KBRI Suva: Ada Pihak Ikut Perkeruh Penanganan Kasus TKI Aceh di Fiji

Kasus Rahmat Hidayat (20), anak buah kapal (ABK) yang terikat kontrak kerja dengan kapal ikan asing berbendera

KBRI Suva: Ada Pihak Ikut Perkeruh Penanganan Kasus TKI Aceh di Fiji
KADIS Sosial Aceh, Alhudri membacakan surat KBRI Suva, Fiji terkait permasalahan yang dialami Rahmad Hidayat selaku ABK pada kapal ikan berbendera Fiji. RahmadHidayat (tengah) sesaat tiba di Dinas Sosial Aceh,Rabu (7/3) disambut abang dan kakaknya, Ainal Nasir (kiri) dan Netty Handayani (kanan). 

BANDA ACEH - Kasus Rahmat Hidayat (20), anak buah kapal (ABK) yang terikat kontrak kerja dengan kapal ikan asing berbendera Fiji, Zhong Zhui, menurut catatan pihak KBRI Suva pada dasarnya adalah kasus sederhana yang sering ditemui dan mudah ditangani.

“Peningkatan eskalasi kasus ini disebabkan pihak ketiga yang tidak terlalu paham dengan permasalahan, hingga muncul informasi tidak jelas yang kontraproduktif,” begitu catatan pihak KBRI Suva dalam laporan tertulis pemulangan Rahmad Hidayat yang diterima Serambi pada konferensi pers dengan Kadis Sosial Aceh, Alhudri, di Banda Aceh, Rabu (7/3).

Seperti diketahui, Rahmad Hidayat, warga Desa Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil dilaporkan mengalami perlakukan tidak wajar berupa kekerasan fisik dan dipaksa kerja 20 jam/hari di kapal ikan Zhong Zhui berbendera Fiji.

Kabar tidak mengenakkan itu sampai ke tantenya, Cut Hasniati di Aceh Singkil dan akhirnya sang tante yang merasa gusar dengan nasib keponakannya mem-posting kabar itu di akun facebooknya. Tak ayal, berita itu pun sempat viral dan mendapat tanggapan dari banyak pihak. Pemerintah Aceh pun bergerak cepat merespons permasalahan itu.

Mengutip surat dari KBRI Suva, Gubernur Aceh melalui Kadis Sosial mengatakan, permasalahan yang dihadapi Rahmad Hidayat, ABK asal Aceh di kapal ikan Fiji mencuat melalui media sosial pada 3 Maret 2018 berdasarkan laporan dari Cut Hasniati.

Pada 4 Maret 2018, pihak KBRI Suva menemukan Rahmad Hidayat di salah satu kapal ikan, FV Zhong Zhui 809 di Palabuhan Walubay, Fiji. Berdasarkan wawancara petugas KBRI dengan Rahmad Hidayat memang terdapat penganiayaan di atas kapal oleh sesama ABK. Tetapi yang bersangkutan tidak bekerja 20 jam/hari atau dalam keadaan diperbudak. “Yang bersangkutan mengakui penyebab utamanya untuk minta pulang adalah karena penyakit paru-paru basah sehingga tidak kuat lagi kerja,” kata Kadis Sosial Aceh mengutip laporan KBRI Suva.

Berdasarkan hasil koordinasi pihak KBRI dengan agen kapal tempat Rahmad Hidayat bekerja, disetujui pemulangan yang bersangkutan dengan penerbangan dari Fiji-Hongkong pada 5 Maret 2018 dilanjutkan Hongkong-Jakarta pada 6 Maret 2018. “Setelah sempat bermalam di Jakarta, akhirnya pada Rabu (7/3) pagi, Rahmad Hidayat kembali ke Aceh dengan Lion Air dan dijemput oleh tim Pemerintah Aceh dari Dinsos di Bandara SIM Blang Bintang. Selepas siang kami mengantar yang bersangkutan ke kampung halamannya di Singkil,” kata Alhudri.

Pihak KBRI juga melaporkan, sejumlah dokumen pribadi milik Rahmad Hidayat masih ditahan oleh agen di Jakarta (PT Samudera Alam Semesta). Pihak keluarga Rahmad Hidayat sempat diancam untuk mengembalikan uang sebesar Rp 80 juta. “Terkait hal tersebut pihak KBRI Suva memohon bantuan Pemerintah Pusat untuk membantu dalam proses pengembalian hak-hak yang bersangkutan,” demikian Kadis Sosial Aceh.(nas)

Tags
TKI
KBRI
ABK
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved