Murid SDN Jontor Meninggal Ditimpa Pohon

Seorang murid Sekolah Dasar (SD) Jontor, Kota Subulussalam, Amsal Alfredo Solin (12) dilaporkan meninggal dunia

Murid SDN Jontor  Meninggal Ditimpa Pohon
PELAJAR MTsN Matangkuli, Aceh Utara membersihkan lumpur di ruang belajar setelah banjir merendam sekolah tersebut lima hari lalu. Foto direkam Senin (13/11). 

* Guru dan Penjaga Sekolah Jadi Tersangka

SUBULUSSALAM - Seorang murid Sekolah Dasar (SD) Jontor, Kota Subulussalam, Amsal Alfredo Solin (12) dilaporkan meninggal dunia akibat terkena pecahan pohon kayu yang ditebang guru dan penjaga sekolah.

“Benar, ada kejadian murid meninggal akibat penebangan pohon di sekitar sekolah,” kata Kapolres Aceh Singkil, AKBP Ian Rizkian Milyardin SIK melalui Kapolsek Penanggalan Iptu Arifin Ahmad kepada Serambi, Jumat (23/2).

Awalnya, Bantu Solin (41), ayah kandung korban, mendapat kabar anaknya tertimpa pohon sekitar pukul 10.00 WIB. Mengetahui kejadian itu Bantu Solin menjenguk anaknya ke RSUD Subulussalam.

Selanjutnya, ia bertemu seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut dan menjelaskan korban tertimpa kayu tumbang. Akhirnya, Bantu mengecek langsung ke sekolah. Ia kaget saat mendapati bahwa pohon itu bukan tumbang karena diterpa badai, tapi justru karena sengaja ditebang dan menimpa anaknya. Lalu ia laporkan kejadian itu ke Polsek Penanggalan, Kota Subulussalam.

Polisi pun menetapkan dua tersangka dalam kasus tindak pidana tersebut dengan sangkaan akibat kelalaian mereka menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

Kedua tersangka tersebut adalah RC (37), penjaga sekolah dan RSB, guru honorer SDN Jontor. Keduanya menjadi tersangka lantaran lalai dalam menebang pohon tersebut sehingga menyebabkan salah seorang murid di sana meninggal dunia.

Kapolsek Penanggalan Iptu Arifin mengatakan, peristiwa nahas itu terjadi Senin (19/2) lalu. Korban bernama Amsal Alfredo Solin (12) murid kelas VI SDN Jontor, Kecamatan Penanggalan.

Kronologis kejadian berawal adanya dua batang pohon yang telah mati, namun masih berdiri tegak di sekitar sekolah. Pohon yang mulai mengering ini kabarnya sering dikomplain warga sekitar karena dikhatirkan akan tumbang dan berbahaya. Akhirnya, kepala sekolah pun meminta salah seorang guru honorer berinisial R untuk mencari tukang tebang.

Lantaran tidak menemukan penebang kayu, terlapor R akhirnya membijaki untuk menebang dengan mengajak rekannya berinisial RC (37) penjaga sekolah terkait. Keduanya pun menebang kayu yang berada di belakang gedung perpustakaan sekolah. Namun, lan jut Kapolsek Iptu Arifin, nahas lantaran penebangan tidak sesuai rencana lantaran pohon menimpa gedung perpustakaan yang jaraknya hanya lima meter dari pohon.

Selain menimpa bagian atap perpustakaan, pecahan pohon turut mengenai salah seorang murid hingga mengalami luka serius. Bahkan, akibat luka parah murid malang itu akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Selain murid, salah seorang guru di sana juga terkena pecahan kaca. Sementara bocah malang yang menjadi korban akhirnya meninggal satu hari pascakejadian setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Kapolsek Iptu Arifin Ahmad mengatakan, semula kedua tersangka sempat ditahan, namun atas permohonan keluarga serta pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) alhasil penahanannya ditangguhkan.

Penangguhan itu atas berbagai pertimbangan, termasuk keduanya kooperatif dalam proses pemeriksaan oleh kepolisian.”Kedua tersangka sempat ditahan, tapi ditangguhkan, karena ada permohonan termasuk dari dinas, sebab satu guru honorer ini sangat dibutuhkan juga di sekolah begitu pula penjaga sekolah. Jadi, ada berbagai pertimbangan, apalagi keduanya juga kooperatif saat pemeriksaan,” terang Iptu Arifin. (lid)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help