Pembakar Hutan Bisa Dipenjara 15 Tahun

Polres Aceh Barat mengadakan rapat koordinasi dengan melibatkan TNI dan aparatur desa guna mencegah

Pembakar Hutan Bisa Dipenjara 15 Tahun
Sebanyak dua pleton pasukan TNI dari Rindam IM, Hubdam, dan Raider dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar pegunungan Gle Taron, Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (24/7/2017). Cuaca panas diduga merupakan salah satu penyebab meluasnya kebakaran hutan di Aceh dalam beberapa hari terakhir. SERAMBI/M ANSHAR 

MEULABOH-Polres Aceh Barat mengadakan rapat koordinasi dengan melibatkan TNI dan aparatur desa guna mencegah terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di aula Mapolres setempat, Rabu (14/2). Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa pembakar lahan dan hutan dapat dipidana hingga 15 tahun penjara.

Kapolres Aceh Barat AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK menyampaikan hal ini dalam rapat koordinasi dihadiri Kasrem 012/TU Letkol Inf Yudiono, Sekretaris BPBD Edison serta pejabat dari Kodim 0105 Aceh Barat.

Sedangkan peserta dari kalangan aparatur desa, camat dan danramil. “Karhutla ini menjadi tanggung jawab bersama. Mari kita lakukan pencegahan, sehingga tidak terus meluas,” kata kapolres.

Dikatakan, berbagai upaya terus dilakukan dan berharap masyarakat mendukung, terutama tidak main bakar lahan serta melaporkan kepada pihak berwajib bila diketahui ada pembakar lahan ketika membuka kebun. Apalagi persoalan karhutla tersebut menjadi sebuah penegasan Presiden, sehingga tidak terus berdampak buruk, terutama asap bagi masyarakat dan negara lain.

Kasrem Lekol Yudiono menyampaikan TNI siap membantu dan berharap kepada masyarakat menghindari hal-hal membakar lahan, terutama ketika berkebun. Karena persoalan asap menjadi persoalan nasional yang harus diatasi bersama. “Mari hentikan main bakar lahan,” harapnya.(riz)

Kapolres Aceh Barat juga menyampaikan bahwa karhutla terjadi peningkatan dari tahun 2016 silam. Tahun 2017 lahan terbakar mencapai 171,6 hektare yang merupakan lahan gambut, sementara tahun 2016 silam hanya 42 hektare.

“Kenaikan luas lahan yang terbakar ini menjadi hal yang perlu dicegah, sehingga tahun 2018 tidak ada lagi kasus karhutla,” ujar kapolres yang turut didampingi Kabag Ops.

Menurutnya, Polri selama ini aktif ikut memadamkan api kebakaran lahan bersama TNI dan BPBD. Termasuk mengerahkan mobil penyiram air dan personel. Namun, terbatasnya fasilitas dan lokasi yang disiram jauh dari jalan, sehingga menyulitkan pemadaman.

Demikian juga sosialisasi dengan spanduk-spanduk sudah dilakukan. “Desa yang menjadi lahan terbakar akan terus dipantau. Bila ditemukan pembakar tentu akan ditindak sesuai aturan berlaku,” katanya.

Dijelaskan, dari informasi terbaru bahwa dalam dua hari ini kebakaran lahan masih terjadi di Kecamatan Woyla Barat, yakni mencapai 5 hektare. Sedangkan beberapa hari silam berhasil dipadamkan tim gabungan dari Polri, TNI, dan BPBD di dua titik di Kecamatan Meureubo dan Johan Pahlawan.

Kapolres Aceh Barat menjelaskan, pihaknya tahun 2017 menangani dua kasus pembakaran lahan yang ditingkatkan menjadi tersangka. Kedua kasus itu, yang pertama terjadi di Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, dan di Samatiga. Keduanya hingga kini masih dalam penyelidikan polisi.

Bobby kembali meminta keuchik untuk menyampaikan kepada warganya yang membuka kebun tidak membakar lahan, sehingga tidak terus meluas. “Mari kita jaga dan antisipasi, sehingga kebakaran lahan ke depan tidak lagi terulang di Aceh Barat. Ketika musim kemarau jangan ada yang main bakar ketika berkebun,” harapnya.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help