Meurukôn Sastra Lisan yang Terabaikan

Sastra lisan muncul dan berkembang seiring perkembangan Agama Islam di Aceh. Maka tidak heran jika Aceh kaya akan media

Meurukôn Sastra Lisan yang Terabaikan
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA

Oleh: Muhammad Iqbal, Penulis adalah Dosen Tadris Bahasa Indonesia, IAIN Lhokseumawe

Sastra lisan muncul dan berkembang seiring perkembangan Agama Islam di Aceh. Maka tidak heran jika Aceh kaya akan media pendidikan Islam. Media itu menjadi bahan ajar pendidikan Islam secara nonformal. Media yang dimaksud itu adalah meurukôn.

Meurukôn sebagai sastra lisan memiliki fungsi atau kegunaan dalam masyarakat Aceh. Adapun fungsi meurukôn sebagai meliputi alat pengendali sosial; alat untuk mendidik; media dakwah; dan penghibur.

Di samping itu, meurukôn juga berfungsi untuk menginformasikan sesuatu. Menurut Leech (dalam Harun, 2006:92), penggunaan bahasa yang informasional merupakan hal yang utama dan dianggap faktor sentral dalam komunikasi bahasa melalui sastra.

Fungsi ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan, menjelaskan atau menginformasikan sesuatu kepada khalayak ramai. Meurukôn termasuk ke dalam bentuk folklor Indonesia jenis folklor lisan. Danandjaja (1997:46) mengatakan bahwa, kekhususan genre folklor lisan dapat dilihat pada kalimatnya yang tidak berbentuk beba smelainkan bentuk terikat.

Produk bahasa ini kini hanya tinggal nama. Kegiatan meurukôn sangat sulit ditemukan pada masyarakat Aceh. Daya tarik meurukôn tidak lagi terpatri dalam darah masyarakat Aceh. Tradisi lisan ini juga tidak mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat juga pemerintah.

Bahkan, banyak generasi milenium belum pernah mendengar istilah meurukôn. Estafet budaya meurukôn dari syeh kuna tidak sempat dilanjutkan kepada generasi berikutnya karena budayaasing lebih dulu masuk ke Aceh. Fenomena pergeseran aset bahasa ini seharusnya perlu ada perhatian masif dan intensif.

Hal ini karena meurukôn merupakan media yang digunakan masyarakat Aceh duluuntuk menyampaikan berbagai persoalan agama Islam. Mekanisme meurukôn dilakukan dengan berdebat antara dua atau tiga kafilah (kelompok). Satu kafilah biasanya berjumlah enam sampai sepuluh orang. Mereka dipimpin oleh seorang syeh.Materi yang diperdebatkan dan jawaban yang diberikan akan dinilai oleh para hakim yang disebut syeh kuna. Meurukôn atau meusipheut terdiri atas pembuka dan isi.

Bagian pembuka merupakan bagaian awal meurukôn. Bagian ini diawali oleh pembacaan doa (puji-pujian yang sering juga dilanjutkan dengan selawat Nabi). Di samping itu, bagian isi dikelompokkan dalam beberapa bagian yang lazim disebut bhah. Bhah dapat diartikan sebagai masalah yang dibahas.

Bagian ini meliputi bhah agama, bhah ie, bhah seumayang, dan bhah i’tiekeuet. Ciri khas materi yang diperdebatkan S dalam meurukôn semuanya menyangkut dengan materi agama Islam. Untuk menghindari salah tafsir, meurukôn tidak disebut sebagai pertandingan atau adu argumen soal agama, tetapi disebut sebagai acara meutrang-trang agama karena saling menjelaskan soal pemahaman agama.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved