Wajah Baru Lakoni Prostitusi Online

Praktik prostitusi online yang kembali dibongkar Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan

Wajah Baru Lakoni Prostitusi Online
TRISNO RIYANTO, Kapolresta Banda Aceh

BANDA ACEH - Praktik prostitusi online yang kembali dibongkar Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh, Rabu (21/3) malam melibatkan wajah baru serta didominasi oleh mahasiswi perguruan tinggi di Kota Banda Aceh.

Hal itu diungkapkan Kapolresta Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto SH pada konferensi pers yang menghadirkan langsung germo dan tujuh perempuan yang terlibat praktik prostitusi.

Menurutnya, ketujuh wanita muda dan berparas cantik yang ditangkap tersebut, semuanya berasal dari Aceh, seperti Kota Banda Aceh, Simeulue, Aceh Tengah, dan Bireuen.

Bahkan, ketujuh wanita muda yang diduga PSK ‘berkelas’ itu belum pernah ditangkap sebelumnya oleh personel Polresta saat membongkar prostitusi online, Minggu, 22 Oktober 2017 dari sebuah hotel di wilayah Kota Banda Aceh.

“Ketujuh wanita yang diamankan ini merupakan pendatang baru, artinya belum pernah ditangkap sebelumnya. Bahkan lima dari tujuh wanita ini berstatus mahasiswi dan motivasi mereka bermacam-macam, mulai ada yang ingin tampil lebih modis serta menambah penghasilan,” kata Trisno.

Ia menduga praktik prostitusi online itu masih ada di Banda Aceh. Karena itu, persoalan tersebut diharapkan menjadi perhatian para pihak, terutama pemerintah, orang tua, keluarga serta pihak hotel untuk patuh dan taat dengan status Aceh yang memberlakukan syariat Islam dengan tidak memberi peluang serta kelonggaran bagi para pelanggar syariat. “Praktik prostitusi online ini baru terungkap setelah dua bulan kami menyelidikinya. Karena, pengungkapan ini butuh kesabaran ekstra dan kerja keras, karena praktik-praktik seperti ini yang dijalankan melalui online lebih rapi dan terorganisir. Karena itu, butuh kerja sama dan koordinasi semua pihak,” pungkas Trisno.

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, AKP M Taufiq SIK menambahkan, ketujuh wanita yang diamankan itu kini dititipkan di Rutan Lhoknga, Aceh Besar. Namun, dari ketujuh wanita ini, khusus Ayu (28), asal Simeulue yang tertangkap basah saat polisi melakukan undercover di salah satu kamar hotel di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar. “Sementara enam wanita lainnya dikenakan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat,” kata Taufiq.

Kasatpol PP dan WH Aceh Besar, Rahmadaniaty SSos MM menandaskan, Pemkab Aceh Besar akan memberikan peringatan keras kepada pihak hotel di Jalan Soekarno-Hatta yang tertangkap menyediakan tempat bagi praktik prostitusi. Kemungkinan hal itu dilakukan setelah proses penyidikan telah tuntas dilakukan di Polresta Banda Aceh.

Menurut Rahmadaniaty, seluruh hotel yang berada di wilayah Aceh Besar diperingatkan untuk tidak menyediakan ‘lahan’ prostitusi dan diminta untuk menghormati penegakan syariat Islam di Aceh.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Polresta Banda Aceh yang telah mengungkap kasus ini. Bahkan kami sendiri telah dua kali menggerebek hotel itu. Tapi, hasilnya nihil. Mungkin hal itu dikarenakan modus yang digunakan para pelaku saat ini lebih terkoordinir, melalui online. Sehingga para pelanggar syariat Islam mulai sulit dikenali. Apalagi, rata-rata penampilan mereka tidak begitu mencolok serta wajah baik-baik,” demikian Rahmadaniaty.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved