Mihrab

Shalat Sia-sia Jika Bersuci Asal-asalan

ISLAM memberi perhatian yang sangat besar secara khusus terhadap bersuci (thaharah)

Shalat Sia-sia Jika Bersuci Asal-asalan
Adnan Ali

ISLAM memberi perhatian yang sangat besar secara khusus terhadap bersuci (thaharah). Ia bahkan menjadi syarat utama sebelum melakukan berbagai aktivitas ibadah tertentu seperti shalat yang dikerjakan sehari-hari.

Bersuci merupakan perintah agama yang lebih tinggi dari sekadar bersih-bersih. Sebab, tak setiap yang sudah bersih itu suci. Thaharah terbagi menjadi dua, yakni bersuci dari najis dan bersuci dari hadats yang dilakukan dengan wudhu (untuk hadats kecil) dan mandi (untuk hadats besar) atau tayamum dalam kondisi tak ada air.

Namun demikian, meski sudah diatur sedemikian rupa, tidak sedikit kaum muslim yang masih bermasalah dan belum memahami pentingnya thaharah (bersuci) dan melaksanakannya dengan benar, sesuai tuntunan syariat.

Demikian antara lain disampaikan Tgk H. Adnan Ali S.Pd.I, Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid Aceh (DKMA) Kota Banda Aceh, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (7/3) malam.

“Bersuci dari najis/kotoran dan hadats merupakan syarat sahnya ibadah khususnya shalat kita, karena itu harus diperhatikan. Namun menyingkirkan najis ini jangan asal-asalan, tapi harus didasari dengan ilmu dari Alquran dan Sunnah,” ujar Tgk Adnan.

Dijelaskannya, thaharah merupakan masalah penting dalam agama dan merupakan pangkal pokok dari ibadah yang menjadi peyongsong bagi manusia dalam menghubungkan diri dengan Allah saat beribadah.

Hal juga ditegaskan Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Selain itu juga thaharah merupakan salah satu syarat sahnya ibadah shalat. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah yang artinya : “Allah tidak menerima shalat yang tidak dengan bersuci”.

“Karenanya, jangan sampai ibadah shalat yang kita kerjakan selama ini menjadi sia-sia karena akibat dari bersuci asal-asalan. Coba kita periksa lagi diri kita masing-masing soal bersuci dari najis dan hadats lewat mandi wajib (junub) dan wudhuk,” terangnya Tgk Adnan yang sehari-hari menjadi penyuluh agama pada Kanwil Kemenag Aceh ini.

Ia menjelaskan, thaharah haqiqi, yaitu suci pakaian, badan, dan tempat shalat dari najis ataupun thaharah hukmi, yaitu suci anggota wudhu dari hadats, dan suci seluruh anggota zahir dari junub sebab ia menjadi syarat yang tetap bagi sahnya shalat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help