Home »

Opini

Opini

Menjaga Marwah Islam

ADA dua ranah yang dapat dilihat ketika berbicara mengenai Islam. Ranah pertama yaitu Islam sebagai sistem

Menjaga Marwah Islam
IST
Tuan Guru Bajang, Tu Sop, dan aktivis ormas Islam, pada acara Tabligh Akbar Haul Ke-3 Sirul Mubtadin, di lapangan Blang Asan, Bireuen, Sabtu (4/3/2018) 

Oleh Johansyah

ADA dua ranah yang dapat dilihat ketika berbicara mengenai Islam. Ranah pertama yaitu Islam sebagai sistem nilai, yakni Alquran. Adapun ranah kedua adalah muslim sebagai penganut ajaran Islam. Islam sebagai sistem nilai adalah ranah teoritis yang sudah baku dan mapan secara teks sebagaimana tersusun dalam Alquran. Sedangkan muslim sebagai penganut adalah ranah praktis yang dihadapkan kepada dinamika dan problematika kehidupan.

Terkait ranah pertama, Islam sebagai sistem nilai tentu tidak diragukan lagi. Islam itu agama sempurna. Secara tegas Allah Swt mengatakan, siapa pun yang mencari agama selain Islam, mereka tergolong rugi, sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali Imran: 19). Dalam satu hadis ditegaskan bahwa Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari itu.

Memang senantiasa ada beragam upaya yang dilakukan oleh kelompok tertentu untuk merusak kemurnian teks Alquran, misalnya dengan cara mengubah redaksi isi ayat tertentu dengan redaksi lain. Tapi upaya-upaya seperti ini tetap gagal, dan memang tidak akan berhasil sampai kapan pun. Kemurnian Alquran tidak akan cedera karena telah diproteksi oleh Allah sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Hijr ayat 9.

Tidak sempurna
Berbeda dengan Islam sebagai sistem nilai yang sudah tidak diragukan lagi, adapun di ranah praktis yakni muslim sebagai penganut ajaran Islam, mereka belum tentu dan bahkan tidak mungkin sempurna, mampu menjalankan ajaran Islam sesuai dengan tuntutan Alquran dan sunnah. Benar memang bahwa untuk memudahkan pemahaman dan pengamalan Islam di ranah praktis, Allah Swt telah mengutus seorang hamba terbaik-Nya, yakni Nabi Muhammad saw. Kalau mau lihat bagaimana Alquran dalam realitas, lihatlah beliau sebagai teladan umat dalam seluruh aspek kehidupan (QS. al-Ahzab: 21).

Bagaimanapun, perbincangan di ranah umat sangat komplek dan rumit sebagai medan realitas. Meski demikian, gerak laju zaman dengan ragam persoalannya memberikan tantangan tersendiri bagi umat Islam untuk bersikap kritis dalam menjawab berbagai persoalan yang muncul. Mereka harus mampu menerjemahkan, memahami, dan mengamalkan Alquran secara kontekstual, dan ini tidak mudah.

Merobohkan doktrin Islam adalah pekerjaan sia-sia. Maka kalau ada upaya memperburuk citra Islam, ranah yang dilirik adalah penganutnya. Upaya seperti ini tidak dapat dipungkiri sebagaimana firman Allah Swt, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120).

Tanpa berlebihan mencurigai pihak lain yang ingin merusak marwah Islam, Secara internal, sebagai umat muslim kita pantas dan sejatinya mengintrospeksi diri tentang bagaimana keberislaman kita, semaksimal apa umat ini mampu memahami dan mau mengamalkan ajarannya? Yang pasti harus diakui bahwa banyak pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam yang belum mencerminkan ajaran Islam sehingga berpotensi memperburuk citra Islam.

Satu contoh kecil, di banyak masjid kita sering memperhatikan minimnya fasilitas peribadatan, terutama menyangkut fasilitas air bersih. Banyak masjid dan meunasah yang krisis air, MCK-nya bau tidak sedap karena kekurangan air. Fasilitas pendukung seperti gayung atau timba saja banyak yang pecah dan bocor, padahal baru, sehingga di sebagian masjid fasilitas pendukung seperti ini diikat dengan tali agar selamat dari tangan-tangan jahil.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help