Semakin Ramai Ahli Waris Pemegang ‘Obligasi Pesawat’

Kisah Nyak Sandang (91), warga Lamno, Aceh Jaya selaku pemegang obligasi atau pernyataan utang Pemerintah RI (selaku penerbit obligasi)

Semakin Ramai Ahli Waris Pemegang ‘Obligasi Pesawat’
SALAH satu obligasi untuk modal membeli pesawat terbang pada saat-saat awal kemerdekaan. 

BANDA ACEH - Kisah Nyak Sandang (91), warga Lamno, Aceh Jaya selaku pemegang obligasi atau pernyataan utang Pemerintah RI (selaku penerbit obligasi) untuk modal membeli pesawat terbang pada saat-saat awal kemerdekaan ternyata telah memunculkan sejumlah obligasi serupa yang dipegang oleh ahli waris berbeda.

Informasi yang dihimpun Serambi, hingga Jumat (23/3) setidaknya sudah tercatat penambahan pemegang ‘obligasi pesawat’--di luar Nyak Sandang--sebanyak delapan ahli waris lagi yaitu enam ahli waris di Aceh Barat (lima obligas), satu ahli waris di Laweung, Pidie (dua obligasi), dan satu ahli waris untuk satu obligasi di Aceh Besar.

Banyak kalangan meyakini jumlah surat berharga yang telah berusia lebih 70 tahun itu akan terus bertambah setelah Nyak Sandang dari Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya (dulu juga bagian Kabupaten Aceh Barat) sukses mencuri perhatian publik karena dengan obligasi yang dipegangnya Nyak Sandang bisa naik pesawat dan dijamu khusus oleh Presiden Jokowi di Istana Negara.

Dari Meulaboh dilaporkan, ada lima obligasi yang dipegang oleh enam ahli waris yang tersebar di beberapa kecamatan di Aceh Barat. Pemegang obligasi tersebut tercatat atas nama Mak Din yang kini diamankan oleh anaknya, Maksun di Desa Alue Tampak, Kecamatan Kaway XVI. Obligasi atas nama Mak Din bernilai Rp 4.500.

Selain itu, ada dua obligasi yang dipegang oleh tiga ahli waris di Kuala Bhee, Kecamatan Woyla dan dua lainnya dipegang oleh ahli waris di Desa Drien Rampak, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh.

Di Desa Drien Rampak, obligasi dipegang oleh Lina dan Agus, anak dan cucu dari Tgk Asef yang memberikan pinjaman Rp 4.600. Sedangkan obligasi atas nama Nasroddin Asef, putra dari Tgk Asef bernilai Rp 1.500. Pada kedua obligasi tersebut tertera tanggal 31 Agustus 1950 yang diterima oleh bupati kabupaten.

Sementara dua obligasi di Kuala Bhee tercatat atas nama Abdullah Sarong dengan jumlah Rp 800 tertanggal 31 Agustus 1950 dan atas nama Netroh Radin Rp 100 tertanggal 1 Juni 1946 yang diteken oleh Gubenur Sumatera. “Menurut data sementara kelima surat itu kini dipegang oleh ahli waris,” kata Zaenal Abidin, anggota DPRA asal Aceh Barat kepada Serambi, Jumat kemarin.

Laweung
Data penyumbang pesawat pertama RI juga muncul dari wilayah Pidie. Seorang warga bernama Ibrahim Laweung (53) mengaku punya surat obligasi keluaran tahun 1950. Satu obligasi atas nama kakeknya, Keuchik Abdullah dengan nilai sumbangan Rp 5.600, sedangkan satu lagi atas nama ayahnya, Sulaiman bin Abdullah dengan nilai Rp 3.000. Di kedua obligasi itu tertulis tanggal 22 Agustus 1950. Total nilai sumbangannya sangat fantastis, Rp 8.600.

“Dulu, sebelum beliau meninggal sempat saya tanya, berapa nilai riil saat sumbangan itu diberikan. Kata ayah, beliau menjual 50 ekor kerbau di Laweung untuk mendapatkan uang Rp 10.000 saat itu,” ungkap Ibrahim kepada Serambi, Jumat (23/3).

Aceh Besar
Seorang warga Desa Tanjung, Pagar Air, Aceh Besar, Muhammad Gade Ibrahim (52) mengaku mempunyai surat obligasi Pemerintah Indonesia keluaran tahun 1950 yang ditinggalkan oleh kakeknya, Tgk Ahmad dari Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie dan sang ayah bernama Ibrahim Ahmad.

“Dari kakek surat obligasi tersebut diberikan ke ayah saya, karena dari keturunannya tidak ada anak laki-laki lain. Maka jatuhlah ke saya sebagai ahli warisnya,” kata Muhammad Gade yang berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia, Kamis (22/3) memperlihatkan bukti surat obligasi tersebut. (riz/sak/una)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved