Citizen Reporter

Spirit Cinta dari Jabal Nur

SHALAT Isya berjamaah di Masjidil Haram Mekkah yang diimami Syeikh Abdurrahman bin Abdil Azis As-Sudais baru saja selesai

Spirit Cinta dari Jabal Nur
Hj NUR ASIAH IBRAHIM

Hj NUR ASIAH IBRAHIM, pegiat majelis taklim sekaligus pembimbing jamaah umrah dan haji plus Aceh, melaporkan dari Mekkah Al-Mukarramah

SHALAT Isya berjamaah di Masjidil Haram Mekkah yang diimami Syeikh Abdurrahman bin Abdil Azis As-Sudais baru saja selesai. Udara musim dingin yang sedang menerpa Mekkah terasa seperti menusuk-nusuk tulang kami. Dari Masjidil Haram kami setengah berlari kembali ke hotel tempat menginap yang terletak sekitar 100 meter dari Baitullah.

Malam ini kami pulang lebih cepat dari Masjidil Haram karena akan berkunjung ke Gua Hira atau Jabal Nur. Bekunjung di waktu malam ke gua bersejarah ini lebih menghemat energi ketimbang di waktu siang hari yang panas terik.

Jabal Nur merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah Islam. Di gua inilah pada Senin, 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, Rasulullah saw menerima wahyu pertama. Menurut Ibnu Sa‘ad dalam Al-Thabaqat Al-Kubra, ketika menerima wahyu pertama itu Nabi Muhammad saw tengah khusyuk ber-tahannus di gua yang terletak di utara Masjidil Haram itu.

Ke tempat inilah malam ini kami pergi. Perjuangan mendaki bukit ini kami mulai dari tempat parkiran mobil yang mengantarkan kami dari hotel lokasi Gua Hira. Dari tempat ini kami harus berjalan menanjak dengan tingkat kecuraman 60 derajat. Jaraknya mungkin sekitar 50-60 meter ke kaki Gunung Jabal Nur.

Jarak Jabal Nur dengan Masjidil Haram kurang lebih 6 km. Tinggi puncak Jabal Nur kira-kira 200 meter, di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung, batu bukit dan jurang. Sekitar 5 meter dari puncak gunung terdapat sebuah lubang kecil. Itulah yang disebut Gua Hira.

Saat mendaki semua kami berjalan dengan badan condong ke depan. Beberapa orang jamaah kami berhenti sejenak sambil bertolak pinggang menahan lelah. Menarik napas sejenak untuk terus berjalan sambil tangan kami memegang lutut. Karena sangat lelah, ada pula yang berjalan merangkak. Jalanan menanjak miring, membuat perjalanan 60 meter menuju kaki Jabal Nur terasa sangat berat. Beberapa jamaah bahkan tak kuat melanjutkan perjalanan menuju puncak Jabal Nur.

Letak Gua Hira persis di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit. Panjang gua tersebut sekitar 3 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter, dan ketinggian sekitar 2 meter atau setinggi orang berdiri. Dengan luas seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan untuk shalat dua orang. Di bagian kanan gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup digunakan untuk shalat dalam keadaan duduk dan terdapat lubang kecil yang dapat dipergunakan untuk memandang kawasan bukit dan gunung arah Mekkah.

Begitu tiba di depan pintu gua, terdapat tulisan Arab ‘Ghor Hira’ dengan cat warna merah. Di atas tulisan itu terdapat tulisan dua ayat pertama Surat Al-‘Alaq dengan cat warna hijau. Gua Hira terletak persis di samping kiri tulisan tersebut.

Berat dan lelahnya mendaki Gua Hira membuktikan betapa kuat dan hebatnya Rasulullah saw dan Ummul Mukminin Siti Khadijah. Bayangkan, ketika itu jalanan menuju puncak Jabal Nur masih berupa bebatuan cadas. Rasulullah selama lima tahun bolak-balik ke tempat ini untukmengasingkan diri (berkhalwat) dari kehidupan maksiat Kota Mekkah.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved