Benahi Tata Kelola PDAM

Rencana Metito Tbk, sebuah perusahaan dari Dubai, Uni Emirat Arab, membantu persoalan air bersih di Aceh

Benahi Tata Kelola PDAM
DOK SERAMBINEWS.COM
Anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan. 

BANDA ACEH - Rencana Metito Tbk, sebuah perusahaan dari Dubai, Uni Emirat Arab, membantu persoalan air bersih di Aceh mendapat respon berbeda, termasuk dari anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan. Dia menyatakan, perlu pembenahan dalam tata kelola lembaga dan sumber daya manusia (SDM) di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Menurut Mukminan, yang diperlukan sekarang, pemerintah harus memberikan target kepada direksi kapan persoalan ini selesai. “Masalah di PDAM Banda Aceh adalah soal tata kelola lembaga dan SDM,” papar Mukminan saat menjadi narasumber Program Cakrawala Radio Serambi FM bertajuk, `Bisnis air bersih bisa dikelola swasta profesional’, Rabu (28/2). Program Cakrawala tersebut dipandu oleh host Tya Andalusia dan Redaktur Opini sekaligus Kepala Litbang Harian Serambi Indonesia, Asnawi Kumar.

Dia membeberkan, berdasarkan audit BPK, masalah pertama di tubuh PDAM Tirta Daroy adalah jumlah pegawai administrasi dengan pegawai teknik tidak seimbang. Lebih banyak pegawai yang memegang kertas dari pada pegang pipa. Padahal yang dikeluhkan masyarakat bukan kurangnya kertas, tapi tidak adanya air. Sedangkan masalah kedua, terkait kelembagaan. Anggota DPRK dari PKS itu menyatakan, jika dimungkinkan sebaiknya PDAM Banda Aceh mempunyai tiga direksi, yaitu direksi teknik, keuangan, dan produksi.

Hal tersebut, katanya, bukan bertujuan membuat biaya operasional membengkak. Tapi ketiga bidang tersebut tidak bisa ditangani oleh seorang direksi. Inilah yang Pemerintah Banda Aceh abai, seharusnya dilakukan fit and proper test segera untuk pemenuhan direksi.

“Bukan menswastakan PDAM. Kalau setiap direksi dikasih target, kalau tak tercapai, dipecat. Sekarang tidak ada target. Yang ada target secara umum, 2019 selesai masalah air. Kalau tidak tercapai apa sanksinya? tidak ada,” terang Mukminan.

Menurutnya, kalau bicara swastanisasi ada positif dan negatif. Kalau pemerintah menunjuk direksional lamban, karena menganggap air, gaji, dan fasilitas sudah ada. Lagi-lagi berdasarkan audit BPK, sejak 2008 Pemerintah Banda Aceh tidak menuntut PDAM untuk memberi keuntungan.

Di sisi lain, hingga 2014 pemerintah memberikan investasi hingga Rp 111 miliar. Dana tersebut dipakai untuk rehab jaringan, perbaikan pipa, penyediakan tanah untuk kantor, mobil tanki, dan penyedian WTP di Lambaro. Sayangnya, menurut Mukminan, investasi itu dianggap hal biasa, sehingga efek yang diberikan tidak maksimal.

Terkait perusahaan Metito Tbk yang akan membantu persoalan air bersih di Aceh, Mukminan mempertanyakan kapasitas perusahaan swasta asing tersebut. Apa sebagai konsultan atau memegang saham keseluruhan atau mayoritas di PDAM. Mukminan menyatakan keberatannya kalau PT Metito Indonesia memegang saham, karena itu sama saja ‘bom waktu’ bagi PDAM. Lain halnya kalau menjadi konsultan dan tentu saja dengan kontrak kerja sama yang jelas.

Sebelumnya , Dirut PDAM Tirta Daroy Banda Aceh, T Novizal Aiyub mengatakan, permasalahan air di Banda Aceh lebih disebabkan oleh jaringan pipa yang tidak representatif lagi. Menurutnya, selama ini peningkatan jumlah penduduk di kota tidak dibarengi dengan peningkatan jaringan. “Kita masih menggunakan pipa lama yang sebenarnya sudah tidak layak untuk mengalirkan air ke warga yang semakin banyak. Hal ini lah yang membuat distribusi air tidak lancar,” kata pria yang disapa Ampon Yub itu.

Dia membandingkan persoalan air dan transportasi di Banda Aceh yang sama-sama kebutuhan pokok, namun berbeda prioritasnya. Dia mencontohkan angkutan labi-labi yang kini diganti dengan TransK untuk mengurangi kemacetan dan lebih nyaman. “Jaringan pipa seharusnya juga begitu, diupdate istilahnya,” ujar Ampon Yub.

Menurutnya, jaringan lama saat ini sudah tidak ideal dengan jumlah penduduk yang kian meningkat. Disebutkan,pipa-pipa itu sudah disambung tidak beraturan seiring penambahan pelanggan. “Untuk mengecek kebocoran saja kita masih dengan cara manual, yaitu penglihatan kasat mata. Pipa tua itu rawan bocor dan tersumbat karena akar pohon,” pungkasnya.(rul/it)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help