Droe Keu Droe

Jasamu Nyak Sandang

USIANYA sudah sangat senja 91 tahun, lelaki ini terdiam membisu menyimpan erat surat utang (obligasi)

Jasamu Nyak Sandang
Presiden Joko Widodo, Rabu (21/3/2018) malam, saat menerima Nyak Sandang beserta putranya di Istana Merdeka Jakarta.(Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden) 

USIANYA sudah sangat senja 91 tahun, lelaki ini terdiam membisu menyimpan erat surat utang (obligasi) yang diberikannya pada tahun 1950 bersama ayahanda tercinta untuk pembelian pesawat pertama indonesia yakni RI-001 dan RI-002 yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Maskapai Penerbangan Hebat Indonesia yakni Garuda Indonesia.

Nyak Sandang yang saat itu berusia 23 tahun menjadi bukti kunci sejarah bahwa Aceh pernah mencintai NKRI ini jauh dari yang dibayangkan sebelumnya. Wajah Aceh yang pernah memasuki konflik berkepanjangan selama lebih dari 30 tahun sebelum perdamaian terasa tidak kentara sama sekali ketika kita mengetahui bahwa sejarah pernah mengajarkan Aceh untuk senantiasa berdiri kokoh di balik Ibu Pertiwi.

Hal itu dikarenakan Ketaatan Aceh dan masyarakatnya terhadap para Umara (pemimpin) pada masa itu menjadi bukti nyata bahwa Aceh itu pernah memiliki peran dan andil yang sangat besar dalam mendukung berdiri tegaknya fondasi negara ini. Berkat jasa itulah Nyak Sandang kemudian diundang ke Istana Negara sembari bertemu langsung dengan pemegang kekuasaan negara yang menjabat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan yakni Presiden Joko Widodo.

Berkat Nyak Sandang dan para dermawan Aceh lainnya ketika itu, kini mata sang Garuda mulai terbuka lebar. Aceh adalah Indonesia, dan Indonesia adalah Aceh, menghargai Indonesia adalah menghargai Aceh, menghargai Aceh adalah menghargai Indonesia. Bila prinsip ini saling dijaga, maka tidak akan mungkin ada konflik bersenjata di Aceh.
Merawat perdamaian Aceh adalah merawat NKRI, jadikan Aceh sebagai aset yang tak ternilai, biarkan Aceh berdiri tegak di bawah sangsaka Merah Putih, biarkan Aceh hidup dengan kebiasaan dan tradisinya, biarkan otonomi khusus yang menggaunginya, biarkan ia menjadi Aceh yang seutuhnya, karena Aceh adalah Indonesia.

Erlanda Juliansyah Putra
Warga Aceh, saat ini tinggal di Jakarta. Email: erlandajuliansyahputra@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help