Opini

Sampah dan Musibah Kemanusiaan

PRODUKSI sampah di Indonesia semakin mengerikan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)

Sampah dan Musibah Kemanusiaan
SERAMBI/FERIZAL HASAN
Tumpukan sampah yang sudah berbau busuk di Jalan Dusun Cureh Selatan, Desa Geulanggang Gampong menuju Desa Blang Tingkeum, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, sangat mengganggu warga setempat dan pelintas. Foto diambil Jumat (17/11). SERAMBI/FERIZAL HASAN 

Oleh Asmaul Husna

PRODUKSI sampah di Indonesia semakin mengerikan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan, produksi sampah masyarakat Indonesia mencapai 65 juta ton per harinya. Hasil riset yang dilakukan oleh seorang peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, pada 2015 juga menyebutkan bahwa Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setelah Cina. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton (Kompas.com, 5/12/2017).

Puluhan juta ton sampah yang dihasilkan per hari tentu bukan sebuah angka yang sedikit. Kita miris dengan kenyataan bahwa puluhan juta ton yang dihasilkan per hari tersebut adalah sampah, bukan hasil pertanian yang bisa diekspor ke luar negeri. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa produksi sampah yang kita hasilkan setiap hari telah ikut menyumbang untuk menguburkan planet bumi. Sampah plastik memang bisa didaur ulang, tapi mayoritas plastik dunia memang dirancang untuk dibuang.

Bukan persoalan sepele
Selama ini banyak orang berpikir bahwa sampah hanyalah persoalan sepele. Sampah hanya bersifat kotor dan efeknya tidak sampai berdarah. Sampah dianggap tidak sebahaya korupsi atau pun melanggar hak asasi. Namun nyatanya sampah bisa berakibat fatal hingga merenggut nyawa. Pada 2005 silam, 157 warga Leuwigajah di Jawa Barat meninggal akibat curah hujan tinggi dan ledakan gas metana pada tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, dua kampung juga harus hilang dari peta karena digulung longsoran sampah dari TPA. Peristiwa itu pula yang kemudian menjadi cikal bakal penetapan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Tidak hanya itu, sampah yang konon persoalan sepele dan pribadi itu telah merusak lingkungan dan menyakiti makhluk Tuhan lainnya. Di Kenya, ada sebuah rumah sakit penyu yang khusus merawat hewan yang menelan limbah plastik. Di rumah sakit tersebut, kebanyakan penyu dirawat karena mengalami pembengkakan di bagian perut, karena terlalu banyak mengonsumsi plastik. Sebagian penyu lainnya juga harus dirawat, sebab hidungnya berdarah karena tidak sengaja menelan sampah sedotan minuman, sesuatu yang sama sekali tidak pernah digunakannya.

Penyu adalah contoh kecil bagaimana sampah yang dihasilkan manusia telah merusak kehidupan makhluk Tuhan lainnya. Ia harus menjadi tumbal dari keserakahan dan keganasan manusia mengeksploitasi bumi dan berlaku sewenang-wenang di atas semua daratan dan lautan. Jika sedotan plastik saja bisa menyakiti makhluk lain, lalu bagaimana dengan puluhan ton sampah yang kita hasilkan setiap harinya? Botol air mineral, bungkusan snack, limbah rumah tangga, dan beragam sampah lainnya. Ke mana sampah-sampah tersebut bermuara? Siapa lagi yang akan menjadi korban ulah manusia dengan puluhan ton sampah itu?

Terlepas penyu sebagai korban, sebelumnya mayoritas masyarakat juga paham bahwa jika tidak dikelola dengan baik, maka keberadaan sampah kerap memicu malapetaka. Sebut saja, meluapnya air sungai karena tumpukan sampah sehingga mengakibatkan banjir. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah sungguh jadi masalah. Jika dibuang, plastiknya akan mencemari lingkungan. Jika dibakar, asapnya mencemari udara. Jika tidak dibakar, sampah juga mencemari lingkungan sekitar. Peristiwa naas di Leuwigajah adalah contoh nyata bagaimana sampah bisa menjadi sumber masalah besar.

Tidak menghasilkan sampah memang tidak mudah, tapi kita bisa mengurangi jumlahnya. Upaya menjaga lingkungan tentu tidak hanya bicara dampak perkebunan sawit atau pun menebang pohon sembarangan, tapi juga dimulai dari hal-hal kecil. Jika kerusakan lingkungan disebabkan oleh pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit yang notabenenya dilakukan oleh orang kaya, maka kita bisa menjaganya dengan mengurangi jumlah penggunaan sampah. Karena kontribusi perusakan lingkungan tidak hanya dengan melakukan ilegal logging, tapi juga dari produksi sampah yang dihasilkan setiap hari.

Jika hari ini kita menganggap bahwa tidak membuang sampah sembarangan sudah merasa paripurna dalam menjaga lingkungan, maka anggapan tersebut keliru. Nyatanya, tidak membuang sampah sembarangan adalah selemah-lemah iman penjagaan lingkungan. Sampah yang dihasilkan akan menumpuk di TPA yang boleh jadi kemudian bermuara ke lautan. Kita tidak pernah tahu, siapa yang akan tersakiti dari sampah yang kita hasilkan tersebut. Boleh jadi penyu yang memakan limbah plastik, ikan yang teracuni dengan zat-zat kimia, atau bahkan kematian manusia. Jika membuang sampah pada tempatnya saja dilihat selemah-lemah iman penjagaan lingkungan, lalu bagaimana dengan yang membuang sampah sembarangan?

Mengurangi produksi sampah
Melihat kondisi lingkungan yang semakin dikubur dengan limbah plastik, maka mengurangi pemakaian plastik perlu digalakkan untuk mengurangi produksi sampah. Misalnya gerakan membawa air minum dalam botol untuk mengurangi produksi sampah yang dihasilkan dari botol air mineral. Walau terkesannya sederhana, gerakan ini akan berpengaruh untuk mengurangi jumlah penggunaan sampah plastik sehari-hari. Perhitungannya sederhana, jika setiap orang yang beraktivitas di luar rumah atau di satu instansi masing-masing membawa air minum dalam botol sendiri, maka berapa banyak sampah botol yang bisa dikurangi karena membeli air mineral.

Begitu juga bagi siswa di sekolah-sekolah perlu mengurangi jajanan yang dibungkus dengan plastik. Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, misalnya. Menurut penuturan guru di sekolah tersebut bahwa kini kantin di Sekolah Sukma Bangsa mulai membiasakan diri untuk tidak lagi menggunakan plastik sebagai pembungkus makanan, tapi menggunakan daun pisang. Begitu juga dengan minuman yang diisi ulang ke botol minum masing-masing siswa. Ini memang terkesan kembali ke zaman dulu. Sangat tradisional. Tapi alam tidak butuh kemodernan jika itu hanya akan merusak lingkungan.

Namun upaya untuk mengurangi sampah dengan membawa botol minuman sendiri dan tidak membeli air minum mineral bukan berarti tanpa kendala. Bagi sebagian orang, membawa botol minum sendiri dianggap merepotkan. Bagi sebagian lelaki ini malah dianggap sedikit memalukan. Adanya pernyataan yang kerap terdengar bahwa lelaki yang membawa botol minuman sendiri terlihat seperti perempuan atau pun anak TK. Padahal tidak akan turun derajat serta harkat dan martabat laki-laki hanya karena membawa botol minum dari rumah.

Terlepas dari itu semua, tidak selamanya upaya menyelamatkan lingkungan harus bicara tentang hutan dan undang-undang. Banyak upaya kecil yang berdampak besar yang bisa dilakukan. Walau pemerintah dan pengusaha berperan besar untuk menyelamatkan lingkungan melalui undang-undang dan bijaknya mengelola usaha, masyarakat juga bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Sampah plastik tidaklah sesederhana tagline iklan detergen yang menyebutkan bahwa berani kotor itu baik. Karena nyatanya, sampah tersebut tidak bisa membusuk dan mengundang bencana bahkan pada makhluk Tuhan yang tidak pernah menggunakannya.

Tidak perlu banyak teori untuk ikut menyelamatkan bumi. Mengurangi sampah berarti mengurangi jumlah bencana. Dosa terhadap alam dan kemanusiaan ini harus segera dihentikan. Selamat Hari Peduli Sampah Nasional!

Asmaul Husna, pegiat di Indonesia Climate Tracker dan Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe. Email: hasmaul64@yahoo.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved