Bahasa Daerah dan Generasi Muda

Dewasa ini umumnya generasi muda—kini kerap disebut anak zaman now atau generasi zaman now (now (bahasa Inggris)

Bahasa Daerah dan Generasi Muda
SERAMBI/SAID KAMARUZZAMAN
Kepala Balai Bahasa Aceh Muhammad Muis berbicara dalam penyuluhan Bahasa Indonesia untuk media massa yang berlangsung di aula kantor BPSDM Aceh, Banda Aceh, Rabu (4/10/2017). 

Oleh: Muhammad Muis, Kepala Balai Bahasa Aceh, Badan Bahasa, Kemdikbud

Dewasa ini umumnya generasi muda—kini kerap disebut anak zaman now atau generasi zaman now (now (bahasa Inggris) ‘sekarang, dewasa ini’)—cenderung tidak menggunakan bahasa daerah dan banyak yang tidak paham lagi berbahasa daerah. Ada banyak kekhawatiran yang sudah diungkapkan para linguis, guru, tokoh masyarakat, bahkan masyarakat awam pun mengenai hal itu. Persoalan ini menjadi kegelisahan kolektif.

Mengapa Bahasa Daerah Kurang Diminati
Sebagian besar anak Indonesia lahir dengan bahasa ibu bahasa daerah. Ada juga sebagian penutur berbahasa ibu bahasa Indonesia, terutama yang tinggal di kota besar dan di dalam keluarganya berbahasa Indonesia. Bahasa ibu adalah bahasa pertama kali diperoleh dan dikuasai oleh seseorang sejak ia lahir melalui interaksi dengan masyarakat bahasanya.

Bahasa ibu dianggap signifikan, bukan hanya pada aras nasional, tetapi juga global. Tidak mengherankan jika ada Hari Bahasa Ibu Internasional—ditetapkan oleh UNESCO pada 17 November 1999—yang diperingati setiap 21 Februari, yang sejarahnya bisa dirunut pada peristiwa rusuh bahasa di Dhaka, Pakistan, 21 Februari 1952.

Bahasa daerah bukan hanya penting bagi penutur bahasa dan kebudayaan daerah, tetapi juga berkontribusi untuk pemerkayaan kosakata bahasa Indonesia. Tidak dapat dimungkiri bahwa pada level kedaerahan penggunaan bahasa daerah masingmasing oleh generasi muda masih relatif sering.

Namun, pada tataran urban kecenderungan ketidakterpakaiannya semakin kentara. Migrasigenerasi muda ke kota-kota besar karena alasan menuntut ilmu atau mencoba peruntungan tidak bisatidak seakan-akan membuka peluang untuk semakin kurangnya mereka berbahasa daerah, terlebih jika tidak ada kawan atau sanak saudara sedaerah di tanah rantau yang berbahasa daerah sama. Terdapat berbagai pandangan mengapa bahasa daerah kurang diminati generasi muda.

Misalnya, mereka merasa gengsi menggunakanbahasa daerahnya. Mereka lebih cenderung memilih bahasa Indonesia. Kadang-kadang tuturan bahasa Indonesianya diselip-selipkan dengan sepatah dua kata asing, terutama bahasa Inggris, mungkin agar kelihatan dan kedengaran keren. Selain itu, mereka malu berbahasa daerahnya.

Penggunaan bahasa daerah dianggapkampungan, tidak modern, tidak intelek, tidak gaya, dan tidak mengikuti tren dan kemajuan. Faktor lain, mereka tidak paham lagi berbahasa daerahnya karena bahasa itu memang sudah jarang, bahkan hampir tidak pernah, digunakan lagi dalam pelbagai aktivitas nonformal ataukeseharian di rumah atau daerah yang bersangkutan.

Kondisi tersebut membawa dua sisi bagikemajuan (ilmu) bahasa: sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah kecenderuangan itu membawa dampak semakin sedikitnya penutur(baik penutur jati (penutur asli) maupun bukan penutur asli) bahasa daerah tersebut. Jika dibiarkan terjadi dalam waktu lama dan terusmenerus,dikhawatirkan hal itu dapat menyebabkan—pelahan, tetapi pasti—bahasa daerah itu semakin dekat dengan ambang kepunahannya.

Beberapa bahasa daerah sudahmengalami kondisi ini. Bahkan, hingga penghujung 2017, Badan Bahasa memastikan 11 bahasa daerah di Indonesia Bagian Timur (seperti Maluku, Papua, dan Maluku Utara) sudah punah. Sisi positifnya adalah generasi muda yang kurang mencintai bahasa daerahnya membawa maslahat bagi perkembangan bahasa Indonesia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help