Home »

Opini

Opini

‘The Power of Love’

CUPLIKAN sajak di atas merupakan gubahan Buya Hamka dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang mengungkapkan

‘The Power of Love’
Umat muslim membaca Alquran pada hari pertama Ramadan 1437 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Adnan

“Cinta itu bukan membawa tangis dan bukan membuat putus asa. Cinta itu menguatkan hati dan menghidupkan pengharapan.” (Buya Hamka)

CUPLIKAN sajak di atas merupakan gubahan Buya Hamka dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang mengungkapkan tentang kekuatan cinta (the power of love). Cinta bukan hanya sekadar retorika dan pemanis bibir belaka. Tapi, cinta memberikan dorongan, sugesti, dan motivasi bagi siapa saja dalam kehidupan. Bahkan, kesuksesan dan keberhasilan seseorang merupakan bukti konkret dari kekuatan cinta. Cinta yang telah menggerakkan jiwa seseorang untuk sukses dan berhasil. Sebab itu, cinta merupakan unsur dahsyat dalam jiwa manusia yang harus dipupuk dan disirami agar mekar dan subur sepanjang masa.

Lebih jauh dari itu, cinta merupakan fitrah yang telah dianugerahkan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Seekor induk ayam misalnya, ia rela mengerami telur selama 21 hari hingga menetas, meskipun ia kelaparan dan rontok bulu di perutnya. Bukan hanya itu, ketika telur menetas maka induk ayam siap menjaga dan merawat anak-anaknya. Bahkan, ia lebih mendahulukan anak-anaknya ketika mendapatkan makanan dari pada memenuhi perutnya sendiri. Induk ayam tersebut melakukan itu disebabkan karena fitrah cinta kepada anak-anaknya yang telah diberikan Allah Swt kepadanya.

Pun, manusia sebagai makhluk sempurna (insan kamil) yang diciptakan Allah Swt juga memiliki fitrah cinta. Artinya, cinta bukan diperoleh dari diamati dan dipelajari, tapi cinta merupakan unsur bawaan (fitrah) yang dianugerahkan Allah Swt. Maka cinta sulit untuk didefinisikan secara konkret. Sebab, cinta merupakan sesuatu yang abstrak, ia tidak bisa dilihat tapi dapat dirasakan. Perilaku seseorang merupakan gejala cinta yang bersemayam di dalam jiwa. Secara kasat mata kita dapat membedakan antara memberi dengan cinta atau dusta dan tipu-daya. Pemberian atas dasar cinta akan menggembirakan, mengasyikkan, dan membahagiakan.

Sejarah mencatat seorang wanita sufi bernama Rabiatul Adawiyah. Ia merupakan seorang sufi yang benar-benar jatuh cinta dengan cinta. Kecintaannya kepada Allah Swt mengalahkan cinta kepada dunia, harta, dan takhta. Bahkan, ia beramal bukan lagi karena ingin masuk surga, pun ia meninggalkan kemaksiatan bukan karena takut neraka. Tapi, ia beramal dan meninggalkan kemaksiatan hanya berharap ridha Allah Swt. “Seandainya aku beribadah ingin surga-Mu, maka jauhkanlah aku dari surga itu, jika aku meninggalkan maksiat karena takut neraka-Mu, maka masukkan aku ke dalam neraka itu. Aku hanya ingin cinta dan ridha-Mu,” ungkapnya.

Teladan cinta
Berikut teladan cinta yang dapat dipetik dari dua “manusia super” yang telah Allah Swt hadirkan ke dunia ini, yakni: Pertama, kecintaan Rasulullah Saw kepada umat. Dalam sejarah diungkap bahwa kecintaan Rasulullah Saw kepada umat tidak diragukan. Kecintaannya kepada umat bukan hanya di dunia semata, tapi juga di akhirat kelak. Cintanya kepada umat terlihat dari gejala cinta yang ditunjukkan melalui perilakunya. Semisal, bersusah-payah berdakwah untuk mengajak manusia agar beriman kepada Allah Swt, meskipun mendapatkan teror fisik dan psikis.

Pada periode dakwah secara terang-terangan teror semakin gencar dihadapi Rasulullah saw. Teror digencarkan oleh kaum musyrikin bertujuan agar Rasulullah saw menghentikan dakwah. Tapi, berbagai teror dihadapi dengan tenang, sabar, dan tabah. Bahkan, Rasulullah saw tidak akan bergeming untuk terus berdakwah, “Seandainya matahari diletakkan di tangan kananku, dan bulan diletakkan di tangan kiriku untuk menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan meninggalkan risalah dakwah ini.” Ungkapan itu pasti keluar karena cinta. Yakni kecintaan Rasulullah saw kepada umat, untuk membebaskan manusia dari belenggu kemusyrikan dan kebodohan.

Selain itu, meskipun mendapatkan teror dalam berdakwah, tapi Rasulullah Saw tetap teguh mengedepankan kesejukan, kelembutan, dan kesabaran dalam berdakwah. Sebagaimana firman Allah Swt, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 159).

Kedua, kecintaan ibu kepada anak. Ibu merupakan keramat bagi anak. Setiap doa yang diucapkannya mustajab disisi Allah Swt, meskipun doa jelek. Kita ingat sejarah Al-Qamah, di mana ia tidak mampu mengucapkan kalimat tauhid saat sakaratul maut, karena durhaka kepada ibunya hingga ia memaafkan. Budaya luhur kita pun mengenal sejarah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu disebabkan durhaka kepada ibunya. Gubahan syair Rhoma Irama hendaknya menjadi renungan bagi kita, “Bukannya gunung tempat meminta, bukan lautan tempat memuja. Bukan dukun tempat menghiba, bukan kuburan tempat memohon doa. Tiada keramat yang ampuh di dunia, selain dari doa ibu juga”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help