Bahasa Aceh Yang Tak Lagi Diminati?

Dewasa ini, mempelajari sejarah dan mengembalikan bahasa daerah ke tengah-tengah masyarakat sangat lah penting

Bahasa Aceh Yang Tak Lagi Diminati?
Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Kemenag RI, Choirul Fuad Yusuf (kiri) dan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA menandatangani naskah kerja sama penerjemahan Alquran dalam bahasa Aceh, Jumat (24/3) di kampus tersebut. FOTO-HUMAS UIN AR-TANIRY 

Oleh: Antoni Abdul Fattah

Dewasa ini, mempelajari sejarah dan mengembalikan bahasa daerah ke tengah-tengah masyarakat sangat lah penting. Apalagi bagi kita, rakyat Aceh yang memiliki budaya khas yang terikat dengan Syariat Islam. Mengingat banyak dari generasi muda kita seperti kehilangan identitas dirinya. Mereka seperti telah kehilangan identitas keacehannya, dimana dalam darahnya mengalir jiwa-jiwa kebangkitan yang diwarisi dari para syuhada kita dahulu. Jiwa-jiwa keislaman yang sangat kental dan jiwa-jiwa anti pada penjajahan, baik kultural atau pun struktural.

Hilangnya warisan indatu ini di mulai dari hilangnya bahasa ibu, yaitu bahasa Aceh. Saat ini saya melihat banyak dari orangtua di Aceh yang tidak lagi mengajari anaknya berbahasa Aceh. Padahal bahasa adalah salah satu ikatan pemersatu. Adanya orang Aceh karena ada bahasa Aceh.

Seorang teman, bukan berasal dari Aceh tetapi telah lama menetap di Aceh, menceritakan sebuah kisahnya pada saya, saat ia berbelanja. Waktu itu, dia menanyakan harga buah-buahan kepada salah seorang pedagang di salah satu pasar. Pedagang itu lalu menjawabnya dengan bahasa Aceh.

Temannya saya itu lalu mengatakan dia tidak bisa bicara dalam bahasa Aceh. Lalu, pedagang itu pun menjawab kembali dengan mengatakan kepada teman saya itu bahwa di daerah mana kita berada, minimal kita harus bisa berbicara dalam bahasa daerah itu, meskipun terbata-bata.

Setelah kejadian itu, teman saya itu mulai belajar berbicara dengan bahasa Aceh ketika berinteraksi dengan penduduk sekitar. Dan ia merasakan nuansa keakraban saat ia berbicara dengan bahasa Aceh, seakan-akan sudah lama kenal dan telah menjadi teman akrab.

Padahal baru sekali bertemu. Hilangnya bahasa ibu ini hampir dirasakan oleh semua negara. Bangsa Zionis Israel pada abad ke-19 juga pernah merasakan hal yang sama, dimana bahasa Ibrani yang dipakai bangsa Yahudi itu nyaris punah.

Tetapi dengan usaha serius dan sekuat tenaga, bahasa Ibrani pun dapat berkembang kembali. Ada enam langkah yang ditempuh oleh pemikir Zionis Israel untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani di dalam kehidupan sehari-hari, yakni pembentukan bahasa Ibrani di dalam rumah tangga, membentukkelompok-kelompok tutur Ibrani,pembinaan di sekolah-sekolah,penerbitan surat kabar berbahasa Ibrani modern, penyusunan kamus bahasa Ibrani kuno dan modern, dan pembentukan dewan bahasa.(Kompas, 26/10/1996).

Bangsa Yahudi hingga hari ini dikenal sebagai bangsa yang menghargai bahasa, adat, tradisi dan sejarahnya. Hal inilah yang menyebabkan mereka menjadi ekslusif dan terus dapat berkembang hingga saat ini.

Dengan mempelajari bahasa pula, kita dapat memahami Alquran. Tentunya dengan mempelajari bahasa Arab beserta unsur-unsur pendukungnya, seperti nahwu dan shorof. Apalagi saat ini UIN Ar-Raniry dengan Kementerian Agama telah membuat Alquran terjemahan bahasa Aceh. Ini tentu langkah yang bagus.

Begitupula bahasa sangat penting di dalam kita memahami sejarah. Para pakar bahasa memisalkannya seperti kebutuhan manusia kepada oksigen. Karena hal itulah, bahasa mempunyai fungsi utama dalam kehidupan kita.

Singkatnya, dengan bahasalah kita dapat memahami sejarah. Bahkan terkadang hanya dengan lewat bahasa, sebuah daerah dapat dikuasai. Adat dan budaya menyebar juga melalui bahasa.

Dimana ada istilah-istilah khusus dalam adat yang hanya dapat dimaknai menggunakan bahasa lokal di daerah tersebut. Melestarikan bahasa sendiri adalah tugas kita bersama rakyat dan pemerintah Aceh. Ayo jangan malu berbahasa Aceh!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved