Home »

Opini

Abu Laot Lhok di Pidie Saling Bantah

Panglima/Abu Laot Lhok Genteng, Marzuki, membantah pernyataan Abu Laot Lhok Kuala Tari, M Jafar yang menyebutkan

Abu Laot Lhok di Pidie Saling Bantah
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Pengelola Kapal Ikan, Armizi dan Panglima Laot Abdya, Hasanuddin usai memantau memantau kapal yang tenggelam akibat diterjang badai ketika berlabuh sekitar 200 meter dari dermaga Pelabuhan Sosuh, Sabtu (2/12/2017) dini hari. 

* Terkait Pemilihan Toke Hasan Batee sebagai Panglima Laot Pidie

SIGLI - Panglima/Abu Laot Lhok Genteng, Marzuki, membantah pernyataan Abu Laot Lhok Kuala Tari, M Jafar yang menyebutkan dalam berita Serambi sebelumnya bahwa pemilihan Panglima Laot Kabupaten Pidie dipilih secara sepihak.

“Kami telah duduk dengan sebelas abu (panglima) laot lhok dengan agenda membahas rencana pemilihan abu laot kabupaten. Saat akan melakukan pemilihan, kami juga telah menghubungi semua abu laot lhok,” kata Abu Laot Lhok Genteng, Marzuki kepada Serambi, Rabu (28/2).

Pemberitahuan untuk menghadiri musyawarah pemilihan Panglima Laot Kabupaten Pidie itu dilakukan hanya melalui ponsel, bukan melalui surat. Pemilihan panglima laot kabupaten ini dihadiri 8 dari 11 abu laot lhok di Pidie, dan kemudian memilih Toke Hasan Batee yang juga Timses Abusyik dalam Pilkada sebelumnya. “Pemilihan ini bukan kemauan satu orang saja. Tapi ini adalah keinginan semua abu laot lhok di Pidie. Hanya saja, saat dilakukan pemilihan, hanya delapan abu laot lhok yang hadir,” katanya.

Terkait dilaksanakannya pemilihan ulang panglima laot kabupaten di saat yang bersangkutan belum habis masa jabatannya (kudeta), menurut Marzuki itu dilakukan karena Panglima Laot Ilyas Amin pernah mengatakan akan mengundurkan diri pada Desember 2017. “Tapi, hingga Februari 2018, panglima laot kabupaten itu tidak mundur. Sehingga sebagian abu laot lhok mengambil sikap untuk memilih panglima laot kabupaten yang baru,” ujarnya, tanpa menjelaskan pelanggaran/kesalahan apa yang dilakukan Panglima Laot Ilyas Amin, sehingga menjadi mendasari dasar pengunduran diri tersebut.

Terkait pernyataan Abu Laot Lhok Genteng tersebut, Abu Laot Lhok Kuala Tari, M Jafar kembali mempersoalkan pihak yang menghubungi para abu laot lhok untuk menghadiri pemilihan panglima laot Pidie tersebut.

“Pemilihan ini tidak jelas siapa panitianya. Kami memang ada dihubungi, tapi kami tidak tahu siapa yang menghubungi kami. Kami pasti datang jika memang panitia pemilihan yang mengundang. Bagaimana bisa, abu laot lhok yang merupakan pemilik suara dalam proses pemilihan, menjadi panitia dari pemilihan tersebut,” katanya.

Terkait pemilihan yang dilakukan sebelum berakhirnya masa jabatan Panglima Laot Pidie, Ilyas Amin itu, menurutnya juga sarat kepentingan politik. “Karena kami dianggap bukan pendukung Abusyik saat pemilihan lalu. Sehingga harus diganti. Dan penggantian ini dilakukan saat panglima laot yang sah masih menjabat karena memang masa jabatannya belum habis,” katanya.

Sedangkan terkait wacana pengunduran diri Ilyas Amin pada Desember 2017, Jafar mengatakan, ini merupakan upaya penggiringan isu untuk mempengaruhi para panglima/abu laot lhok yang ada di Pidie (pemilik suara dalam forum pemilihan) agar memaklumi pergantian pimpinan kabupaten dari lembaga adat ini.

Karena menurutnya, jika pun ada kesalahan/pelanggaran yang dilakukan Ilyas Amin, yang bersangkutan harus disidang dulu secara adat untuk membuktikan kesalahannya, kemudian mempertanggungjawabkannya, baru bisa dilakukan prosesi pemilihan ulang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help