Petani Segera Ambil Alih Kebun Plasma

Sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) petani berencana mengambil alih pengelolaan 500 hektare (ha) kebun plasma binaan perusahaan perkebunan

Petani Segera Ambil  Alih Kebun Plasma
Mongabay
Sebuah kebun sawit milik warga di Trumon yang masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. 

* 10 Tahun Menunggu tak Ada Kepastian dari PT DPL

BLANGPIDIE - Sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) petani berencana mengambil alih pengelolaan 500 hektare (ha) kebun plasma binaan perusahaan perkebunan HGU PT Dua Perkasa Lestari (DPL) di kawasan Alue Mantri, Desa Rukoen Damee, Kecamatan Babahrot.

Kebun plasma seluas 2 hektare per KK itu dijanjikan manajemen perusahaan, namun setelah menunggu 10 tahun tidak ada kejelasan.

“Kami segera turun ke lokasi untuk mengambil alih pengelolaan kebun plasma seluas 500 hektare dari PT DPL yang berlokasi blok 8 sampai blok 24,” kata Zakir Syah, koordinator Kelompok Tani Binaan PT DPL kepada Serambi, Kamis (22/2).

Zakir Syah mengatakan keputusan mengambil alih kebun plasma seluas 500 ha terpaksa dilakukan karena manajemen perusahaan dalam hal ini Dirut PT DPL dinilai tidak punya niat lagi untuk menyerahkan kebun plasma tersebut kapada kelompok petani binaan yang dijanjikan pada awal pengajuan izin HGU.

“Kami sudah menunggu selama 10 tahun atau sejak 2007, namun tidak ada kepastian,” katanya.

Kebun binaan yang segera diambil alih tersebut berlokasi sejak blok 8 sampai blok 24 kawasan Alue Mantri, Desa Rukoen Damee (pemekaran Desa Pantee Rakyat) atau pada lintasan Jalan 30 atau Jalan Lingkar Ie Mirah (Babahrot)-Surin (Kuala Batee).

Kebun plasma seluas 500 ha yang segera diambil tersebut, menurut Zakir awalnya merupakan tanah garapan petani (masyarakat), kemudian dimasukkan menjadi lahan HGU PT DPL pada proses awal pengajuan izin HGU tahun 2007.

Lalu, pemerintah mengeluarkan sertifikat HGU kepada PT DPL dengan luas areal seluruhnya sekitar 2.600 ha.

Pada tahun 2007, katanya, Direktur PT DPL, Said Syamsul Bahri berjanji memberikan kebun plasma yang ditanami kelapa sawit seluas 500 ha kepada 250 KK yang tergabung dalam 6 kelompok tani binaan.

”Belakangan, sepertinya janji tersebut diingkari, sehingga tak ada jalan lain bagi kami, kecuali mengambil alih pengeloaan kebun plasma tersebut. Lagi pula, lahan yang dijadikan areal kebun plasma tersebut awalnya memang lahan yang digarap petani bersangkutan,” ungkap Zakir Syah.

Menolak Ingkar Janji
SEMENTARA itu Dirut PT Dua Perkasa Lestari (DPL) H Said Syamsul Bahri kepada Serambi, Jumat (23/2) mengatakan prinsipnya kebun plasma seluas 20 persen dari luas areal tetap ada karena sudah diatur.

“Saya tak mau dituduh ingkar janji,” tegasnya. Hanya saja, menurut Said, areal kebun plasma kelompok petanibinaan sebanyak 20 persen dari luas areal HGU belum dapat diperjelas sekarang ini lantaran areal HGU seluas sekitar 2.600 ha belum habis ditanam seluruhnya, malahan masih ada infrastruktur jalan belum dibangun.

“Setelah lahan seluruhnya tuntas ditanami, baru diperjelas kebun plasma kelompok petani binaan seluas 20 persen atau sekitar 500 ha,” kata mantan Ketua DPRD Abdya, itu.

Said mengatakan, kebun plasma tersebut tidak bisa dibagi untuk dikelola langsung oleh anggota kelompok binaan, tapi pengelolaannya adalah pola kemitraan antara perusahaan dengan kelompok petani binaan berdasarkan hasil kesepakatan nanti.(nun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved