Citizen Reporter

Saat Mahasiswa Asing Diuji dengan Suhu Dingin

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, Rusia selalu dilanda suhu dingin hingga ekstrem. Pada tahun 2012 tercatat

Saat Mahasiswa Asing Diuji dengan Suhu Dingin
ABDILLAH IMRON NASUTION

OLEH ABDILLAH IMRON NASUTION, Tenaga Pengajar di Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Rusia

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, Rusia selalu dilanda suhu dingin hingga ekstrem. Pada tahun 2012 tercatat di Siberia Timur hampir minus 60 derajat Clcius. Bahkan, jumlah orang yang meninggal di Rusia akibat suhu yang sangat rendah meningkat hingga 128 jiwa.

Media Rusia mengungkapkan bahwa lebih dari 1.700 orang menderita gangguan kesehatan akibat suhu yang sangat rendah. Tercatat lebih dari 250.000 anak tidak dapat bersekolah akibat suhu dingin. Suhu merupakan salah satu faktor penting yang diketahui dapat memengaruhi kehidupan.

Suhu dingin ini tidak hanya memberikan dampak negatif kepada kehidupan sosial masyarakat orang Rusia. Hal yang sama juga mengganggu proses dan hasil akademik ratusan ribu mahasiswa internasional yang menempuh pendidikan di Rusia.
Menurut catatan Russian Higher Education in Figures, lebih dari 220 ribu orang mahasiswa internasional menempuh pendidikan di Rusia. Dari jumlah tersebut, diketahui lebih 700 orang menempuh pendidikan di NArFU-Arkhangelsk, salah satu kota di utara Rusia dengan tipikal suhu artik yang rendah.

Di daerah ini suhu terendah sampai minggu pertama Februari turun hingga minus 23 derajat Celcius. Tahun lalu suhu terendah dapat mencapai minus 40 derajat. Otoritas kampus bersama tim medis yang tergabung dalam medical institute melakukan monev kesehatan mahasiswa internasional terkait dengan suhu dingin ini.

Selama dua minggu, saya bersama mahasiswa internasional dari berbagai negara mengikuti serangkaian tes dan diagnosis. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan otak, peredaran darah, sensor kulit, refleks, dan jantung. Setelah menjalani semua pemeriksaan dan mendapatkan hasilnya, semua mahasiswa mendapatkan penjelasan dari tim medis yang melakukan pemeriksaan.

Tim medis menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme tertentu untuk mencoba dan meningkatkan suhu ketika udara dingin. Ini berbeda-beda pada semua individu. Setiap individu bereaksi dengan cara yang berbeda terhadap dingin. Faktor iklim negara asal ternyata tidak menjadi faktor dalam menentukan seseorang memiliki masalah dengan suhu dingin atau tidak. Ini ditunjukkan dengan hasil bahwa ada mahasiswa yang berasal dari negara yang beriklim suhu tinggi (panas) dan daerah tropis seperti Afrika, Asia, dan Amerika Selatan yang tidak memiliki masalah dengan suhu dingin. Namun, sebaliknya hasil pemeriksaan mahasiswa yang berasal dari Uzbekistan, Turki, Azerbaijan, Turkimistan, dan Kazakstan malah menunjukkan bahwa suhu dingin memengaruhi tubuh mereka.

Dalam pemeriksaan otak yang kami alami, tim dokter menjelaskan bahwa kelenjar di otak secara normal akan bertindak sebagai pengatur suhu tubuh untuk merangsang sejumlah reaksi yang bertujuan untuk menjaga organ-organ vital tubuh agar tetap hangat. Pada saat suhu dingin, otak akan mengirim sinyal kepada sel untuk memanaskan diri.

Tim dokter juga menjelaskan bahwa pada suhu dingin, sejumlah organ penting tubuh dapat berhenti berfungsi. Dampaknya, orang bersangkutan bisa kehilangan kesadaran, mengalami hipothermia atau bahkan kematian. Ini alasan mengapa kami sebagai mahasiswa internasional yang notabene bukan berasal dari Rusia, harus cepat tanggap dalam menyadari bila tubuh telah mengirim sinyal peringatan saat suhu tubuh menurun.

