Home »

Opini

Opini

Memahami Kebangkitan Alumni al-Azhar

HAMPIR 20 tahun lalu, Mona Abaza menulis buku Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi: Studi Kasus Alumni Al-Azhar

Memahami Kebangkitan Alumni al-Azhar
IST
Amri Fatmi Anziz, mahasiswa asal Aceh foto bersama penguji dan pembimbing usai menjalani sidang disertasi di Universitas Al-Azhar, Mesir, Sabtu (6/1/2018) waktu Mesir. Amri meraih doktor dengan predikat summa cumlaude, dan menjadi mahasiswa pertama asal Aceh yang meraih dokter bidang akidah dan filsafat di Al-Azhar. 

Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

HAMPIR 20 tahun lalu, Mona Abaza menulis buku Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi: Studi Kasus Alumni Al-Azhar (1999) tentang pengaruh alumni al-Azhar di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pada era pasca-kemerdekaan RI, pengaruh alumni al-Azhar sangat dominan sekali, terutama di lingkungan pemerintahan dan ormas-ormas Islam. Setelah itu, hampir tidak ada kajian tentang pengaruh alumni al-Azhar di Nusantara. Hal ini mungkin disebabkan adanya dominasi oleh alumni-alumni dari non al-Azhar. Untuk menyambung kajian Mona Abaza, artikel ini berusaha untuk memaknai apakah sudah wujud kebangkitan alumni al-Azhar abad ke-21 di Indonesia.

Sejak 2015, saya telah prediksi akan kebangkitan alumni al-Azhar di Indonesia, tidak terkecuali di Aceh. Disadari atau tidak, kehadiran generasi muda Muslim yang pernah studi di al-Azhar telah menghiasi lembaran sejarah kontemporer Muslim di Indonesia. Mereka kembali dari al-Azhar bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai pendakwah, birokrat, pebisnis, tokoh politik, dan berbagai profesi lainnya. Saat ini, hampir semua lini aktivitas keumatan diisi oleh alumni al-Azhar.

Kekuatan dakwah
Setting kehidupan al-Azhar dilukiskan secara baik oleh Habiburrahman El Shirazy melalui sosok Dr Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Alumni al-Azhar ini mampu menghipnotis pembaca; bagaimana sesungguhnya Islam dipraktikkan melalui karakter Dr Fahri. Sosok Dr Fahri pun diangkat ke layar lebar. Kekuatan dakwah melalui ilmu yang sangat dalam juga diperlihatkan oleh Ustaz Abdus Shomad (UAS). Begitu pula kehadiran Tuan Guru Bajang (TGB) yang mungkin akan maju di dalam Pilpres 2019, yang juga merupakan alumni dari al-Azhar, Kairo, Mesir.

Tiga sosok yang semuanya lahir pada era 1970-an itu, telah berhasil mengambil hati umat, khususnya generasi muda Islam di Indonesia. Mareka tidak hidup pada era Orde Lama dan sama sekali dalam masa studi ketika Orde Baru berlangsung. Kiprah mereka dimulai sejak 2010-an, persis ketika Muslim Indonesia merasa mulai kehilangan sosok tokoh kharismatik.

Kepulangan mereka ke Tanah Air melalui kekuatan ilmu dan nilai plus dalam bidang dakwah, politik, dan bisnis telah memberikan pengaruh bagi Muslim di Indonesia. Beberapa alumni saat ini pun telah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga membuka jasa travel untuk haji dan umrah. Gelombang ini sesungguhnya telah menghadirkan aktor-aktor baru dalam masyarakat. Mereka independen dalam semangat kekeluargaan sebagai sesama alumni al-Azhar.

Adapun di Aceh, alumni al-Azhar telah berhasil merengkuh hati kelompok dayah. Dalam beberapa momen terlihat; bagaimana kemesraan alumni al-Azhar dengan pimpinan dayah di Aceh. Strategi menghadirkan tokoh-tokoh yang mampu mempererat hati umat, telah memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para santri di dayah-dayah Aceh dalam memandang al-Azhar. Tidak hanya itu, para alumni al-Azhar menjadi guru di pesantren-pesantren terpadu atau modern. Hal serupa juga terjadi manakala beberapa alumni dayah Aceh yang menempuh studi al-Azhar.

Fenomena di atas dapat dikatakan sebagai kebangkitan alumni al-Azhar. Hanya saja, jika energi kebangkitan ini diarahkan pada penguatan politik umat Islam, maka beberapa catatan penting perlu disajikan. Kendati awalnya, kebangkitan alumni al-Azhar ini sama sekali tidak berhadapan langsung dengan persoalan politik bangsa. Kehadiran idola baru Muslim dari alumni al-Azhar dapat dikaitkan dengan pengalaman politik Islam di Indonesia. Karena itu, jejaring alumni al-Azhar akan menjadi pemain baru dalam sejarah politik Islam di negara ini.

Kehadiran mereka telah berusaha untuk memersatukan hati umat. Kekuatan jejaring alumni al-Azhar yang sampai ke akar rumput telah dirasakan manfaatnya oleh umat Islam. Jejaring ini bukan sebagai partai politik, tapi lebih bersifat persaudaraan antara sesama alumni. Mereka juga bekerja dalam filosofi “adik asuh” bagi alumni yang baru selesai dari Kairo. Hal ini tidak berbeda dengan kekuatan alumni-alumni perguruan tinggi lainnya di Indonesia yang tampil di puncak kepemimpinan bangsa ini, seperti alumni UGM, UI, IPB, dan ITB begitu kuat di dalam menyetir arah sejarah bangsa ini.

Pengulangan sejarah
Ketika jejaring alumni al-Azhar berusaha ke arah tersebut, maka kondisi ini merupakan pengulangan dari sejarah masa lalu umat Islam. Sejarah mencatat bahwa jejaring ilmuwan Timur Tengah menjadi motor utama dalam pergerakan pembaruan Islam di Nusantara sejak abad ke-17 M.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help