SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

‘Bunda Baca’ Langkah Nyata Menuju ‘Aceh Carong’

MEWUJUDKAN masyarakat smart yang siap menghadapi segala tantangan global, tidak mudah

‘Bunda Baca’ Langkah Nyata Menuju ‘Aceh Carong’
IST
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, makan nasi sebungkus berdua dengan Ketua Yayasan Aceh Carong, Suryadi Djamil, di teras Bandar Udara (Bandara) Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar 

Oleh Azwardi

Beusajan Bunda aneuk tataktèh
Tapeugöt bijéh nanggroe mulia
Beukayém baca beutatém tuléh
Tapeuthèe Aceh sampoe u luwa

Meuhan tabaca, panè peue tatuléh
Meuhan tatuleh, panè peue tabaca
Meuhan tabaca ngön tatuléh, panè ‘ileumèe trôk tawaréh
‘Al’ilmu fil qitab
Iqra’, iqra’, iqra’...!

MEWUJUDKAN masyarakat smart yang siap menghadapi segala tantangan global, tidak mudah. Untuk itu, diperlukan kepedulian dan semangat yang tinggi dari segenap elemen bangsa, mulai dari presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara sampai rakyat jelata sebagai anggota masyarakat pada tataran paling bawah. Atas persetujuan dan arahan DPR dan dibantu oleh para menteri, seorang presiden situntut mempersiapkan dan menjalankan berbagai rencana strategis secara nasional demi mewujudkan cita-cita bangsa. Demikian juga gubernur, atas persetujuan dan arahan DPRD dan didukung oleh bupati/wali kota sampai pada tingkat camat serta kepala desa, juga diamanatkan untuk merencanakan dan melaksanakan program-program unggulan terkait dengan percepatan pencapaian renstra pemerintah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa barometer kemajuan suatu bangsa dan negara diukur berdsasarkan indeks kecerdasan anak bangsanya. Semakin baik indeks kecerdasan anak bangsa semakin baik pula derajat dan martabat bangsanya. Pada level nasional, Indonesia Pintar merupakan program unggulan presiden dalam rangka pemartabatan bangsa dalam ranah percaturan global. Berbagai agenda yang berhubungan dengan pencapain program unggulan tersebut terus digulirkan melalui satuan-satuan kerja terkait. Gerakan Literasi Nasional (GLN) misalnya, yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkolaborasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa beserta Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Program primadona
Pada level daerah, Aceh Carong misalnya, merupakan satu program primadona Gubernur Aceh dalam rangka pemartabatan bangsa dalam ranah percaturan nasional. Berbagai agenda yang berhubungan dengan pencapain program unggulan yang telah digulirkan Pemerintah terus disingkronisasikan dan diadaptasikan dengan berbagai potensi keunggulan daerah sesuai dengan kearifan lokal. Pendeklarasian Aceh Carong dan pengukuhan “Bunda Baca” misalnya, merupakan rangkaian kegiatan akademik yang tidak lain adalah bukti tekat, semangat, dan kepedulian pemimpin Aceh dalam upaya mencerdaskan dan memartabatkan masyarakat Aceh dalam kancah percaturan nasional, regional, dan internasional.

Alhamdulillah, sebuah gagasan yang saya sounding beberapa waktu lalu dalam artikel “Transformasi Literasi Masa Kini” (Serambi, 1/2/2018) mendapat respons positif dari Pemerintah Aceh. Dalam tempo yang singkat, kurang dari dua bulan, gagasan yang terkait dengan gerakan literasi Aceh telah menguat dan menjadi tindakan nyata. Maka, pada Senin, 19 Maret 2018, bertempat di Anjong Mon Mata Banda Aceh tertoreh kembali tinta emas, terukir lagi sejarah baru terkait dengan tonggak literasi di Aceh. Sejarah baru itu adalah pengukuhan Bunda Baca Aceh. Apa dan siapa Bunda Baca itu? Apa visi, misi, dan tujuannya? Bagaimana kaitannya dengan Aceh Carong yang telah ditoreh sebelumnya oleh Gubernur Aceh terpilih?

Bunda Baca adalah sebuah ikon penggerak atau lokomotor literasi Aceh demi percepatan pencapaian visi, misi, dan tujuan Aceh Carong yang telah dicanangkan oleh Bapak Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Bunda Baca tidak lain ialah Ibu PKK Aceh, Istri Gubernur, Ibu Darwati A Gani. Bunda Baca dinobatkan demi merangkai aneka mata rantai untuk mencapai Aceh smart, pintar, kuat, dan bermartabat. Boleh dikatakan bahwa Bunda Baca merupakan sosok pemantik minat baca, penyulut semangat tulis, penyebar sumbu ilmu dalam langkah nyata menuju Aceh Carong.

Filosofi Bunda Baca dapat ditarik dari ilustrasi atau analogi berikut. Secara psikologis dan fisiologis, bunda atau ibu merupakan sosok lembut penuh cinta yang paling dekat, sayang, dan peduli terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya. Dengan naluri keibuannya, kesabarannya, ketelatenannya, dan sebagainya, apa pun yang diajarkan kepada anak-anaknya, anak-anaknya itu cepat paham dan membekas dalam diri sanubari si anak. Selain itu, dalam keluarga, ibulah yang lebih banyak wantu dalam menuntun dan mengamati tumbuh kembangnya anak secara intens. Dengan perkataan lain, sang bunda selalu ada cara dalam merawat dan membesarkan buah hatinya. Tanpa rasa kasih sayang seorang bunda, entah apa yang terjadi pada bayi-bayi yang dilahirkan. Oleh karena itu, penumbuhan minat baca bagi anak juga harus dimulai dari sentuhan tangan dingin seorang ibu atau ibunda.

Membina literasi
Secara teknis dalam setiap lawatan atau kunjungan kerjanya ke setiap kabupaten/kota dan daerah-daerah terpencil di Aceh, Ibu Gubernur, di samping berperan sebagai Ibu PKK Aceh, juga sekaligus mengemban tugas membina literasi Aceh. Untuk itu, saat bertandang ke suatu daerah target kunjungan beliau selalu membawa paket oleh-oleh yang banyak, yaitu berupa nutrisi jiwa, bahan bacaan literasi lintas usia, dan tentunya juga dengan menyertakan rangkaian gerbong tim penggerak dan pakar literasi dalam skema roadshow literasi Aceh. Dalam kegiatan roadshow tersebut Bunda Baca berperan sebagai pemantik semangat minat baca masyarakat, sedangkan tim pakar literasi yang diikutsertakan berfungsi sebagai narasumber dalam pembimbingan langsung workshop menulis atau pemanfaatan literasi online, khususnya bagi generasi muda atau anak-anak sekolah.

Idealnya, untuk membumikan minat baca tulis dan sebarkan, perlu dipetakan program-progran strategis kegiatan Bunda Baca. Program-program tersebut antara lain: Pertama, mengampanyekan kesadaran berliterasi bagi seluruh masyarakat Aceh; Kedua, mendistribusikan aneka bahan bacaan literasi ke seluruh masyarakat sampai ke pelosok daerah; Ketiga, memfasilitasi atau memberikan workshop atau pelatihan-pelatihan keliterasian, seperti membaca, menulis, dan penataan perpustakaan dan kearsipan, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda; Keempat, mengadakan sayembara menulis bahan bacaan literasi terkait dengan konten kearifan lokal Aceh; Kelima, membentuk sudut-sudut baca di ruang-ruang publik; Keenam, membina literasi keluarga; Ketujuh, mengadakan riset-riset terkait dengan pengembangan dan pembinaan literasi; Kedelapan, melakukan penulisan atau penyediaan aneka bahan bacaan literasi, Kesembilan, memfasilitasi penguatan fugsi perpustakaan keliling, dan; Kesepuluh, mengadakan pemilihan duta baca Aceh.

Dengan pengukuhan Bunda Baca Aceh ini segera kita wujudkan Aceh Carong yang smart, kuat, dan bermartabat. Bersama Bunda Baca mari kita pantik minat baca, kita sulut semangat tulis, dan kita sebar sumbu ilmu dalam langkah nyata menuju Aceh Carong!

* Azwardi, S.Pd., M.Hum., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: azwardani@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help