Sinyal tersebut dapat berupa menggigil, rahang bawah mulai bergemeretak secara cepat dan bulu kuduk berdiri. Ini penting untuk diingat karena, seharusnya sinyal tersebut dapat meningkatkan sirkulasi darah dan menghangatkan tubuh, dan jika ternyata jika gagal, dipastikan tubuh akan segera mengalami hipotermia, bahkan dapat lebih fatal lagi organ tubuh akan pecah dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Di sini peran adaptasi otak sangat penting, karena otak akan memberi reaksi yang tepat pada saat suhu tubuh kita melebihi 42 derajat atau kurang dari 30 derajat Celcius. Adaptasi otak tentunya juga akan memengaruhi aktivitas dan efektivitas fungsi tubuh lainnya.

Beberapa poin penting lainnya yang dijelaskan adalah: untuk meningkatkan adaptasi otak dalam mengatasi rasa dingin dapat dilakukan dengan melakukan gerak tubuh yang lebih banyak dari biasanya. Untuk masalah makanan, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan protein. Mitos orang gemuk akan merasa lebih hangat juga dibantah sebagai mitos yang tidak sepenuhnya benar. Tim medis juga menambahkan beberapa hal seperti wanita lebih sedikit merasakan dingin daripada pria dan juga jenis pakaian yang diproduksi dari Rusia lebih dapat menghambat kehilangan panas melalui mekanisme pengeluaran melalui kulit ataevaporasi).

Dalam pemeriksaan kulit yang dipantau oleh kamera video, mahasiswa internasional diuji dengan menggenggam bongkahan es selama 5-7 menit untuk melihat reaksi setelahnya. Tanda yang didapati jika tubuh bereaksi negatif terhadap dingin yang ada, akan merasa kesemutan di jari-jari tangan. Beberapa individu juga menunjukkan respons kulit tangan yang kering. Ini menunjukkan tubuh kehilangan panas melalui transepidermal water loss (TEWL).

Hasil memastikan bahwa sebagian orang yang berasal dari negara tropis dan bersuhu tinggi punya lebih banyak sensor di kulit tangan dalam mengukur tingkat kedinginan. Sementara yang berasal dari negara non tropis memiliki sensor dingin yang lebih banyak di bagian telinga. Tidak jarang memang kita lihat mahasiswa yang berasal dari negara tropis lebih tahan dingin dengan penutup kepala daripada tidak menggunakan sarung tangan. Begit juga sebaliknya, banyak mahasiswa internasional yang berasal dari negara non tropis lebih tahan dingin tanpa sarung tangan tapi kepala dala keadaan tertutup tentunya.

Dari hasil pemeriksaan refleks ekstremitas (kaki dan tangan) diketahui bahwa stimulasi dingin juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan refleks pada mahasiswa internasional di Rusia. Ini diketahui dapat mempengaruhi efektivitas otot. Dalam pemeriksaan jantung, rerata hasil menunjukkan bahwa tidak ada permasalahan yang serius dalam kaitannya dengan suhu dingin yang terjadi.
Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa mahasiswa yang bukan berasal dari Rusia, dapat hidup di daerah dingin dengan suatu proses adaptasi terhadap lingkungan dan berbeda-beda setiap individu. Suhu dingin dapat memengaruhi otak dan refleks seseorang. Ini merupakan pesan yang dapat disampaikan kepada seluruh masyarakat khususnya Aceh atau umumnya Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Rusia. Bahwa suhu dingin dan cenderung ekstrem bisa memengaruhi prosesi akademik kita sebagai mahasiswa. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya improvisasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adaptasi-adaptasi kita dalam mempertahankan fungsi tubuh supaya berfungsi dengan normal.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved