Kebutuhan Jernang 400 Ton Setahun

Industri pengolah resin (getah) buah jernang kini makin berkembang. Imbasnya, kebutuhan terhadap jernang

Kebutuhan Jernang 400 Ton Setahun
Buah jernang milik warga di Desa Timpleung, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya. 

BANDA ACEH - Industri pengolah resin (getah) buah jernang kini makin berkembang. Imbasnya, kebutuhan terhadap jernang pun kian meningkat, terutama di Aceh. Bahkan sebagian kebutuhan getah jernang dunia saat ini yang mencapai 400 ton setahun dipasok dari Aceh.

“Kebutuhan ekspor getah jernang ternyata sangat tinggi, mencapai 400 ton setahun. Tentu, jumlah itu sangat besar, mengingat kebutuhan getah jernang di pasar dunia sangat tinggi karena resin dari tumbuhan jenis rotan itu multifungsi,” kata akademisi dari Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala (FMIPA Unsyiah), Dr Khairan Yusuf MSc, Selasa kemarin, menanggapi laporan eksklusif Serambi Indonesia edisi Senin (19/3) berjudul ‘Jernang Diburu, Maut Mengintai’.

Menurutnya, harga getah jernang pun cukup menggiurkan, mencapai Rp 300.000-Rp 500.000/kilogram. Informasi yang dihimpun Serambi, industri pengolah getah jernang di Aceh sampai kewalahan memenuhi permintaan pasar ekspor, karena terbatasnya pasokan bahan baku.

“Kebutuhan ekspor 400 ton per tahun, tapi stok yang tersedia tidak sebanyak itu, baru ada 10 persennya.Memang sulit sekarang untuk mendapatkannya, karena petani kita harus pergi ke hutan di pedalaman,” kata Khairan.

Ia tambahkan, jernang juga dikenal dalam bahasa Latin dengan nama Daemonorops draco atau disebut juga dragon blood (darah naga). Buahnya itu mengandung dracoresen (11%), dracoalban (2,5%), resinolanol (50%), dan sisanya senyawa ester seperti asam benzoat dan benzolaktat. Di samping itu jernang juga bersifat sebagai antioksidan, karena mengandung senyawa polifenol seperti flavonoid antosianin.

“Senyawa inilah yang menyebabkan jernang ini mempunyai aktivitas sebagai antitumor, antikanker, antivirus, dan bersifat sitotoksid. Karena kandungan resin yang tinggi pada getahnya, tumbuhan ini menjadi buruan karena dapat digunakan sebagai bahan obat, kosmetik, bahan pewarna porselen, marmer, dan industri lainnya,” sebut Khairan.

Soal geografis, lanjut Khairan, hutan Aceh memang salah satu hutan terbaik untuk tumbuhan merambat ini, salah satunya di dataran tinggi Gayo. Namun, hampir di semua daerah, jernang tumbuh di hutan pedalaman. “Kalau di kawasan Aceh Besar jernang itu adanya di Mata Ie, mungkin tidak terlalu banyak, tapi yang pasti ada, cuma jauh,” katanya.

Meski jernang jenis tumbuhan yang merambat di dalam hutan, menurut Khairan, tumbuhan ini bisa dibudidayakan seperti para petani membudidayakan sawit atau tanaman lainnya.

Hanya saja, mungkin hasil budi daya tidak seperti hasil tanaman yang tumbuh alami di dalam hutan. “Kita berharap pemerintah mendukung program budi daya jernang yang dilakukan masyarakat, karena ini saat ini jernang terus diburu dan kebutuhannya tinggi,” katanya lagi.

Khairin Yusuf juga meminta Pemerintah Aceh segera mengeluarkan imbauan atau mengawasi agar warga yang mencari resin jernang tidak merusak ekosistem lainnya di dalam hutan. “Masyarakat juga harus hati-hati saat masuk ke dalam hutan untuk mencari getah jernang ini, memang harganya menggiurkan, tapi tetap harus berhati-hati,” pungkasnya. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help