Home »

Opini

Opini

Mengubur Luka Perempuan

MEULUE (nama samaran), anak berusia 15 tahun itu tercenung atas apa yang menimpa dirinya. Ia baru saja melahirkan

Mengubur Luka Perempuan
ANTARA
Hari Perempuan 

(Refleksi Hari Perempuan Sedunia)

Oleh Asmaul Husna

MEULUE (nama samaran), anak berusia 15 tahun itu tercenung atas apa yang menimpa dirinya. Ia baru saja melahirkan seorang bayi mungil yang sama mungil dengan dirinya akibat perilaku jahat dua lelaki yang telah menculik dan memerkosanya ketika ia sedang pergi mengaji. Karena belum paham, ia bahkan tidak tahu bahwa dirinya hamil. Kondisi itu pula yang kemudian membuat ia “menamatkan” pendidikan SMP sebelum waktunya.

Untuk memulihkan trauma dan menghindari kejamnya sanksi sosial yang ia terima, Meulue terpaksa dibawa untuk tinggal di rumah singgah. Anak yang dilahirkannya pun terpaksa diserahkan ke panti asuhan, karena keadaannya yang masih labil dan ekonomi keluarganya yang juga kurang mampu. Hingga saat ini, pelaku belum mendapat hukuman karena belum ditemukan. Sedangkan Meulue harus menanggung derita seumur hidup.

Paragraf di atas adalah satu kisah kasus yang ditulis oleh paralegal (pendamping korban kekerasan) yang akan dibukukan dalam buku kumpulan tulisan pengalaman pendamping tentang kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Aceh. Kasus tersebut baru menceritakan tentang satu Meulue. Sedangkan di luar sana, masih banyak Meulue lainnya yang mengalami nasib serupa, bahkan lebih menyakitkan dari Meulue pertama.

Mencatat luka perempuan
Tidak mudah bagi perempuan untuk menulis luka. Mengungkitnya seolah memberi cuka yang menambah rasa luka. Namun tulisan ini tetap harus dituliskan bahwa berapa banyak kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di sekeliling kita. Hasil pendataan yang dilakukan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) mencatat bahwa sepanjang 2017, sebanyak 704 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi di Aceh. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 2016 yang “hanya” 487 kasus.

Tidak berhenti di situ, memasuki 2018, publik disuguhkan berita pelecehan seksual yang terjadi di Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya). Pada akhir Januari lalu, 19 anak mengaku mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang sekretaris desa yang juga berprofesi sebagai guru ngaji tersebut. Ratusan kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan dan anak tersebut bukanlah angka yang sedikit. Dan naasnya, ratusan kasus itu terjadi di Aceh, tanah yang disebut-sebut sebagai negeri syariat.

Selama ini, kasus-kasus pelecehan seksual ibarat fenomena gunung es yang hanya terlihat dari atasnya saja, sedangkan bongkahan-bongkahannya terbenam jauh ke dalam. Sejak dua bulan terakhir mengumpulkan dan mengedit buku kisah-kisah pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditulis oleh paralegal dari Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Aceh, mata saya nanar membaca fakta yang terjadi.

Bagaimana tidak, kejadian buruk yang menimpa perempuan dan anak itu kerap dilakukan oleh orang-orang terdekat. Seperti, anak yang diperkosa oleh ayah kandung, perempuan korban KDRT dari suaminya hingga mengalami gangguan jiwa, santri yang mendapat pelecehan seksual dari pimpinan pesantren, dan lain-lain. Belum lagi kasus-kasus pelecehan seksual yang dialami oleh anak, karena pengaruh pornografi dan teknologi. Kasus-kasus itu berserakan di depan mata. Bahkan boleh jadi terjadi di gampong kita.

Tidak hanya itu, kasus-kasus tersebut bahkan terjadi di lingkungan pendidikan seperti dayah (pesantren) dan sekolah, yang pelakunya terkadang tidak lain adalah pimpinan lembaga itu sendiri. Kita tentu tidak bermaksud mendiskreditkan pimpinan pesantren atau pun kepala sekolah, apalagi menggenaralisasi bahwa semua tempat pendidikan adalah sama. Hanya saja melalui kasus tersebut, membantu kita membuka mata bahwa pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang sudah kita anggap aman bagi anak.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help