Citizen Reporter

Harta Karun di Kota Tua

FEZ merupakan salah satu kota yang terletak di negeri senja, Maroko. Kota ini dibangun pada abad Ke-8 Masehi

Harta Karun di Kota Tua
RIFQI HIDAYATIL KHALIQ

OLEH RIFQI HIDAYATIL KHALIQ, alumnus Pesantren Modern Al Manar, Aceh Besar, Mahasiswa S1 di Kota Fez, melaporkan dari Maroko

FEZ merupakan salah satu kota yang terletak di negeri senja, Maroko. Kota ini dibangun pada abad Ke-8 Masehi di sebuah daerah nan gersang, dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi. Sejak abad itu kota ini menjadi pusat kegiatan masyarakat setempat.

Mulai dari madrasah, masjid, zawiyah, gerbang kota, dan bangunan-bangunan yang sudah dibangun sejak dulu kala masih bertahan sampai kini. Bangunan ini dianggap sebagai ciri khas gaya arsitektur Maroko, maka sangatlah lazim jika kota tua ini meninggalkan banyak sejarah, sehingga menarik para sejarawan dan ilmuwan untuk mengunjungi kota tersebut.

Di samping itu, kota tua Fez terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia oleh Unesco dan diyakini sebagai salah satu kawasan pejalan kaki perkotaan terbesar di dunia (area bebas mobil).

Banyak sejarah dan peninggalan yang sangat berharga di kota ini. Di antaranya adalah Universitas Al Qarawiyyien yang didirikan tahun 859 Masehi dan diakui Unesco sebagai universitas tertua di dunia (berdasarkan pemberi gelar akademik tertua). Universitas ini melahirkan banyak sarjana yang sangat memengaruhi sejarah intelektual dan akademik dunia, di samping itu dia juga memberikan peran utama dalam hubungan budaya dan akademis antara dunia Islam dan Eropa pada abad pertengahan.

Sejumlah ilmuwan besar muslim asal Andalusia pun sempat belajar dan mengajar di Qarawiyyien. Di antaranya ahli astronomi, fisika, psikologi, musik, botani, dan kedokteran, Ibnu Bajjah atau Avempace; ahli ilmu kedokteran dan farmasi, Ibnu Zuhr atau Avenzoar; ahli filsafat, teologi, psikologi, politik, musik, kedokteran, astronomi, geografi, fisika, matematika, dan teknik, Ibnu Rusyd atau Averroes; penyair mistik dan filusuf Ibnu Al-’Arabi, begitu pula sejarawan dan ekonom Ibnu Khaldun.

Jami’ah Al-Qarawiyyin yang menjelma menjadi sebuah universitas yang paling terkemuka di abad pertengahan, membuatnya tidak hanya diminati oleh para pelajar muslim, tapi juga oleh pelajar nonmuslim. Ahli filsafat dan agama Yahudi ternama, Rabbi Moshe ben Maimon yang dijuluki oleh para penganut Yahudi sebagai “Nabi Musa kedua” juga pernah menimba ilmu di Universitas Al- Qarawiyyien, Nicolas Cleynaerts dan Jacob Golius juga tercatat pernah belajar tata bahasa Arab di universitas ini. Begitu pula Gerbert ‘d Aurillac yang kemudian menjadi Paus Sylverster II pernah belajar matematika dan astronomi di Al Qarawiyyien. Kebanyakan dari mereka menerjemahkan karya-karya ulama muslim dan memublikasikannya di tanah Eropa.

Tidak jauh dari universitas ini terdapat sebuah perpustakaan tua Al-Qarawiyyien yang menyimpan banyak manuskrip kuno. Di dalamnya terdapat kurang lebih 4.000 manuskrip. Di antaranya adalah Muqaddimah karangan Ibnu Khaldun, Albayan Wa At Tahshil karangan Ibnu Rusyd  yang ditulis di atas kulit kijang, Almudawwanah Imam Malik, Asy Syifa karya Qadhi ‘Iyadh, dan Arjuzah Ibnu Thufail dalam bentuk puisi dan sajak yang membahas tentang ilmu kedokteran dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Dulu, perpustakaan ini tertutup untuk publik, namun karena dorongan dari Menteri Kebudayaan Maroko, perpustakaan ini pun kemudian dibuka untuk umum. Seiring berjalannya waktu, kondisi perpustakaan yang kian memburuk makin mengancam keselamatan manuskrip-manuskrip yang sangat berharga itu. Manuskrip yang bagaikan harta karun di tengah kota.

Keadaan suhu, kelembaban, dan cahaya tidak terkendali, dan lain sebagainya, telah menyita banyak dari perpustakaan dan isinya, bangunan-bangunan hancur berantakan. Itu sebabnya pada tahun 2012, Kementerian Kebudayaan Maroko merehab perpustakaan ini, sehingga bisa dibuka kembali.

Dikutip dari National Geographic bahwa perpustakaan ini juga menyimpan naskah Alquran yang berasal dari abad ke-9 M yang ditulis di atas kulit hewan dengan khat Al-Kufi, sehingga sangat layak jika perpustakaan ini menjadi salah satu kiblat bagi para pakar sejarah dunia dan salah satu pusat peradaban dan pengembang kebudayaan terkemuka di dunia Islam. Nah, dari harta yang dimiliki inilah, kota ini disebut sebagai Madinatul Ilmi atau Kota Ilmu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved