Home »

Opini

Opini

Diplomasi ‘Zaman Now’

DINAMIKA internasional selama 2017 lalu dan awal 2018 ini, masih menunjukkan sejumlah kekisruhan diplomatik

Diplomasi ‘Zaman Now’
Ilustrasi kapal perang Nazi Bismarck | Pinterest 

Oleh Erwin Siddiq

DINAMIKA internasional selama 2017 lalu dan awal 2018 ini, masih menunjukkan sejumlah kekisruhan diplomatik yang disebabkan oleh dinamisnya isu-isu internasional, seperti kecaman/desakan dari civil society di beberapa negara terhadap Myanmar karena isu Rakhine State, masih memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) - Korea Utara (Korut) dengan uji coba rudal nuklir dan pergelaran militer AS-Korea Selatan di Semenanjung Korea. Belum lagi perkembangan kisruh Qatar dengan Negara-negara Teluk, konflik Timur Tengah pascakeputusan Presiden AS Donald Trump terhadap status Yerusalem, belum redanya perang saudara di Suriah, Yaman, Libya, serta teror bom di Afghanistan (27/1/2018) mewarnai cakrawala pemberitaan internasional.

Pada tataran internasional, hubungan diplomatik sangat menentukan konstelasi internasional, seperti kemesraan AS-Israel di fora internasional dalam isu Palestina, soliditas aliansi NATO (North Atlantic Treaty Organization) dalam kerja sama militer pertahanan, Soliditas negara-negara Afrika (Uni Afrika) untuk kemajuan Benua Afrika, termasuk memberi perlindungan hukum bagi kepala negara dari Afrika yang menjadi incaran Mahkamah Pidana Internasional ICC (International Criminal Court) di Den Haaq, Belanda dengan mengabaikan Statuta Roma oleh negara pihak di Afrika yang seharusnya terikat untuk menangkap siapapun yang menjadi incaran ICC guna dibawa ke pengadilan tersebut.

Pada tataran regional, ASEAN (Association of South-East Asian Nations) juga semakin menunjukkan kematangan organisasi. Setiap peringatan/resepsi diplomatik juga menjadi tongak sejarah/momentum kemajuan diplomatik dan meningkatkan kerja sama, seperti perayaan 50 tahun ASEAN sejak deklarasi Bangkok (1967). Begitu juga lingkup bilateral, seperti perayaan hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia ke-60 atau Indonesia-Singapura ke-50 (2017).

Evolusi sejarah
Jika berkaca pada sejarah, perkembangan diplomasi merupakan evolusi sejarah, di mana masa Romawi setiap utusan (sekarang disebut diplomat), termasuk pedagang yang melintasi batas wilayah membawa surat diploma dengan cap khusus (sekarang disebut passport). Begitu pula bagi pemegang surat diploma/surat kepercayaan (sekarang Letters of Credence atau Credentials) dari negara asal (sending state) akan mendapat perlakuan khusus sebagai penghormatan dengan memperoleh hak istimewa serta kekebalan diplomatik di negara ditempatkan diplomat atau seorang Duta Besar beserta keluarganya, sebagaimana diatur dalam Konvensi Wina (Vienna Convention on Diplomatic Relations, 1961 dan Vienna Convention on Consuler Relations, 1963).

Sebagai catatan dalam urusan diplomatik sangat erat pengaruh kebiasaan internasional yang terima secara umum, baik sebagai kesopanan maupun sebagai bentuk balasan yang cenderung berdampak pada pemberlakuaan yang sama/setara (resiprokal). Sebagai contoh keputusan diplomatik dan sikap politik suatu negara selalu ditujukan guna menyampaikan pesan jelas kepada negara lain, seperti dinamisnya hubungan AS-Rusia dimana pada 2016 Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pemangkasan jumlah Diplomat AS dan pembekuan kompleks diplomatik AS di Rusia sebagai bentuk protes/balasan atas sanksi yang dijatuhkan Donald Trump.

Hubungan diplomatik sangat menekankan pada penghargaan/penghormatan atas kedaulatan negara pihak yang sederajat. Kita masih ingat bagaimana Pemerintah Malaysia yang sampai mengusir Dubes Korut untuk Malaysia, Kang Chol (persona non grata) setelah Korut tidak meminta maaf atas tudingan ke Malaysia terkait tewasnya Kim Jong-Nam (Saudara pemimpin Korut Kim Jong-Un) sampai tuduhan perkongkolan dengan Korsel (musuh Korut). Padahal kedua negara telah menjalin hubungan baik sejak 1970-an dan memburuk akibat tewasnya Jong-Nam (Februari 2017). Tidak hanya mengusir Dubes Korut, Malaysia juga mencabut bebas visa antara kedua negara.

Pemerintah Indonesia juga pernah mengalami ketersingungan dengan Brasil (2015) akibat dari sikap Presiden Brasil Dilma Rousseff yang menunda menerima Duta Besar designate Indonesia untuk Brazil, Toto Riyanto sebagai dampak eksekusi mati pengedar narkoba asal Brasil. Namun hubungan diplomatik tersebut kembali cair pada akhir 2015 dengan adanya penerimaan kembali Duta Besar RI oleh Presiden Brasil dan hubungan bilateral menunjukkan kemajuan dengan kebijakan pembebasan visa bagi warga Brasil yang berkunjung ke Indonesia.

Zaman now, semua negara cenderung menghadapi perubahan internasional dengan mengedepankan dialog (komunikasi) dan bersiasat dari tekanan globalisasi guna dapat mengambil peluang/keuntungan. Hal ini sebagaimana ditunjukan dengan pulihnya hubungan diplomatik Mesir-Israel (2015) dengan sejarah damai 1979. Begitu pula hubungan negara-negara Arab lainnya dengan Israel, khususnya perdagangan. Meski tidak secara terbuka, peningkatan hubungan negara-negara Islam tersebut ibarat “Teman tapi Mesra” yang cenderung mengubah pandangan terhadap Israel bukan lagi sebagai musuh, tapi sebagai sekutu dalam menghadapi tantangan regional. Begitu pula perkembangan di benua Amerika, dimana membaiknya hubungan AS-Kuba yang membuka kembali hubungan diplomatik (2015) pasca lebih dari lima dekade bermusuhan dengan penerapan embargo AS sebagai mantan musuh Perang Dingin (1961).

Upaya dalam mejaga hubungan baik selalu ditunjukan oleh kebanyakan negara, katakanlah hubungan Cina dengan negara-negara claim state dalam sengketa Laut Cina Selatan (LCS), seperti Cina-Filipina pasca-keputusan Mahkamah Arbitrase yang memenangkan Filipina atas sengketa di LCS (2016). Meski Cina tidak menerima dan tidak mematuhi keputusan tersebut, namun kedua negara tetap membina hubungan diplomatik dengan baik sebagaimana saling kunjung kepala negara/pejabat kedua negara. Begitu juga sejumlah upaya bersama negara-negara regional ASEAN, guna menjaga perdamaian dan stabilitas di LCS. Tantangan terkini dengan meningkatnya para aktor diplomasi dan dinamisnya perkembangan hubungan internasional yang merupakan keniscayaan dari globalisasi dan liberalisasi.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help