Opini

Berguru ke NTB

BARU saja “gampong” kita kedatangan tamu jauh. Beliau tinggal berbilang pulau dengan kita, nun dari bagian timur Nusantara

Berguru ke NTB
PEMIMPIN Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar didampingi Pemimpin Perusahaan, Mohd Din, menerima kunjungan silaturahmi Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi (dua kiri), di Kantor Harian Serambi Indonesia, Desa MeunasahManyang Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu (3/3). 

Oleh Dian Rubianty

BARU saja “gampong” kita kedatangan tamu jauh. Beliau tinggal berbilang pulau dengan kita, nun dari bagian timur Nusantara, di sebuah provinsi bernama Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr TGH Muhammad Zainul Majdi MA, atau yang biasa disapa akrab dengan panggilan Tuan Guru Bajang (TGB), diundang oleh Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, untuk bersilaturrahim dengan masyarakat Aceh di beberapa daerah, menyampaikan tausiah dan berbagi best practices (praktik-praktik baik) dari banyak prestasi selama beliau menjadi Gubernur NTB.

Satu dari rangkaian acara silaturrahim tersebut, TGB diminta untuk menyampaikan kuliah umum di UIN Ar-Raniry, mengusung tema “Kepemimpinan Ulama”. Di hadapan lebih dari 700 hadiran, doktor lulusan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, ini mengisahkan bagaimana perjalanannya meneruskan dakwah kakenda beliau, termasuk ke daerah terpencil yang harus ditempuh dengan menyeberangi sungai dan berkuda. Perjuangan ini berlangsung selama kurang lebih sepuluh tahun, sebelum akhirnya TGB terpilih menjadi Gubernur NTB untuk periode 2008-2012. Kini kepemimpinan TGB di sana memasuki periode kedua, dengan berbagai capaian sukses yang panjang daftarnya.

Kedatangan tamu jauh bukanlah hal baru di gampong kita. Sejak jaman indatoe dulu, kita sudah biasa menerima tamu dari berbagai bangsa. Memuliakan mereka merupakan satu adat yang berlaku dalam kehidupan gampong. Pemulia jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adalah adat kita), demikian reusam ini melekat dalam praktik kehidupan rakyat Aceh. Lantas apa istimewanya sosok tamu kali ini, sehingga perlu mendapat perhatian lebih dari kita semua? Berikut beberapa catatan penting dari perjalanan sukses saudara-saudara kita di NTB.

Menarik dikaji
Catatan pertama yang selalu menarik untuk dikaji adalah tingkat kesejahteraan. Rakyat NTB di bawah kepemimpinan TGB berhasil menurunkan angka kemiskinannya. Mereka bahkan meraih penghargaan sebagai Provinsi Terbaik I untuk kategori “Pengurangan Kedalaman Angka Kemiskinan” Periode 2009-2011 dari Menteri Bappenas. Selanjutnya, seperti “efek domino”, peningkatan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata kemudian berhasil mengubah cara pandang banyak pihak.

Kita tentunya menginginkan hal yang sama untuk Aceh. Namun, kurun waktu 12 tahun pasca-MoU Helsinki, dengan hak otonomi khusus dan dana yang cukup besar, ternyata belum dapat mewujudkan makmu beusare (kesejahteraan yang adil merata) di gampong kita. Angka kemiskinan di Aceh adalah 17,56%, masih di atas rata-rata angka kemiskinan Nasional yang berada di kisaran 11% (BPS, 2017). Bahkan di beberapa daerah tingkat kemiskinannya lebih parah.

Kabupaten Aceh Utara, misalnya, angka kemiskinan di sana malah di atas angka kemiskinan provinsi, yaitu 19.20% (BPS, 2017). Ada 118.740 jiwa rakyat miskin di kabupaten ini, terburuk dibanding dengan wilayah kabupaten/kota lainnya di Aceh (Serambi, 2018). Ini bukan sekadar paradoks yang menyedihkan, tapi juga melukai rasa keadilan. Bagaimana sebuah daerah yang dulunya kaya sumber daya alam, dengan begitu banyak megaproyek, tapi yang diwariskan jaya masa lalu itu adalah angka kemiskinan yang tinggi dan disparitas sosial yang tajam?

NTB yang awalnya dipelesetkan menjadi “Nanti Tuhan Bantu” (terbiar dan seakan tak punya harapan), kini berganti menjadi “Nasib Ternyata Berkah”. Bahwa kerja keras rakyat dan segenap unsur pimpinan daerah, kini bisa dipetik hasilnya. Janji Allah Swt memang pasti. “Hasil tidak akan mengkhianati usaha”. NTB tidak saja menjadi lebih sejahtera, namun kesejahteraan yang diraih bisa membawa kebermanfaatan untuk semua masyarakat dan golongan, tanpa membedakan ras, suku atau agama. Nun di sana, di tanah bergelar Negeri Seribu Masjid, nilai-nilai Islam yang universal wujud sebagai rahmat bagi semua.

Seperti NTB, Aceh juga perlu berjuang agar bisa mengubah stigma dari “daerah konflik” menjadi “daerah nyaman berinvestasi”. Dari “ladang ganja berkualitas dunia” menjadi “lumbung pangan untuk dunia”. Dengan potensi yang Allah Ta’ala limpahkan untuk kita, sebagai negeri yang baldatun thayyibatun, hal ini tidaklah mustahil dicapai melalui kerja-kerja cerdas berkesinambungan,yang kita lakukan bersama-sama. Untuk tanah bersimbah konflik, tantangan kita tentu berbeda dengan NTB. Karena setelah sekian lama dikungkung konflik, membangun kembali rasa saling percaya tentu tidak semudah mengumbar janji manis saat kampanya pemilu legislatif maupun pilkada.

Ini baru dua hal yang menarik kita diskusikan tentang NTB, yang tentunya bisa menjadi sumber pembelajaran untuk kita. Tapi sebenarnya, di antara berderet-deret penghargaan yang diraih TGB dan rakyat NTB, ada satu penghargaan yang membuat iri kita demikian memuncak, sehingga bersama-sama perlu terus berjuang lebih keras lagi. Pada acara World Halal Tourism Award 2016, yang berlangsung di Abu Dhabi pada 20 Oktober 2017 lalu, Lombok, satu kota di NTB, berhasil meraih penghargaan sebagai “Destinasi Halal Nomor Satu Dunia” (thejakartapost.com, 2017).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved