380 Tukik Dilepas di Pulo Aceh

Lembaga Ekowisata Pulo Aceh (LEPA) bersama mahasiswa, perwakilan pemerintah, dan masyarakat melepas

380 Tukik Dilepas di Pulo Aceh
SEBANYAK 380 ekor tukik (bayi penyu) dilepas di Pasie Lambaro, Gampong Gugob, Pulo Breuh, Aceh Besar, Minggu (11/3). 

PULO ACEH - Lembaga Ekowisata Pulo Aceh (LEPA) bersama mahasiswa, perwakilan pemerintah, dan masyarakat melepas sebanyak 380 ekor tukik (bayi penyu) ke laut. Penglepasan itu berlangsung di Pantai Pasie Lambaro, Gampong Gugob, Pulau Breuh, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar, Minggu (11/3).

Amatan Serambi kemarin, sejak pukul 15.30 WIB sejumlah masyarakat dari beberapa desa sudah berkumpul di Pantai Pasie Lambaro. Tampak hadir ratusan mahasiswa dari Fakultas Kelautan Dan Perikanan (FKP), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Selain ikut melakukan penglepasan tukik, mereka juga menyerahkan sumbangan untuk konservasi penyu di Pulo Aceh.

Penglepasan diawali oleh pejabat terkait seperti perwakilan Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP), Saefuddin, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, Zainal Arifin Lubis, dan sejumlah pejabat Aceh Besar Serta Muspika Pulo Aceh. Kemudian dilanjutkan oleh mahasiswa dan anak anak Pulo Aceh.

Ketua LEPA, Muslim, kepada Serambi menyampaikan, kegiatan itu merupakan bagian dari konservasi penyu di Pulo Aceh, karena diketahui penyu merupakan satwa yang dilindungi. Selain itu, aksi penglepasan tukik itu juga dijadikan ajang ekowisata dan edukasi, sehingga dihadirkan para wisatawan, mahasiswa, dan anak-anak.

Ia merincikan, dari 380 ekor tukik yang dilepas ke laut itu merupakan jenis lekang dan hijau. Menurutnya, penyu hijau merupakan jenis penyu yang hanya terdapat di Pulo Aceh untuk wilayah Aceh Besar. Tukik itu terdiri atas beberapa kelompok umur, ada yang tiga hari, delapan hari, hingga 12 hari.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif pemuda Pulo Aceh dan relawan lepa yang ingin melindungi penyu, karena ada kepedulian karena selama ini banyak masyarakat mengkonsumsi penyu. Jadi para pemuda dan relawan mencari penyu lali dilakukan penangkaran,” ujarnya.

Menurutnya, ini merupakan kali kedua LEPA melepas tukik ke pantai, sebelumnya beberapa bulan lalu mereka sudah melepaskan sekitar 80-an ekor tukik. Sedangkan di lokasi penangkaran milik LEPA, saat ini terdapat sekitar 200-an telur penyu yang akan segera menetas.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, Zainal Arifin Lubis, mengatakan, ekowisata yang dikembangkan di Pulo Aceh merupakan langkah mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. Karena selain pelepasan tukik, masih banyak lainnya yang bisa dijual dalam ekowisata.

Menurutnya, konservasi penyu itu memiliki banyak manfaat, selain untuk pelestarian alam, apalagi penyu salah satu hewan purba yang masih ada. Konservasi itu menjadi pendorong tumbuhnya ekowisata dan dapat menambah penghasilan masyarakat setempat.

“Kita harap masyarakt lokal Pulau Aceh mendapatkan benefit dari konservasi penyu ini, yaitu datangnya turus lokal maupun asing ke pulo aceh, sehingga hal itu harus dikelola dengan baik dan dibenahi bersama-sama,” ujarnya.

Jika konservasi itu sudah berjalan, kata Zainal Arifin, sektor lain juga harus segera dikembangkan dan dibenahi misalnya membuat kerupuk gurita atau sejenisnya yang menjadi buah tangan khas pulo aceh. Serta membenahi fasilitas dan infrastruktur ke kawasan wisata, baik pantai maupun wisata sejarah seperti mercusuar.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved