Usaha Pesantren Binaan BI Mulai Berproduksi

Unit usaha yang dimiliki Pesantren Babul Maghfirah Cot Keueng, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar saat ini sudah

Usaha Pesantren Binaan BI Mulai Berproduksi
Deputi BI Aceh, Teuku Munandar dan Pemimpin Pesantren Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi Lc memanen cabai hasil usaha pesantren tersebut, di Cot Keueng, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, Selasa (27/2). 

JANTHO - Unit usaha yang dimiliki Pesantren Babul Maghfirah Cot Keueng, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar saat ini sudah mulai berproduksi. Program usaha pesantren itu merupakan binaan Bank Indonesia (BI) Aceh.

Saat ini Pesantren Babul Maghfirah memiliki tiga macam usaha, yaitu lahan pertanian cabai, lahan hidroponik yang ditanami selada dan sop, serta usaha ayam petelur yang setiap hari menghasilkan sekitar 45 butir. Meski jumlahnya masih kecil, semua hasil usaha santri itu sudah disuplai ke pasaran.

Deputi Bank Indonesia (BI) Aceh, Teuku Munandar saat meninjau lahan usaha Pesantren Babul Maghfirah, Selasa (27/2) menyampaikan, bantuan itu merupakan Program Sosial Bank Indoneisa (PSBI), guna meingkatkan pemberdayaan ekonomi.

Menurutnya, dipilihnya program itu di pesantren untuk mencapai pengembangan ekonomi syariah, ia menilai pesantren merupakan basis ekonomi syariah, karena lembaga itu mencetak insani dengan jiwa syariah. “Kita ingin santri terlibat langsung, bagaimana cara produksi hingga pemasarannya, karena nantinya mereka akan menggerakkan ekonomi syariah di Aceh,” ujar Teuku Munandar.

Selain itu, tujuan usaha pesantren tersebut supaya mampu mengendalikan inflasi, hal itu sejalan dengan fungsi BI yang ingin mengendalikan inflasi. Ia menilai, dipilihnya usaha cabai dan ayam petelur sangat tepat, sebab selama ini harga komoditi itu sangat tidak pasti, sering naik turun dalam waktu singkat. Sehingga dengan menciptakan suplai yang cukup, mampu menjaga kestabilan harga cabai.

Ia menambahkan, bahwa saat ini masyarakat Aceh mengkonsumsi telur sebanyak 1 juta butir, namun Aceh hanya mampu memproduksi 30 persennya, sisanya dipasok dari Provinsi Sumatera Utara. Ia berharap, dengan produksi telur oleh santri itu akan mengurangi ketergantungan Aceh kepada provinsi tetangga.

Sementara Pemimpin Pesantren Babul Maghfirah, Ustadz Masrul Aidi Lc mengatakan, bahwa usaha pesantren itu dinilai sangat bermanfaat, karena dapat menciptakan kemandirian pesantren. Ia menginginkan,selama di pesantren para santri bukan hanya mengaji dan belajar, tapi mampu mempraktekkan ilmu pertanian hingga pemasaran.

Ia menambahkan, bahwa saat ini hasil produksi usaha pesantren itu sudah mampu menutupi biaya operasional. Namun kedepan, akan diusahakan jumlah produksinya semakin meningkat, supaya kedepan dapat memenuhi kebutuhan pasar. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help