Home »

Opini

Opini

Merajut Ukhuwah Melalui Masjid

SETIAP muslim yang muttaqin, pasti merasa senang dan bangga dengan informasi Alquran seperti tersebut di atas

Merajut Ukhuwah Melalui Masjid
Siswa sebagai peserta program peningkatan kualitas hafiz dan dakwah Islam di Kabupaten Abdya, berlatih untuk menghafal Alquran, mensetor halaman Alquran yang sudah mampu dihafal kepada pelatih/pemateri berasal dari Pesantren Nurul Fikri Lembang, Jawa Barat. SERAMBI/ZAINUN YUSUF 

Oleh Abdul Gani Isa

“Sesungguhnya yang memakamurkan masjid-masjid Allah itu adalah orang yang beriman pada Allah dan hari akhirat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Mereka pasti dari golongan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah.” (QS. at-Taubah: 18)

SETIAP muslim yang muttaqin, pasti merasa senang dan bangga dengan informasi Alquran seperti tersebut di atas, karena setidaknya ada tiga hal yang menjadi pilar kehidupan umat Islam, yaitu Alquran, sunnah Rasulullah saw, dan masjid. Ketiga pilar ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Bila ketiga pilar tersebut tegak dengan baik dan kokoh dalam kehidupan umat Islam, maka mereka eksis dan berjaya dalam kehidupan dunia dan sukses pula di akhirat.

Allah Swt, sebagai Pencipta dan Penguasa tunggal alam ini telah merancang Alquran sebagai mainstream kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Sebab itu, Alquran Allah namakan dengan “jalan hidup” atau the way of life (QS. al-Fatihah: 2), “cahaya” (QS. al-Maidah: 15), “nyawa/spirit” (QS. asy-Syura: 52), dan “pelajaran”, “obat” dan “petunjuk hidup” (QS. Yunus: 57). Sunnah Rasul saw sebagai penjelas dan perinci nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran, yang bersifat umum (QS. an-Nahl: 44). Sedangkan masjid sebagai sekolah dan sekaligus laboratorium praktikum nilai-nilai Alquran dan Sunnah Rasul saw.

Tanpa ketiga unsur tersebut, umat Islam hari ini dan yang akan datang, tidak akan pernah eksis dan maju sebagaimana yang dicapai oleh umat Islam selama lebih kurang 13 abad lamanya. Masjid itu satu-satunya wadah yang memiliki peran yang amat besar dan holistik dalam melahirkan pribadi-pribadi dan jamaah yang berkualitas dan profesional. Masjid menjadi kebutuhan hidup umat Islam, sejak mereka lahir sampai mati, yakni saat sebelum mereka diantarkan ke liang kubur, mereka pun dishalatkan di dalam masjid.

Dalam Alquran terdapat kata Masjidil Haram sebanyak 14 kali, Masjid Aqsha satu kali, dalam bentuk plural (masajid) empat kali dan kata bait (rumah) satu kali dan plural (buyut) satu kali. Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran masjid yang Allah rancang untuk keberhasilan hidup kaum Muslimin.

Pusat kegiatan umat
Pada zaman Rasulullah saw, masjid sebagai tempat dan pusat segala kegiatan umat. Merupakan modal dasar dan utama tempat dan pusat ibadah, pendidikan, pelatihan, dan kegiatan kemasyarakatan, seperti berkumpul, bersilaturahim, media informasi, menerima tamu, rapat-rapat bahkan pernah komando perang pun di masjid. Jadi secara historis fungsional, masjid bukan hanya untuk shalat dan ibadah dalam pengertian sempit, tetapi juga tempat untuk kegiatan pemberdayaan (empowering) umat secara umum.

Kegiatan pemberdayaan umat yang terarah mendorong bagi terwujudnya masyarakat madani yang berakhlak mulia. Suatu tatanan masyarakat yang memiliki aspek being, yaitu iman dan takwa, serta aspek having menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara utuh menyeluruh. Sehingga mampu mensinergikan secara dinamis, bahu-membahu, tolong-menolong, dan bekerja sama dalam kebaikan membangun persatuan, kesatuan umat dan bangsa dalam kebhinnekaan, yang akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan. Dengan demikian makna memakmurkan masjid mencakup dakwah keagamaan dan kenegaraan secara harmonis, yang memancarkan cahaya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Mengingat peran masjid begitu besar dalam merajut dan merekatkan kebersamaan dan persatuan umat, seperti telah dibuktikan sejak masa Rasul dan masa sesudahnya. Masjid sebagai universitas kehidupan yang di dalamnya dipelajari semua cabang ilmu pengetahuan, mulai masalah keimanan, ibadah, syariah (sistem hidup Islam), akhlak, jihad (perang), politik, ekonomi, budaya, manajemen, media massa, dan sebagainya. Masjid juga sebagai wadah penanaman keimanan karena Allah tidak menjadikan tempat lain semulia masjid. Bahkan Allah menegaskan masjid itu adalah rumah-Nya di muka bumi (QS. Ali Imran: 96). Sebab, Masjid itu adalah milik-Nya.

Penanaman dan pembinaan keimanan harus dimulai dan dilakukan di dalamnya (QS. al-Jin: 18). Orang yang berada di masjid adalah tamu Allah. Sebab itu, tidaklah heran jika Rasul saw mewajibkan umat Islam setiap hari ke masjid, khususnya kaum lelaki, untuk menunaikan shalat fardhu 5 kali sehari berjamaah. Bahkan, berdiam diri (i’tikaf) di masjid adalah ibadah yang akan menambah kekuatan dan kelezatan iman, apalagi melakukan ibadah-ibadah besar lainnya, seperti mempelajari Alquran, berzikir dan sebagainya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help