena tanpa izin edar (TIE), mengandung bahan berbahaya, dan palsu dalam konferensi pers, di BBPOM setempat. SERAMBI/MAWADDATUL HUSNA 

* AMDK Tanpa Izin Edar

BANDA ACEH - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh menyita enam items kosmetik dan 29 kotak air minum dalam kemasan (AMDK) tanpa izin edar (TIE) dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan di kawasan Pasar Lambaro, Aceh Besar, Rabu (14/2).

Kepala BBPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli Apt kepada Serambi seusai sidak menyampaikan bahwa produk kosmetik yang ditemukan TIE tersebut terdiri atas enam items sebanyak 110 pcs, di antaranya bedak ponds, mascara MAC, golecha, citra beauty care revil, dan animated facial. Sementara AMDK yang disita sebanyak 29 kotak masing-masing berisi 48 buah.

“Produk tersebut sudah kita amankan karena tidak mempunyai izin edar BPOM. Sedangkan AMDK yang kita sita ini pabriknya ada di kabupaten lain, dan akan kita tindaklanjuti,” katanya.

Zulkifli menambahkan, pemilik toko yang menjual produk tersebut akan dipanggil ke BBPOM untuk dilakukan pembinaan, agar tidak menjual produk-produk yang dilarang seperti mengandung bahan berbahaya dan TIE.

Dikatakan, sidak yang melibatkan Dinas Kesehatan Aceh Besar dan Disperindag Aceh Besar ini akan dilakukan secara rutin sebulan sekali untuk melindungi masyarakat dari bahan-bahan berbahaya terhadap makanan maupun kosmetik.

“Dalam sidak ini kita juga masih menemukan kosmetik yang mengandung merkuri atau tidak terdaftar sama sekali. Banyak kosmetik pemutih yang mengandung merkuri dan apabila digunakan akan mengakibatkan kanker,” sebut Zulkifli. Pihaknya juga mengamankan jamu tupai jantan, karena mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Kepala BBPOM Banda Aceh Zulkifli mengatakan, dalam sidak yang menurunkan dua tim tersebut pihaknya tidak menemukan mi kuning yang dijual di kawasan Pasar Lambaro, yang mengandung bahan pengawet seperti boraks maupun formalin. Tim mengambil sampel mi dan langsung melakukan pengujian di lokasi pembuatan mi tersebut. “Kita coba uji formalin dan boraks pada mi tersebut, alhamdulillah tidak kita temukan sampai saat ini. Dari hasil pemeriksaan mi dan air abu di pabrik mi tersebut tidak mengandung boraks,” katanya.

Ini berarti hasil sidak kemarin berbeda dengan tahun 2015 dan 2016. Berdasarkan penelusuran Serambi dalam sidak yang dilakukan BBPOM pada 2016, mi kuning yang mengandung pengawet pada tahun itu menurun dibandingkan tahun 2015, dimana pada tahun 2015 di Lambaro dari 11 sarana, enam yang positif menggunakan zat berbahaya. Namun pada 2016 dari enam sarana yang memproduksi mi kuning di Lambaro, dua sarana yang positif menggunakan formalin dan boraks. Nah, kali ini BBPOM bahkan tidak menemukan sama sekali kandungan pengawet. (una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help