Guru Honorer Terabaikan

Nasib guru SMAN 1 Mesidah, Kecamatan Mesidah, Bener Meriah yang menabrak babi liar masih terabaikan

Guru Honorer Terabaikan
Anggota DPRA, Bardan Sahidi, kunjungi guru honorer yang tertabrak babi liar dikawasan Cemparan, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (31/3). SERAMBI/MUSLIM ARSANI 

* Kasus Tabrak Babi Liar di Cemarang

REDELONG - Nasib guru SMAN 1 Mesidah, Kecamatan Mesidah, Bener Meriah yang menabrak babi liar masih terabaikan, tanpa ada pejabat yang membezuk, walau insiden sudah lima hari terjadi. Dia telah diizinkan pulang, walau wajahnya masih berbalut perban seusai menjalani perawatan di RSUD Muyang Kute, Redelong selama lima hari.

Dia menjadi korban kecelakaan lalulintas tunggal, seusai menabrak babi liar yang tiba-tiba muncul di jalan menurun, kawasan Cemarang pada Senin (26/3) siang. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Bardan Sahidi langsung membezuk korban yang masih terbaring lemas di rumah orangtunya di Kampung Simpang Balik, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah, Jumat (30/3) pagi,

“Kita sangat menyayangkan insiden yang menimpa guru honorer di daerah terpencil seperti dialami Tata Ulfami, tertabrak babi liar saat pulang dari mengajar,” kata Bardan Sahidi, anggota Komisi III DPRA ini kepada Serambi, Sabtu (30/3).

Dia meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah untuk memberikan perhatian serius kepada guru honorer, terutama yang bekerja di daerah terpencil. Dia juga berharap adanya kenyamanan bagi guru honorer yang mengabdi di kawasan pedalaman yang setiap hari berjibaku dengan jalan yang dikelilingi hutan.

Dia meminta pemkab lebih proaktif untuk memberikan keamanan bagi para tenaga pendidik, sehingga, kejadian serupa tidak akan menimpa tenaga pendidik lainnya, ketika melaksanakan tugas didaerah terpencil di Kabupaten Bener Meriah.

“Hendaknya, Pemkab Bener Meriah dan pemangku kebijakan lainnya hendaklah berjibaku untuk mensterilkan kawasan yang kerap dilalui guru maupun siswa, hingga terbebas berpapasan dengan hewan-hewan liar, yang dapat membahayakan mereka di jalanan,” harapnya.

Dia telah menemui guru honorer Tata Ulfami di kediaman orang tuanya dengan kondisi fisik masih dalam keadaan lemah, setelah menjalani perawatan lima hari di RSUD Muyang Kute. “Saya lihat wajahnya masih tertutup perban, dan bicaranya belum terdengar jelas,” kata Bardan.

Ditambahkan, Tata juga belum tenang sebelum dapat mengajar lagi, karena dirinya merupakan satu-satunya guru yang mengajar Bahasa Inggris untuk seluruh kelas dan sebagai wakil kepala SMAN 1 Mesidah. Dia menegaskan babi di Mesidah sudah menjadi hama dan harus segera dibasmi, karena jga merusak tanaman.

“Selain Pemkab Bener Meriah, partisipasi masyarakat juga sangat diperlukan, karena untuk membasmi babi liar yang sudah menjadi hama di sana, semua pihak harus ikut serta, dikarenakan kondisi seperti ini sudah meresahkan masyarakat,” katanya.

Bardan mengungkapkan selama menjalani proses penyembuhan di RSUD Muyang Kute, Tata Ulfami belum pernah mendapat perhatian dari pemerintah ataupun pihak terkait. “Mungkin, karena status dia honorer, barangkali ini adalah bagian dari perjuangan beliau, tapi kita berharap pemerintah harus memberikan perhatian serius kepada guru yang rela mengabdi untuk kepentingan negara dan mencerdasan generas muda,” papar Bardan.

Disebutkan, guru honorer jenjang K2 tersebut, selain menahan sakit hingga kini, tapi juga harus tetap mengurusi dua anaknya yang masih balita. Bahkan, kata Bardan, Tata meminta setelah sembuh untuk tetap bekerja, “Ada satu permintaannya, sampai kapan dirinya akan diangkat menjadi PNS, karena sudah mengabdi belasan tahun dan berstatus honorer K2,” ujar Bardan.(c51)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help