Tafakur

Meminjamkan Harta

Banyak orang merasa berat hati untuk menyisihkan sebahagian hartanya untuk membantu orang lain

Meminjamkan Harta

Oleh: Jarjani Usman

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki” (QS. Saba’: 39)

Banyak orang merasa berat hati untuk menyisihkan sebahagian hartanya untuk membantu orang lain atau membelanjakan di jalan kebaikan. Padahal perbuatan-perbuatan seperti itu juga disebut meminjamkan harta kepada Allah. Ini berarti bahwa harta yang dipinjamkan itu akan dikembalikan oleh Allah SWT. Bahkan akan dilipatgandakan pengembaliannya. Namun sebahagian orang merasa bahwa banyak harta yang telah diinfakkan rasanya tak kembali atau tak bertambah.

Banyak kemungkinan harta tak kembali. Di antaranya, harta yang dipinjamkan itu adalah harta yang tidak halal. Ada juga harta yang seolah-olah halal, padahal dihasilkan dari aturan-aturan yang tak halal. Padahal dalam Alquran telah disebutkan: “Siapa saja yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245).

Makanya orang-orang yang benar-benar beriman akan giat bekerja di jalan yang halal, sehingga bisa meminjamkan hartanya yang halal dalam kebaikan. Tak ada kekuatiran di hati orang-orang beriman akan kekurangan atau kehilangan hartanya saat meminjamkannya. Sudah kuat keyakinan di hati bahwa Allah menjamin pengembaliannya dan bahkan berlipat ganda. Oleh karena itu, kita juga harus menjamin kehalalan harta yang dipinjamkan, misalnya, dengan cara mencari nafkah di jalan yang halal.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help