Tafakur

Menikmati Maksiat

Tak sedikit orang yang sangat menikmati hasil kemaksiatannya. Walaupun sudah tua, semakin hari, semakin

Menikmati Maksiat

Oleh: Jarjani Usman

“Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat” (HR. Ahmad).

Tak sedikit orang yang sangat menikmati hasil kemaksiatannya. Walaupun sudah tua, semakin hari, semakin merasa terbantu dan mulus untuk melakukannya. Pintu-pintu maksiat pun semakin terbuka dari segala arah. Uang haram masuk dari berbagai sudut. Bisa jadi, itulah pertanda orang yang sudah ditutup pintu hatinya dari kebenaran.

Seseorang yang sudah tertutup pintu hatinya akan merasa senang dengan maksiat, sebaliknya tak mampu melihat kebenaran. Nasehat dianggap musuh, sehingga orang-orang yang mencoba memberi nasehat akan dimusuhi. Sedangkan orang-orang yang menyetujui maksiatnya dijadikan orang-orang penting agar semakin menambah kekuatannya.

Sungguh itu sangat bertolak belakang dengan apa yang diminta dalam setiap shalat, khususnya saat membaca Surah Al Fatihah. Mendekati ujung surah tersebut, kita berdoa agar diberikan jalan yang lurus, yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang baik. Bukan jalan kehidupan orang-orang yang diazab Allah, karena gemar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

Jadi, orang-orang yang mengerjakan shalat tapi masih gemar bermaksiat pertanda ada yang tidak benar dengan shalatnya. Shalat yang benar akan menghalangi dia dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana disebutkan dalam Alquran: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar” (QS. Al `Ankabut: 45).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved