“Untuk Uang Sekolah Anak Harus Berutang”

KERESAHAN akibat ketiadaan uang tunai karena belum dibayarnya honorarium para perawat dan tenaga medis kontrak

“Untuk Uang Sekolah Anak Harus Berutang”
Perawat dan karyawan Rumah Sakit Fakinah Banda Aceh melakukan aksi di halaman RS tersebut. SERAMBI/M ANSHAR 

KERESAHAN akibat ketiadaan uang tunai karena belum dibayarnya honorarium para perawat dan tenaga medis kontrak di RSUZA, juga dirasakan oleh perawat dan tenaga medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) maupun Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh.

Sejumlah perawat dan tenaga medis kontrak yang ditemui Serambi di kantor koperasinya masing-masing kemarin menungkapkan bahwa untuk pemenuhan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, kopi dan the, bisa mereka bon di koperasi karena memang tak punya uang chash di tangan. “Tapi kebutuhan untuk uang jajan dan uang harian anak, harus saya pinjam atau cari utangan pada teman dan tetangga,” ujar seorang tenaga kontrak di RSJ kepada Serambi kemarin. Ia tak mau nama dan unit kerjanya dipublikasi.

Keluhan yang serupa juga diungkapkan, tenaga kontrak di RSIA. Mereka sangat khawatir, jika sampai bulan April, honor kontrak mereka belum dibayar, bagaimana membiayai kelanjutan studi anak-anaknya yang mau melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, SMK, dan MA, ke jenjang pendidian yang lebih tinggi. Pada akhir April nanti, sejumlah sekolah ikatan dinas seperti IPDN, STAN, Akpol, Akmil, dan lainnya, akan dibuka.

“Anak SMA, SMK, dan MA yang akan melanjutkan ke sekolah tersebut, perlu sedikit dana untuk mengikuti testingnya. Kalau honor kontraknya belum dibayar, kepada siapa pinjam duitnya,” ujar seorang tenaga kontrak di RSIA kepada Serambi. Tenaga kontrak yang ini juga tak bersedia namanya disebutkan.

Direktur Rumah Sakit Jiwa, dr Amren Rahim mengatakan, jumlah tenaga perawat dan tenaga medis yang dikontrak menggunakan dana APBA mencapai 110 orang. Sejak bulan Maret ini, mereka terus mempertanyakan kepada bagian bendahara dan keuangan RSJ, kapan honor kerja mereka bisa dibayar?

“Pada tahun lalu, paling telat dibayar bulan Maret. Tahun anggaran 2018, sudah berjalan tiga bulan, satu bulan pun honor kontraknya belum dibayar,” kata Amrin kepada Serambi, Kamis (8/3) mengutip keluhan tenaga kontraknya.

Pelayanan RSJ kepada pasien yang mengalami gangguan jiwa yang sedang di rawat inap maupun rawat jalan masih berjalan normal. Namun begitu, keresahan di kalangan pegawai kontrak, memasuki bulan Maret ini, sudah tampak. Mereka banyak yang minta pinjaman kepada bendahara/bagian keuangan dan teman-teman sekerjanya yang PNS.

Alasan mereka meminjam uang, kata Amren Rahim, sangat logis. Alasannya, sudah bekerja tiga bulan honor mereka belum juga dibayar pihak rumah sakit, sedangkan mreka punya anak dan istri. Kebutuhan rumah yang perlu dipenuhi bukan hanya kebutuhan pokok, seperti beras, ikan, minyak goreng, dan lainnya, tapi kebutuhan lainnya, seperi uang sekolah harian anak, juga harus tersedia setiap bulan. “Info yang kami dengar, ada beberapa orang, harus utang dan pinjam duit dengan teman dan tetangga untuk uang harian anak sekolahnya,” ujar Amren Rahim.

Keluhan yang sama juga terjadi pada tenaga kontrak di RSIA Aceh. Di rumah sakit itu terdapat sekitar 80 orang tenaga kontrak, sebanyak 60 orang, dibayar menggunakan dana APBD dan sisanya 20 orang lagi dibayar menggunakan penerimaan dana BLUD RSIA yang dibayar atas pelayanan JKA/JKN dari BPJS Kesehatan dan pihak lainnya yang berobat menggunakan kartu non- JKA/JKN.

Untuk tenaga kontrak yang dibayar pakai dana BLUD, kata Direktur RSIA, Dr Amri, tidak ada masalah, honor bulananya dibayar setiap bulan. Tapi, bagi tenaga kontrak yang honornya dibayar menggunakan dana APBA, pembayarannya harus menunggu RAPBA disahkan. Sampai kini RAPBA belum disahkan.

“Info yang kita dengar untuk mempercepat pengesahan RAPBA dan membayar honor pegawai kontrak dan lainnya, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sudah mengusulkan ke Mendagri untuk mempergubkan RAPBA 2018. Tapi sampai kini masih dalam proses. Kita hanya bisa menyatakan kepada tenaga kontrak untuk bersabar, bersabar, dan bersabar,” tutur Amri.

“Kalau untuk memberikan pinjaman, BLUD RSIA tidak punya dana yang cukup, kecuali pinjaman nilainya kecil-kecil bisa ditalangi. Kalau sudah besar, tunggu dana APBA. Honor tenaga kontrak itu tetap kita dibayar, tapi setelah RAPBA disahkan,” ujar Amri. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help