Home »

Opini

Opini

Akademisi Lemah Lunglai

TULISAN Bisma Yadhi Putra (BYP), “Intelektual Rabun Dekat” (Serambi, 7/2/2018) yang mengurai tentang ketakutan kaum

Akademisi Lemah Lunglai
Aceh Carong karena Pustaka Aceh 

Oleh Teuku Kemal Fasya

TULISAN Bisma Yadhi Putra (BYP), “Intelektual Rabun Dekat” (Serambi, 7/2/2018) yang mengurai tentang ketakutan kaum “intelektual” bersikap kritis atas situasi di sekitarnya, dan cenderung suka mengulas masalah yang jauh dari masyarakatnya, patut diinter-tekstualisasi. Mengkritik “dunia lain” tentu tidak beresiko (zero risk) dan mudah, tapi mengkritik penguasa yang dikenal masya Allah susahnya. Itulah yang ingin diekstrapolasi dalam tulisan ini.

Namun, baiknya konsep intelektual itu perlu dijelaskan serba terbatas. Kata intelektual dan intelektualisme sering digunakan secara keliru. Menurut Edward W Said --tokoh Palestina yang kemudian tinggal di Amerika Serikat dan mengkritik negara adidaya itu seumur hidupnya-- intelektual adalah individu yang diberikan keberanian untuk menyampaikan pesan, pandangan, dan fisafatnya kepada publik. Yang dimaksudkan dengan publik tentu bukan komunitas terbatas, tapi masyarakat luas yang memerlukan pencerahan dan panduan moral untuk hidup. Said memberikan istilah intelektual publik, untuk membedakan dengan intelektual primordial ala akademisi.

Menurut Antonio Gramsci, tokoh politik asal Sardinia, Italia, intelektualisme meresap kepada jiwa yang terpanggil untuk mengubah situasi struktural masyarakat. Kaum Marxis seperti Gramsci menyebutkan akan ada relasi timpang yang diproduksi kaum borjuis jika intelektual organik pro-proletarian tidak bergerak. Kaum intelektual bekerja mendobrak ruang dominasi dan koersi yang ada ada wilayah politik dan kebudayaan. Intelektual itu ada pada jiwa penulis, seniman, politikus, wartawan, tokoh buruh, filsuf, dll.

Jika memakai perspektif Prof Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983), intelektualitas itu adalah panggilan nurani --dari a lonely fighter-- yang bermaksud melakukan “pembangkangan bertanggung-jawab” atas dunia yang tidak berjejak pada fakta dan kebenaran. Baginya intelekual itu tidak ada sekolahnya, tapi latih pikir dan mental yang dilakukan terus-menerus yang menyertakan hati-nurani.

Jejak hidupnya menjadi contoh untuk itu. Ia mengkritik sikap Soeharto yang terpukau pada pengetahuan teknokratik-Barat Habibie, sehingga tidak diperpanjang menjadi menteri. Ia pun menolak usulan gelar profesor kepadanya ketika sedang menjadi menteri dari almamaternya. Surat pengusulannya itu dirobek-robeknya dan dianggap sebagai sikap menjilat. Sampai meninggal ia tak menggenggam gelar “profesor administratif-birokratis”, meskipun publik termasuk penulis selalu memanggilnya “prof”.

Dari pengertian ini, bukan berarti seorang profesor akan menjadi intelektual --apalagi jika merujuk data terbaru Dirjen Pendidikan Kementerian Pendidikan Tinggi ada 3.800 profesor yang tidak menjalankan fungsi dasarnya yaitu menulis di jurnal internasional. Inilah model “profesor jantung pisang”, sebuah satirisme dari seorang penulis di Kompas, ketika seorang akademisi mati-matian memperoleh gelar profesor dan setelah itu tak lagi melakukan aktivitas ilmiah. Profesor dan setelah itu mati!

Kelompok akademisi
Sesungguhnya predikat “intelektual rabun dekat” yang tepat dalam deskripsi BYP adalah kelompok akademisi. Predikat intelektual bukan konsep monolitik. Civitas akademika tidak tepat disebut kaum intelektual, jika tidak menggerakkan masyarakat sipil dan melakukan perubahan berdasarkan sumber daya nalar yang cukup.

Tulisan BYP itu jelas sedang menyindir kaum akademisi. Karena hanya kaum akademisi yang bisa menjadi “tersangka”, jika dilihat dari persentasenya terbanyak mengindap penyakit rabun dekat dibandingkan kelompok sipil, seniman, dan wartawan. Kelompok yang disebut kedua terlihat lebih banyak sebagai intelektual dari hanya pekerja vokasional atau penerima manfaat kekuasaan. Meskipun bukan berarti tak ada cheerleaders; para penari dan penebar senyum di depan atau di samping gubernur/bupati/wali kota dari kalangan aktivis sosial/wartawan/seniman. Pasti saja ada oknum oportunis di setiap lembaga dan komunitas.

Satu yang sangat tersengat adalah deskripsi tentang ketakutan. Sayang BYP tidak langsung menunjuk kelompok dosen sebagai representasi masalah. Siapa lagi kaum penakut itu jika membaca kalimat “takut dimusuhi penguasa, takut tidak lagi kebagian jatah anggaran penelitian, takut proposal yang diajukan tidak diterima, takut dicoret sebagai pembicara rutin dalam seminar-seminar yang dibuat pemerintah daerah, takut tidak lagi dijadikan staf ahli, takut dikeluarkan dari tim penulis pidato, takut kehilangan posisi bergaji tinggi, atau takut kehilangan akses pada proyek-proyek basah lainnya akan membuat pikiran dan perasaan intelektual berkarat.”, kalau bukan sebagian besar pelakunya adalah dosen (BYP, Serambi, 7/2/2018).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help