Belum Siap Musyawarah, Hakim Tunda Putusan Perkara Buruh Tambang Ilegal di Tangse

"Sidang hari ini, agenda putusan terhadap terdakwa. Tapi, majelis hakim belum bermusyawarah sehingga sidang ditunda,"

Belum Siap Musyawarah, Hakim Tunda Putusan Perkara Buruh Tambang Ilegal di Tangse
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Terdakwa duduk di ruang sidang sebelum persidangan dimulai di PN Sigli, Selasa (13/3/2018). 

Laporan Muhammad Nazar | Pidie

SERAMBINEW.COM, SIGLI - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sigli, menunda sidang putusan terhadap perkara buruh tambang ilegal di kawasan pegunungan Cot Kuala, Kecamatan Tangse, Pidie, Selasa (13/3/2018).

Perkara tersebut melibatkan enam terdakwa sebagai buruh dan operator beko.

Keenam terdakwa masing-masing bernama Fadli Abdullah (42) warga Desa Blang Dhot, Zulfannur bin Abdullah (21) warga Desa Pulo Baro, Munawir bin Anwar (32) warga Desa Pulau Mesjid 1 dan T Bustami T Jamaluddin (33) warga Desa Pulau Sejahtera.

Keempat terdakwa tercatat sebagai buruh pada tambang emas ilegal tersebut.

Baca: Hal Ini yang Jadi Alasan Empat Kali PN Sigli Tunda Sidang Perkara Tambang Ilegal

Sementara dua terdakwa lagi Muhammad Handoko (33) warga Padang Cermin, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dan Muhammad (28) warga Desa Dayah Peudaya, Kecamatan Padang Tiji.

Sidang tersebut dipimpin Safri SH MH Hakim Ketua didampingi dua hakim anggota Zainal Hasan SH MH dan Samsul Maidi SH MH.

"Sidang hari ini, agenda putusan terhadap terdakwa. Tapi, majelis hakim belum bermusyawarah sehingga sidang ditunda," kata Ketua Majelis Hakim PN Sigli, Safri SH MH, dalan persidangan di PN Sigli, Selasa (13/3/2018).

Ia menambahkan, sidang lanjutan perkara tambang emas ilegal itu akan dilanjutkan, Selasa (20/3/2018), dengan agenda putusan.

Seperti diketahui, keenam buruh tambang ditangkap polisi dalam penertiban penambang emas ilegal di kawasan hutan lindung Tangse.

Polisi menangkap enam buruh dan dua beko sebagai barang-bukti (BB) melakukan aktivitas tanpa izin di kawasan hutan lindung. (*)

Penulis: Muhammad Nazar
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help