Citizen Reporter

Gdansk, Kota Maritim Sarat Sejarah

KEBANYAKAN mahasiswa sekarang tak asing lagi mengikuti program pertukaran mahasiswa atau lebih dikenal dengan program exchange student

Gdansk, Kota Maritim Sarat Sejarah
HAFEZ SHAHMI 

HAFEZ SHAHMI, Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Lingkungan, Pamukkale University, Denizli, Turki, sedang mengikuti Program Erasmus di Polandia selama setahun, melaporkan dari Polandia

KEBANYAKAN mahasiswa sekarang tak asing lagi mengikuti program pertukaran mahasiswa atau lebih dikenal dengan program exchange student. Kesempatan untuk menimba ilmu dan mempelajari budaya asing di luar negeri di zaman ini terbuka luas, khususnya bagi mahasiswa. Salah satunya adalah Program Erasmus. Program yang bergerak di bidang pendidikan, pelatihan, pemuda, dan olahraga ini dibentuk tahun 1987. Awalnya diperuntukkan bagi negara-negara Uni Eropa, tapi sekarang telah berkembang di puluhan negara, termasuk Indonesia.

Program Erasmus didanai oleh Uni Eropa dan dirancang untuk berkontribusi  di bidang pendidikan, kesetaraan, sosial, juga turut andil mempromosikan Uni Eropa sebagai salah satu gabungan negara yang memiliki keunggulan akademik. Ini sungguh sebuah pengalaman yang baru sekaligus membuka wawasan bagi setiap mahasiswa yang mengikuti program ini, termasuk saya.

Hampir tiga bulan saya berada di Polandia. Negara yang terletak di Eropa Tengah dan berpenduduk 38 juta jiwa ini memilik cuaca yang relatif dingin. Selain itu, negara yang resmi bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2004 ini, memiliki ratusan museum dan tempat bersejarah seperti Auschwitz (tempat yang dikenal sebagai kamp konsentrasi Nazi), kota tua Krakow, dan Warsawa.

Di sela-sela kesibukan kuliah, di akhir pekan saya bersama mahasiswa asing mendapat kesempatan mengunjungi Kota Gdansk. Empat jam lamanya jarak tempuh kota ini ke Warsawa jika naik kereta api dari Warsawa.Terletak di bagian selatan Laut Baltik serta ibu kota Provinsi Pomerania, Kota Gdansk termasuk kota metropolitan terbesar kelima di Polandia. Terkenal dengan sebutan Tricity, yaitu Sopot, Gdynia, dan Gdansk. Ketiganya merupakan destinasi populer bagi turis asing dan lokal.

Selama berabad-abad sebagai daerah maritim dan kota pelabuhan, membuat Gdansk menjadi objek vital bagi perdagangan Eropa. Selama berada di Gdansk kami dipandu oleh komunitas mahasiswa Erasmus Student Network (ESN). Menelusuri alun-alun kota dari Long Market (Dlugi Targ) hingga Gerbang Hijau (Green Gate) seolah terasa kembali ke suasana zaman dulu.

Dari sisi bangunan yang bercorak dan ornamen yang khas, kita dapat memahami bahwasannya Gdansk memiliki akar sejarah panjang, terutama pada Perang Dunia II.

Tahun 1939 adalah tahun dimulainya Perang Dunia II, sekaligus juga tahun bersejarah bagi Kota Gdansk. Pada tanggal 1 September 1939, pasukan Nazi Jerman menyerbu Polandia, termasuk Kota Gdansk dan akhirnya jatuh ke tangan Jerman.

Kota yang pernah menghelat pertandingan Piala Eropa 2012 ini hancur porak-poranda sebagaimana kota lainnya di Polandia. Dua minggu setelah pertempuran, pemimpin tertinggi nazi “Führer” yaitu Hitler menginjakkan kakinya di Kota Gdansk. Orang jerman menyebutnya Kota ”Danzig”. Sejarah mencatat, setidaknya 6 juta penduduk Polandia dan 3 juta warga Yahudi tewas akibat invasi pasukan Nazi Jerman.

Walaupun perang tersebut sudah 78 tahun berakhir, namun semua berkas sejarah masih dapat kami temukan di Museum Perang Dunia II yang terletak di pusat kota Polandia. Museum yang diresmikan beberapa bulan lalu itu memberikan banyak makna dan menjadi sebuah destinasi yang harus dikunjungi para turis.

Di museum ini terdapat mulai dari patung tokoh diktator hingga seragam tentara Polandia. Museum Perang Dunia yang didesain sedemikian rupa membuat kebanyakan turis yang berasal dari negara tetangga meneteskan air mata menyaksikan fragmen demi fragmen dari kecamuk perang yang melibatkan hampir seluruh dunia itu.

Nah, beginilah cara Pemerintah Polandia melestarikan sejarah negerinya. Jadi, sudah seharusnya kita contoh cara mereka melestarikan catatan dan kenangan akan sejarah negerinya.

Sungguh saya merasa prihatin akan kurangnya pelestarian terhadap sejarah yang besar seperti Kerajaan Islam Aceh yang pernah berjaya di masa dulu. Seandainya sisa peninggalan sejarah dari Kerajaan Islam yang berada di Nusantara, khususnya Tanah Rencong dapat dilestarikan, niscaya akan menjadi nilai tambahan buat generasi selanjutnya sebagai penerus bangsa.

Di samping itu, kami juga mengunjungi sebuah museum terkenal, yaitu museum solidaritas Eropa atau European Solidarity Centre. Museum ini didekasikan untuk pergerakan kaum solidaritas yang menentang paham komunisme yang dikendalikan oleh Uni Soviet. Adalah Lech Walesa, seorang ahli listrik yang memimpin gerakan solidaritas. Tokoh revolusioner Polandia serta penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1983 itu memiliki jasa besar ketika memobilisasi 10 juta kaum buruh untuk menentang pergolakan komunisme hingga akhirnya runtuh pada tahun 1980.

Selain terkenal akan sejarahnya, Gdansk juga terkenal sebagai penghasil batu ambar terbesar di Polandia. Batu yang berasal dari resin pohon yang telah berfosil serta berwarna kekuningan ini banyak ditemukan di toko lokal di sekitaran Long Market (Dlugi Targ).Tak heran batu ambar menjadi sebuah cendera mata layaknya batu akik di Indonesia. Demikianlah potret sejarah di Kota Maritim ini, semoga dapat terinspirasi untuk menatap masa depan yang cemerlang.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help