Pantun, Nasibmu Kini

Bayangkanlah jika Anda harus berpantun untuk mendapatkan jodoh. Bayangkanlah pula jika Anda perlu merajut

Pantun, Nasibmu Kini
IST
Beberapa bait pantun jenaka.

Oleh: Muhammad Muis, Bahasawan; Kepala Balai Bahasa Aceh, Badan Bahasa, Kemdikbud

Bayangkanlah jika Anda harus berpantun untuk mendapatkan jodoh. Bayangkanlah pula jika Anda perlu merajut persahabat dengan berpantun? Kemudian, bayangkan pula jika dalam suatu komunitas orang bersosialisasi dan berekspresi dengan berpantun. Percayakah Anda bahwa pantun memang punya tempat di dalam tradisi sastra Nusantara, lebih spesifik dalam tradisi Melayu?

Arti Pantun
Apakah makna pantun? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima (2016), pantun didefinisikan “bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi”.

Contoh yang sering kali digunakan orang adalah: Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian, Bersakitsakit dahulu, Bersenang-senang kemudian; dan: Jika ada sumur di ladang, Boleh kita menumpang mandi, Jika ada umur panjang, Boleh kita bertemu lagi.

Pantun: Alat Ekspresi
Dewasa ini memang tidak banyak lagi daerah Indonesia yang mentradisikan pantundalam aktivitas kesehariannya. Wilayah Nusantara—terutama tanah Melayu—yang masih mentradisikan secara kental ihwal berpantun ini, misalnya Riau dan Riau epulauan, serta Aceh Tamiang dan Tanah Gayo, Takengon, Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Daerah yang disebutkan itu hinggasetakat ini—setahu penulis—masyarakatnya masih kerap menggunakan pantun atau syair.

Di Tamiang dan Gayo masyarakatnya bahkan dalam kesehariannya dalam aktivitas berbahasanya—baik bahasa Idonesia maupun bahasa daerah yang ada di Provinsi Aceh— sering kali menggunakan unsur syair dan pantun. Kita kerap kali tersenyum dan senang sekaligus tersentak mendengar unsur syair dan pantun itu masuk dalam aktivitas berbahasa sehari-hari. Tersenyum dan senang sebab percakapan-percakapan yang berlangsung akrab itu menjadi indah, elok, dan elegan, sekaligus juga menjadi bumbu dalam wacana percakapan itu.

Tersentak karena ada yang terasa lain, bahkan lucu dan aneh, susunan syair dan pantun nan indah itu ternyata masih eksis di tengah derasnya arus kemajuan iptek dewasa ini, di tengahnya merajanya teknologi informasi kala ini.

Pantun: Khazanah Sastra dan Budaya
Di dalam sistem kebudayaan—sebagaimanapernah disitir oleh Koentjaraningrat, seorang mahaguru Antropologi di Universitas Indonesia, Jakarta—ada banyak unsur budaya universal yang mendukungnya. Salah satunya adalah bahasa (dan sastra). Pantun adalah bagian dari sastra. Pengungkapannya menggunakan media bahasa, bahasa apa pun, baik bahasa setempat, bahasa Melayu, maupun bahasa
Indonesia.

Pantun pada masanya dulu dan hingga kini—khususnya untuk beberapa daerah— menjadi wahana untuk mengekspresikan berbagai hal. Di dalamnya terkandung banyak manfaat, seperti ajaran moral, pendidikan karakter, dan bahkan penekanan pada ihwal religiositas. Pantun merekam pelbagai potensi positif yang terdapat dalam suatu wilayah.

Pantun adalah khazanah kesusastraan dan sekaligus menjadi khazanah budaya Indonesia. Pantun telah dan akan terus memberikan kotribusi untuk sastra dan budaya. Oleh karena itu, pantun perlu mendapatkan perhatian bersama, baik dengan upaya revitalisasi pantun maupun upaya positif lainnya, supaya pantun tidak mati dan punah ditelan kuasa sejarah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved