Mihrab

Melihat Masjid Peninggalan Saudagar Aceh di Penang

DARI kejauhan terlihat minaretnya yang berdiri kokoh menjulang ke langit. Menara tunggal dengan gaya arsitektur Moorish

Melihat Masjid Peninggalan Saudagar Aceh di Penang
MASJID Melayu Lebuh Acheh dengan menara tunggal bergaya arsitektur Moorish, didirikan pada 1808 oleh Tunku Syed Hussain al-Aidid, seorang saudagar Aceh. Masjid jamik yang terletak di Jalan Lebuh Acheh, George Town, sering dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Penang, Malaysia, terutama dari Aceh.

DARI kejauhan terlihat minaretnya yang berdiri kokoh menjulang ke langit. Menara tunggal dengan gaya arsitektur Moorish (perpaduan antara arsitektur Mesir Kuno, Cina, dan India) itu seakan diapit dan terjepit di antara dua deretan pertokoan bergaya klasik abad pertengahan. Namun, ketika kita lebih mendekat, deretan pertokoan dua lantai tersebut ternyata ada di depan, sementara menara dan bangunan utamanya berdiri megah di sisi belakang.

Itulah Masjid Melayu Lebuh Acheh (Acheen Street Malay Mosque), satu bangunan tua yang ada di Penang, Malaysia, yang sampai hari ini masih berdiri kokoh dan terawat baik. Sesuai dengan namanya, masjid jamik yang mampu menampung sekitar 500 jamaah itu terletak di Lebuh Acheh, George Town, ibu kota Pulau Pinang, Malaysia. Lebuh dalam bahasa Melayu (Malaysia) berarti jalan.

Berdasarkan tulisan di prasasti yang terpampang di depan pintu gerbangnya, Masjid Melayu Lebuh Acheh didirikan pada 1808 oleh Tunku Syed Hussain Al-Aidid, seorang saudagar Aceh yang hijrah dan kemudian menetap di Penang sejak 1791. Dalam kiprahnya sebagai seorang pedagang rempah-rempah, Syed Hussain bukan saja membangun masjid, tapi juga berhasil membuka dan menjadikan wilayah itu sebagai satu kawasan yang ramai dan maju hingga saat ini.

Rombongan Fam Trip asal Banda Aceh yang mendapat kesempatan menikmati penerbangan langsung (direct flight) perdana Banda Aceh-Penang bersama Maskapai Malindo Air, Jumat ((16/3), mengunjungi masjid tertua di Pulau Pinang itu. Masjid Melayu Lebuh Acheh ini, di samping memiliki minaret berbentuk octagon (bersegi delapan), juga dilengkapi dengan kulah wudhuk, sumur, kamar mandi (toilet), dan area pemakaman. Syed Hussain sendiri dimakamkan area yang terdapat di sisi belakang masjid itu.

Bagi para pelancong dari Aceh, berkunjung ke masjid ini menjadi menarik bukan saja karena dibangun oleh orang Aceh, tapi juga karena komposisi demografis Penang. Pulau Pinang adalah negara bagian Malaysia yang terkecil kedua, setelah Perlis. Namun dari segi jumlah penduduk yang mencapai 1.773.442 jiwa, Penang tercatat sebagai negera bagian dengan persentase penduduk muslim dan Melayu paling kecil dibandingkan dengan negara-negara bagian lainnya di Malaysia.

Menurut Ainun M Borkhan, pemandu wisata yang membawa rombongan Fam Trip dari Banda Aceh, masjid ini sekarang menjadi satu obyek wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal Malaysia dan asing, terutama para pelancong dari Aceh. Pada awalnya Masjid Melayu Lebuh Acheh ini dibangun sebagai rumah ibadah dan tempat pengajian bagi penduduk muslim setempat.

Namun dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, masjid tersebut dan distrik di sekitarnya juga pernah menjadi pangkalan transit bagi para calon jamaah haji dari Malaysia, Indonesia, dan Thailand sebelum berangkat ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi. Peristiwa ini terjadi pada akhir abad 19 dan awal abad 20, sehingga Masjid Melayu Lebuh Acheh dan kawasan pemukiman penduduk di sekitarnya ketika itu dijuluki sebagai Jeddah kedua.

Ini meningatkan kita pada Pulau Rubiah di Sabang yang juga pernah menjadi pangkalan transit para calon jamaah haji. Bahkan, julukan Jeddah kedua yang ditabalkan bagi kawasan sekitar Masjid Melayu Lebuh Aceh yang bercat broken white itu, juga seolah mengingatkan kita pada Aceh yang dijuluki sebagai daerah Serambi Mekkah.

“Ketika itu, setiap musim haji tiba, kawasan pemukiman penduduk di sekitar Masjid Melayu Lebuh Acheh ini cukup sibuk. Kesibukan bukan saja karena dipenuhi oleh para jamaah calon haji yang menunggu proses dokumen perjalanan, tetapi juga dibanjiri oleh saudara dan sahabat handai taulan yang menghantar mereka,” kata Ainun.

Dia menambahkan, ketika itu hampir semua rumah penduduk di sekitar Masjid Melayu Lebuh Acheh, di Penang itu, disewa oleh para calon jamaah haji dan sanak-keluarga mereka, sebagai pengantar yang ingin melepaskan keberangkatan mereka ke tanah suci. Namun hiruk-pikuk terkait pangkalan transit calon jamaah haji itu berakhir seiring dengan pecahnya Perang Dunia II (1939-1945).

Aktivitas keberangkatan calon jamaah haji melalui Pulau Pinang itu dibuka kembali pada 1949. Namun 27 tahun kemudian atau tepatnya pada 1976, Lembaga Urusan dan Tabung Haji Melaysia menghentikan pangkalan transit calon jamaah haji tersebut. Ini dilakukan karena sejak itu, keberangkatan calon jamaah haji ke tanah suci Mekkah tidak lagi menggunakan kapal laut, tapi sudah dilayani dengan pesawat terbang.

Di Penang, selain Masjid Melayu Lebuh Acheh yang kini berstatus sebagai “Warisan Negara”, juga terdapat masjid-masjid lainnya yang indah, di antaranya Masjid Negeri (State Mosque of Penang), Masjid terapung (Penang Floating Mosque), Masjid Abdullah Fahim, dan Masjid Kapitan Keling (Kapitan Keling Mosque). Tetapi satu hal yang pasti, jika kita dari Aceh rasanya tidak lengkap ke Penang, kalau belum melihat dan menginjakkan kaki di Masjid Melayu Lebuh Acheh. (asnawi kumar)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help