Citizen Reporter

“Diplomacy Engineering” di Harvard Model United Nations

Memiliki suatu keahlian tertentu di luar bidang studi (akademik), kata orangtua saya bisa membuat kita terbang ke tempat yang tak

“Diplomacy Engineering” di Harvard Model United Nations
QAEDI AUFAR SAIFUDDIN BANTASYAM

OLEH QAEDI AUFAR SAIFUDDIN BANTASYAM, Mahasiswa S1 Teknik Elektro di ITS Surabaya, melaporkan dari Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Memiliki suatu keahlian tertentu di luar bidang studi (akademik), kata orangtua saya bisa membuat kita terbang ke tempat yang tak pernah kita duga.

Ternyata benar. Saya saat ini berada di Boston, Amerika Serikat, berbekal kemampuan Bahasa Inggris. Ini bermula sejak di MTSAIN, kemudian ikut klub debat Bahasa Inggris saat di SMA Modal Bangsa Aceh. Saya pernah juara dalam beberapa kompetisi debat Bahasa Inggris tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya, tempat saya kuliah, klub debat Bahasa Inggris ITS sedikit pasif. Karena itu saya memutuskan bergabung dengan ITS Model United Nations Club yang ada di ITS. Maka babak baru pun hadir di depan saya. Pengetahuan atau wawasan saya tentang dunia internasional, khususnya cara kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi bertambah, termasuk teman-teman baru dengan motivasi sangat tinggi.

Buahnya terasa, bisa ke Amerika Serikat! Saya dan kawan-kawan berkesempatan mewakili tidak hanya universitas saya, juga Indonesia dalam ajang Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2018 di Boston. Beberapa universitas yang mewakili Indonesia, di antaranya ITS, UGM, UB, UI, dan UPH. Jumlah delegasi yang dibawa pun bervariasi tergantung setiap universitas. ITS sendiri mengirimkan delapan delegasi.

Pada Jumat, 9 Februari lalu kami ke AS dengan rute Jakarta-Dubai (10 jam)-New York (14,5 jam). Sengaja singgah dulu di New York agar pulih dari jet leg. Kami sempat ke Central Park dan Time Squere serta beraudiensi dengan Perwakilan Tetap RI di PBB yang berkantor di New York. Pada 13 Februari kami naik bus ke Boston, Massachusetts yang menjadi tujuan utama perjalanan kami.

Model United Nations (MUN) adalah suatu simulasi konferensi PBB. Dalam simulasi konferensi tersebut peserta menjadi delegasi suatu negara, tetapi dalam model MUN pada level internasional, peserta tak diizinkan mewakili negaranya sendiri, melainkan harus negara lain.

Saya dan partner saya, Mumtaza Risky Iswanda, Mahasiswa Teknik mesin angkatan 2014 (saya angkatan 2016) ditugaskan mewakili Tajikistan. Hal inilah yang membuat MUN menarik, karena kami dapat berperan menjadi delegasi negara tertentu untuk PBB. Peran ini bukan hanya sebuah “peran” melainkan kami harus mengerti A-Z negara tersebut dan semua keputusan serta ucapan yang kami katakan dan perbuat, harus sesuai dengan kebijakan politik dalam dan luar negeri Tajikistan.

Sebagai delegasi Tajikistan, saya ditugaskan dalam council Disarmament and International Security Committee (DISEC) yang membahas topik Countering Terrorist Networks atau mencegah penyebaran jaringan teroris. Di akhir konferensi yang berlangsung empat hari, kami harus dapat menghasilkan sebuah resolusi (seperti layaknya Resolusi PBB di kehidupan nyata) yang harus dapat diimplementasikan secara global dan tidak melanggar kaidah hak asasi manusia.

Pemenang juara 1, 2, dan 3 didasarkan pada delegasi mana yang mampu memimpin jalannya konferensi secara baik, mampu melakukan negosiasi dengan negara lain dalam membuat resolusi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved